Pembinaan Generasi Muslim Berdasarkan Konsep Nabawi

Tulisan ini disadur dari tulisan yang berjudul Fie At-Tarbiyah Al-Jihadiyah wal Bina’   Karya dari  Asy-Syaikh Dr.‘Abdullah ‘Azzam, 

Sesungguhnya segala puji itu milik Allah.  Kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampunan-Nya.  Dan kami minta perlindungan kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal-amal kami.  Barangsiapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya.  Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat menunjukinya.  Kami bersaksi tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.  Dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang telah menunaikan amanah, menyampaikan risalah serta memberikan nasihat kepada umat.  Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan atasmu wahai junjuganku, wahai Rasulullah.  Wahai engkau yang telah membina generasi Islam pertama, dan senantiasa generasi umat itu terbina berdasarkan petunjukmu.  Dan mudah-mudahan Allah meridlai semua sahabatmu serta para pengikutnya dan para pengikut-pengikutnya dengan baik sampai hari kiamat, ….

‘Amma ba’du :

Ya Allah tidak ada kemudahan kecuali apa yang telah Engkau jadikan mudah.  Dan Engkau jadikan kesedihan itu mudah manakala Engkau menghendakinya

Tarbiyah Nabi Terhadap Generasi Islam Yang Pertama.

Yang kami maksud dengan “Generasi Pertama” adalah para sahabat.  Adapun sahabat sendiri adalah orang yang bertemu dengan Nabi SAW, mereka muslim dan mati di atas keislaman.  Rabb mereka dan Nabi mereka menyanjung para sahabat.  Rabbul ‘Izzati memuji mereka.  Demikian pula Nabi SAW juga banyak menyanjung mereka.  Dalam surat Al Fath disebutkan :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

 “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”. (QS. Al-Fath  48: 29).

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan”. (QS. At Taubah 9: 117)

Al Qur’an telah bersaksi –sedangkan dalil Al Qur’an itu qath’i dan pasti– bahwa tigapuluh ribu sahabat yang ikut andil dalam perang Tabuk, mereka itu telah diampuni Allah.

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

 “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon”. (QS. Al-Fath 48: 18)

Adapun mereka yang ikut dalam Ba’iaturridwan itu berjumlah seribu empatratus orang.  Mereka itu, berdasarkan nash Al Qur’an telah diridlai  oleh Allah.

Dalam hadits shahih disebutkan :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

 “Sebaik-baiknya kurun (abad/masa) adalah kurunku, kemudian yang sesudahnya kemudian yang sesudah mereka”. (HR. Al Bukhari)[i]

Dalam hadits shahih dari riwayat Abu Sa’id Al Khudri disebutkan : Pernah terjadi pertengkaran antara Khalid bin Walid dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf.  Dalam pertengkaran tersebut Khalid mencacinya.  Maka Rasulullah SAW bersabda :

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَه

 “Janganlah kamu sekalian memaki salah seorang sahabatku.  Karena sesungguhnya sekiranya seseorang diantara kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, maka amalnya itu belum mencapai satu mud (kurang lebih 6 ons) seseorang diantara mereka atau setengahnya”. (HR. Ahmad, Al Bukhari dan Muslim). [ii]

Padahal seperti telah diketahui Khalid juga seorang sahabat.  Akan tetapi karena ‘Abdurrahman telah mendahului keislamannya serta persahabatannya, maka Rasulullah Saw marah kepada Khalid seraya mengatakan : “Sesungguhnya kemuliaan persahabatan ‘Abdurrahman wahai Khalid, jika engkau berinfak emas sebesar gunung Uhud, dan engkau juga seorang sahabat, maka amalmu itu tidak akan mencapai amalnya”.  Kendati Khalid sendiri telah mulai berinfak sebelum Futuh Makkah dan ikut serta berperang.

لا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا

 “Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu”. (QS. Al Hadid  57: 10)

 “Tidak akan masuk neraka, seseorang yang pernah berbaiat di bawah pohon (Baitur Ridwan)”. (HR. Muslim dalam Shahihnya)

Dalam shahih Muslim dari hadits Jabir disebutkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda :

Ibnu Mas’ud berkata : “Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya , maka Dia dapati hati Muhammad itu lebih baik dari hati seluruh hamba-Nya, maka Diapun memilihnya dan mengangkatnya sebagai Rasul untuk mengemban risalah-Nya.  Kemudian melihat hati hamba-hamba-Nya sesudah hati Muhammad Saw, maka Dia dapati hati para sahabatnya (Muhammad) itu lebih baik dari hati seluruh hamba.  Lantas mereka dijadikan oleh Allah sebagai pembantu-pembantu Nabi-Nya”

Ibnu Hajar berkata : “Umat Islam telah bersepakat bahwa kemuliaan sahabat itu tidak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun jua”.

Dalam buku Aqidahnya, Abu Ja’far Ath Thahawi mengatakan : “Dan kami mencintai para sahabat Rasulullah SAW dengan tidak mengurangi sedikitpun kecintaan kami atas seseorang diantara mereka, dan kami membenci siapapun yang membenci mereka atau mengatakan sesuatu yang tidak baik terhadap mereka dan kami tidak mengatakan tentang mereka kecuali yang baik.  Mencintai mereka adalah termasuk agama (dien), iman, dan ihsan, sedangkan membenci mereka adalah tindak kekufuran, kemunafikan dan melampaui batas”.

Golongan manusia pilihan yang mulia ini, dipilih oleh Allah Rabbul ‘Izzati untuk menguatkan agama-Nya dan membela syariat-Nya.

هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ

“Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu’mim”. (QS. Al Anfal 8: 62)

Bagaimana generasi satu-satunya dan prototipe yang unik dalam sejarah kemanusiaan secara keseluruhan ini keluar dan muncul dari antara dua sampul kitab ? Bagaimana mereka menterjemahkan ayat-ayat kepada manusia, sehingga berubahlah kata-kata tersebut menjadi manusia berasal dari daging dan darah ?  Dan engkau tidak dapat membedakan kehidupan nyata mereka dari ayat Al Qur’an manapun.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali Imran  3: 110)

Bagaimana mereka tumbuh berkembang sehingga menjadi generasi yang kuat dan matang dengan akarnya yang kokoh menghunjam ke dasar bumi.

أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا


“Akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya”.
(QS. Ibrahim : 24-25)

Apa sebenarnya prinsip-prinsip yang menjadi esensi pembinaannya ?  Apa dasar-dasar yang dipergunakan Murabbinya, Muhammad SAW untuk membina bangunan yang besar, mengagumkan dan mempunyai keteraturan yang unik.

Pokok-Pokok Tarbiyah Nabi saw Atas Generasi Islam Pertama.

Sungguh Nabi Muhammad SAW telah membina generasi yang unik ini di atas prinsip-prinsip.  Yang terpenting dalam pandangan kami adalah :

  1. Membatasi pembinaan hanya dengan Manhaj Rabbani saja.
  2. Memurnikan da’wah dari segala kepentingan duniawi dan manfaat-manfaat yang tidak kekal.
  3. Dimulai dengan membangun aqidah ummat sebelum membangun syari’at (hukum).
  4. Sejak pertama kali wujud pembinaannya adalah kelompok haraki (gerakan).
  5. Jelas benderanya dan terang tujuannya serta tidak bercampur aduk dengan pemikiran lain.
  6. Membina “Qaidah Shalabah” (Kelompok inti) yang dapat menopang seluruh bangunan.
  7. Memanfaatkan dan mempergunakan semua daya serta potensi yang ada.
  8. Mengukur bobot seseorang dengan mizan takwa.
  9. Pembinaan melalui celah-celah peristiwa dan aktifitas yang konkrit.
  10. Al Jihad
  11. Menanamkan kepercayaan dalam lubuk hati akan pertolongan Allah
  12. Uswah Hasanah dan kepemimpinan yang beramal nyata.
  13. Bersikap lembut dan penyayang, bukan kasar dan menyakitkan.
  14. Berwawasan jauh ke depan, khususnya dalam perubahan dari satu fase ke fase yang lain.
  15. Para sahabat Ra menerima perintah untuk dilaksanakan dan ditindakan.

Sebelum saya memulai keterangan pokok-pokok tersebut secata terperinci, maka ada baiknya saya kemukakan mengenai segi manfaat yang dapat diambil dengan mengetahui konsep nabawi dalam tarbiyah ini.  Dengan mengetahui Manhaj ini maka banyak manfaat yang dapat diambil, khususnya bagi mereka yang hendak menegakkan dien Allah di muka bumi dan menumbuhkan masyarakat muslim dalam kehidupan yang nyata sesudah masyarakat tersebut lenyap dari pandangan dan lenyap dari wujudnya.

Manfaat-manfaat yang penting antara lain :

Pertama : Dapat mengetahui Manhaj (konsep) pemikiran Islam dalam menegakkan daulah.  Sebab manhaj pemikiran dan gerakan untuk menegakkan Islam tidak kurang nilainya dan tidak kurang pentingnya dari manhaj kehidupan dan tidak terpisah daripadanya.  Sebagaimana Dien ini sendiri dari sisi Allah, maka cara yang ditempuhnya pertama kali juga dari sisi Allah.

Kedua : Untuk mengikuti jalan Rabbani ini dalam membela Dien Allah dan mengokohkan syari’atNya dalam kehidupan.  Disamping itu agar tetap konsisten di atas jalan tersebut.

وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

 “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Hud 11: 120)

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka”. (QS. Al An’am 6: 90)

Jalan itulah yang ditempuh oleh Rasulullah SAW pertama kalinya sehingga Dien (agama) ini mendapatkan kemenangan dan sekali-kali agama ini tidak akan bangkit kembali ke muka bumi kecuali dengan cara tersebut.

Ustadz Sayyid Quthb berkata : “Pemeluk agama ini harus benar-benar mengetahui  bahwa agama ini dzatnya adalah Rabbani, maka manhaj operasionalnya juga Rabbani berjalan paralel dengan tabi’atnya.  Dan tidak mungkin memisahkan agama ini dari manhaj operasoinalnya.  Jika kita telah mengetahui manhaj operasionalnya, maka hendaknya kita tahu juga bahwa manhaj ini adalah manhaj yang fundamental, bukan manhaj kontemporer, geografis ataupun manhaj kondisional, khususnya dalam menghadapi problema-problema jama’ah Islam  yang pertama.  Sesungguhnya ia merupakan manhaj, dimana bangunan agama ini tidak akan tegak kapanpun juga kecuali dengannya.  Sesungguhnya berpegang teguh dengan manhaj  tersebut merupakan perkara yang sangat vital, seperti halnya berpegang teguh pada sistem Islam pada setiap gerakan”.

Ketiga : Dapat mengetahui keagungan panglima pembimbing (Nabi SAW) yang telah mempraktekkan manhaj tersebut dan mengetahui keagungan para pasukan yang telah melaksanakan manhaj tersebut.

Rasulullah SAW telah melahirkan, dalam waktu yang relatif singkat, sebuah generasi yang terdiri dari pemimpin-pemimpin ulung dan kenamaan.  Panglima-panglima militer yang digembleng Nabi SAW, jumlah mereka lebih banyak daripada semua panglima militer sepanjang sejarah Islam.  Demikian juga beliau memunculkan generasi pemimpin, politikus, administrator, pembimbing, pengajar, hakim dan penguasa.  Jika ada seorang yang mampu menelorkan satu segi dari segi-segi tersebut, pastilah namanya akan ditulis dalam kelompok orang-orang abadi yang dikenang.  Lalu bagaimana halnya dengan orang yang dapat menggabungkan semua itu ?  Sesungguhnya ia benar-benar merupakan kebesaran Nubuwah sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Abbas r.a.

Sekarang, marilah kita kembali membicarakan tentang fondasi-fondasi yang dipergunakan Rasulullah SAW dalam menegakkan bangunan yang sangat besar tersebut.

Fondasi (dasar) yang pertama:

Membatasi Pembinaan Hanya dengan Manhaj Rabbani Saja.

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Ali ‘Imran 3: 164)

Adapun yang dimaksud dengan Al Kitab dalam ayat tersebut adalah Al Qur’an, sedangkan Al Hikmah adalah AS Sunnah.  Rasulullah Saw membatasi tarbiyah para sahabatnya dengan Al Qur’an dan As Sunnah.  Beliau marah ketika melihat lembaran kitab Taurat ada di tangan ‘Umar.  Beliau berkata :

فَإِنَّهُ لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي[1]

“Demi Allah, sekiranya Musa hidup ditengah-tengah kalian, maka tidak halal baginya (mengikuti Taurat), melainkan ia harus mengikutiku”.

Dalam riwayat Imam Ahmad dikatakan :

وَالَّذِى نَفْسِ محمد بِيَدِهِ، لَوْ أَصْبَحَ فِيكُمْ مُوسَى ثُمَّ اتَّبَعْتُمُوهُ وَتَرَكْتُمُونِى لَضَلَلْتُمْ، أنتم حَظِّى مِنَ الأُمَمِ، وَأَنَا حَظُّكُمْ مِنَ النَّبِيِّينَ.

 “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditangan-Nya.  Seandainya Musa berada diantara kalian, kemudian kamu mengikutinya, pasti kalian akan sesat.  Ketahuilah sesungguhnya kamu adalah bagianku diantara umat-umat yang lain.  Dan aku adalah bagian kalian diantara nabi-nabi yang lain”.[iii]

Oleh sebab itu, Dienul Islam sangat antusias dalam mewujudkan manhaj Rabbani itu di muka bumi, supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.  Demikian juga Islam sangat antusias dalam mewujudkan keadilan diantara manusia dan menanamkan nilai Ilahiyah itu dalam kehidupan insan.

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

 “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan”. (QS. Al Hadid 57: 25)

Jadi tujuan dari nubuwah (diutusnya nabi-nabi) ialah mewujudkan kebenaran diantara manusia dan menyebarkan keadilan itu diantara mereka. Oleh karena itu, dalam pandangan agama Allah, mengkritik seseorang dan menerangkan kesalahan serta kekeliruan mereka itu jauh lebih ringan dibandingkan meluruskan seseorang yang mengabaikan manhaj tersebut dan menyimpang dari jalannya.

Rabbul ‘Izzati tidak membiarkan kemasaman muka Rasulullah SAW terhadap ‘Abdullah bin Ummi Maktum, orang yang buta, ketika beliau tengah sibuk mendakwahi golongan elite dari pemimpin Quraisy.

Saya katakan : “Rabbul ‘Izzati tidak membiarkan keadaan berjalan demikian, maka Dia mencela kekasihnya-Nya Nabi Muhammad SAW[iv] dengan celaan yang keras dengan menurunkan surat yang memuat nama ‘Abasa (ia bermuka masam).  Celaan itu mencapai puncaknya pada kata “Kalla” (sekali-kali jangan demikian), sedangkan ia adalah kata pelanggaran dan cegahan”.

Allah Rabbul ‘Izzati telah menurunkan sepuluh ayat yang jelas dalam surat An-Nisaa’ mengenai bebasnya seorang Yahudi dari tuduhan yang didakwakan kepadanya, dan menetapkan dakwaan tersebut kepada salah seorang penduduk Madinah yang memeluk agama Islam.  Dia adalah, Tha’mah bin Ubairiq.  Yang demikian itu karena kekekalan manhaj tersebut lebih baik daripada eksistensi seribu orang yang berjalan di atas manhaj yang menyimpang dan bengkok.

Oleh sebab itu kepemimpinan dalam agama (dien) ini bersifat Rabbani yang tercermin dalam pribadi Rasulullah SAW, manhajnya Rabbani, tercermin  dalam Al-Qur’an dan As-sunnah, wasilahnya Rabbani.  Rasulullah SAW tidak mau menerima, sesudah perjanjian Hudaibiyah, penggabungan diri Abu Jandal bin Suhail bin ‘Amru maupun Abu Bashir[v] setelah mereka berhasil lolos dari Mekkah, melarikan diri dari penindasan dan penyiksaan kaum Quraisy.  Beliau mengembalikan dua orang tersebut kepada Quraisy, karena tidak ingin melanggar jaminan yang telah diucapkannya maupun membatalkan perjanjian yang telah dijalinnya dengan kaum Quraisy, yakni beliau dalam perjanjian tersebut diminta untuk mengembalikan orang yang datang kepadanya dari fihak mereka.

Untuk itu, maka hendaknya para da’i Islam betul-betul memperhatikan tentang masalah (Rabbaniyah atau wasilah-wasilah berdasarkan cara syar’i).  Banyak diantara mereka yang menempuh cara yang menyimpang serta sarana-sarana yang tidak lempang demi mencapai tujuan yang mereka sebut dengan nama mashlahat da’wah.  Sehingga terkadang seorang da’i berbohong dengan alasan kepentingan da’wahnya.  Terkadang mengzhalimi manusia jika mereka berselisih dengan pengikut-pengikutnya. Itu semua berbahaya dan salah, karena hal itu merupakan penyimpangan dari manhaj dalam soal keadilan bahkan akan membawa akibat lenyapnya harakah itu sendiri.

Sesungguhnya maslahat da’wah Islamiyah adalah seorang da’i menyembah Allah dengan pedoman dien yang telah diturunkanNya, seorang da’i menyembah Allah berdasarkan syari’at-Nya, dan seorang da’i berpegang pada prinsip-prinsip keadilan dan menyebarkannya di permukaan bumi.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

 “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”. (QS. An Nisaa’ 4: 135)

Apabila engkau ditanya tentang seorang pengikut da’wahmu yang telah makan riba.  Kemudian engkau telah pasti akan kebenaran berita tersebut, maka janganlah kamu menyibukkan dirimu untuk mencari-cari alasan atau menta’wilkan nash-nash Al-Qur’an untuk mencairkan masalah keharaman riba yang telah qath’i demi membela pengikut da’wahmu itu.

Fondasi yang kedua:

Memurnikan Dakwah Dari Segala Kepentingan Duniawi dan Dari Manfaat-Manfaat Yang Tidak Kekal.

Semua rasul diutus untuk mengumandangkan syi’ar ini :

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

 “Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam”. (QS. Asy Syu’ara 26: 127)

Ayat ini diserukan oleh semua nabi, dan diucapkan pula oleh Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shaleh, dan Nabi Syu’aib as. dalam Surat Asy-Syu’ara.  Sesungguhnya jiwa manusia itu akan merasa segan atas orang yang biasa memberikan sesuatu kepadanya, maka dari itu tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah.

//Allah akan murka jika engkau tidak meminta kepada-Nya.   Sedangkan anak Adam, ketika diminta dia marah //

Para Nabi dan para da’i wajib menjauhkan diri dari keduniaan manusia, sehingga mereka mau menerima da’wahnya.  Karena itu tak pernah sekalipun Rasulullah SAW menjanjikan fasilitas keduniawian kepada salah seorang pengikutnya atau ingin segera orang yang diajaknya itu masuk Islam dan beriman kepadanya.  Dahulu, ketika beliau melewati keluarga Yasir yang tengah mendapat siksaan, maka beliau hanya mengucapkan :

اصْبِرُوا آلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ موعدكم الْجَنَّة

 “Bersabarlah wahai keluarga Yasir!  Karena sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah Jannah”.[vi]

Tak pernah beliau membujuk dan menjanjikan kepada mereka dengan  harta dunia, kekuasaan, jabatan ataupun kepemimpinan.  Karena itulah ketika beliau mengemukakan da’wahnya kepada bani ‘Amir bin Sha’sha’ah dan berdiri salah seorang diantara mereka yang bernama Buhairah bin Farras, seraya berkata : “Bagaimana jika kami berbai’at kepadamu atas perkaramu, kemudian Allah memenangkanmu atas orang-orang yang menentangmu, apakah urusan itu akan menjadi milik kami sesudahmu ?”.

Maka Rasulullah SAW menjawab : “Perkara itu milik Allah, Dia menempatkan di tempat manapun yang dikehendaki-Nya”.

Mendengar jawaban Rasulullah SAW, maka bani ‘Amir menolak da’wahnya.  Padahal pada waktu itu beliau benar-benar membutuhkan pertolongan salah seorang diantara mereka.

Allah Rabbul ‘Izzati tidak memberitahukan kepada Rasul-Nya bahwa agama ini akan mendapat kemenangan lewat perantaraan tangannya.

فَإِمَّا نَذْهَبَنَّ بِكَ فَإِنَّا مِنْهُمْ مُنْتَقِمُونَ
أَوْ نُرِيَنَّكَ الَّذِي وَعَدْنَاهُمْ فَإِنَّا عَلَيْهِمْ مُقْتَدِرُونَ

 “Sungguh, jika Kami mewafatkan kamu (sebelum kamu mencapai kemenangan) maka sesungguhnya Kami akan menyiksa mereka (di akhirat). Atau Kami memperlihatkan kepadamu (adzab) yang telah Kami (Allah) ancamkan kepada mereka. Maka sesungguhnya Kami berkuasa atas mereka”. (QS. Az Zukhruf  43: 41- 42)

Namun Rasulullah SAW merasa yakin bahwa agama ini akan menang meskipun panjang masanya.  Pada waktu Bai’atul Aqabah Kedua bagi golongan Anshar, beliau bersabda :

“Aku membai’at kalian atas : Kalian melindungiku seperti halnya kalian melindungi istri-istri kalian dan anak-anak kalian”.  Mereka bertanya, “Apa yang kami dapatkan ya Rasulullah, jika kami penuhi bai’at tersebut?”.  Beliau menjawab : “Jannah”.  Mereka berseru : “Jual beli yang menguntungkan, kami tidak akan membatalkan dan tidak akan minta dibatalkan”.[vii]

Bagi mereka yang bekerja untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi perlu mengetahui perkara ini. Bahwa da’wah itu hanya pantas dilakukan oleh orang-orang yang hatinya bersih dari segala tendensi, jika tidak demikian maka da’wah itu akan berubah menjadi tangga bagi orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dan menjadi ajang bisnis bagi sekelompok kaum.  Dan mereka harus tahu, bahwa uluran tangan mereka kepada para penguasa dan para hartawan akan menjatuhkan da’wah mereka di hati penguasa dan para hartawan  dan menanamkan bibit kebencian dalam hati rakyat jelata pada diri mereka dan da’wah mereka.  Maka dari itu orang-orang “Mushlih” (yang memperbaiki kerusakan) sangat menjauhkan diri mereka dari dunia pada penguasa dan para pejabat.  Mereka mengatakan : “Sejelek-jelek ulama adalah mereka yang paling dekat dengan para penguasa.  Dan sejelek-jelek pemimpin adalah mereka yang paling jauh dari ulama”.

Ibnul Mubarak berkata :

“Hai orang yang menjadikan agama sebagai alat baginya untuk memburu harta kekayaan para penguasa”.

Tatkala Allah ‘Azza wa Jalla menguji para sahabat lalu mereka bersabar atas ujian tersebut, dan Allah mengetahui akan kekosongan jiwa mereka dari segala ambisi dan Dia tahu bahwasanya mereka tidak mengharapkan balasan di dunia ini sepanjang eksistensi mereka, dan Allah tahu bahwa mereka menjadi orang-orang yang dapat dipercaya menjaga syari’at-Nya, maka Allah pun memberikan kekuasaan kepada mereka di bumi, dan meletakkan “Amanah yang besar” itu diantara kedua tangan mereka.[viii]

Fondasi yang ketiga:

Membangun Aqidah Umat sebelum Membangun Syari’at (Tathbiq Syari’at)

Ayat-ayat Al-Qur’an Makkiyah turun selama tiga belas tahun menjelaskan kalimat “Laa ilaaha illallah”,  menjelaskan aqidah, sehingga aqidah tersebut tertanam ke dalam jiwa.  Yang demikian itu karena agama ini seluruhnya tegak di atas kalimat “La Ilaaha Illallah”.  Semua perundang-udangannya, perincian dan hukum-hukumnya tegak diatas prinsip Uluhiyah.

Agama ini ibarat sebuah pohon yang akarnya menghunjam ke dasar bumi dan cabang-cabangnya besar. Apabila pohon itu besar, maka akar pohon tersebut harus betul-betul dalam, agar dapat menopang besarnya pohon itu.  Demikian pula akar-akar agama, yakni “La Ilaha Illallah” – haruslah merupakan iman yang menancap dalam-dalam ke dasar hati sehingga dapat menopang pohon agama ini seluruhnya.  Karena itu orang-orang  yang menyangka (yakni orang-orang yang menyeru manusia kepada agama Allah) bahwa mengemukakan sistem ekonomi Islam, atau sistem sosial menurut Islam, atau sistem politik Islam, atau sistem akhlak (etika) Islam kepada manusia dapat membuat mereka menyukai Islam dan dapat membuat mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka itu tidak memahami tabi’at agama ini dan tidak pula mengetahui hakikat dari manhaj operasionalnya.

Wahai saudara-saudaraku !

Kita mendakwahi manusia dan semua manusia bukan dengan membuat mereka tertarik pada cabang-cabang Islam, akan tetapi menda’wahi mereka dengan cara menanamkan aqidah ke dalam hati mereka.  Sesudah aqidah tersebut tertanam di hati mereka maka otomatis mereka akan mengerjakan segala sesuatunya.  Adapun jika kita menyeru mereka dengan aspek-aspek yang ada di dalam Islam seperti misalnya hukum shalat, hukum wudhu’, hak dan kewajiban kaum wanita, keadilan dan lain-lain, maka persoalan tersebut akan menjadi ruang pembicaraan terus-menerus bagimu.  Dan setiap hari mereka akan mengajukan berbagai macam pertanyaan yang harus engkau jawab.  Ketahuilah, bukan seperti ini cara yang ditempuh agama Islam untuk pertama kalinya.  Sesungguhnya mereka yang berusaha untuk menarik manusia kepada agama Allah dengan jalan mengenalkan mereka kepada sistem ekonomi atau sistem sosial sebelum mengenalkan mereka dengan “La ilaha ilallah” , maka mereka itu seperti orang-orang yang menebarkan bibit tanaman di udara lantas menunggu-nunggu bibit itu tumbuh menjadi pohon di udara.

Fondasi yang keempat:

Jelas Benderanya dan Terang Tujuannya serta Tidak Bercampur Dengan Pemikiran Lain. 

Karena itu, ketika kaum Quraisy menawarkan beliau untuk bergantian menyembah tuhan-tuhan mereka setahun dan mereka akan menyembah Allah setahun, maka Nabi SAW berkata kepada mereka :

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir!”  Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”. (QS. Al Kafirun 109: 1-2)

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)”. (QS. Ghafir 40: 14)

Kita wajib mengumandangkan tujuan kita sejak pertama kali melangkah, kita tidak boleh bersembunyi (berkamuflase) di bawah bendera nasionalisme untuk menyampaikan agama kita kepada manusia.  Dan kita tidak boleh bersembunyi di dalam Partai Politik kufur untuk memberikan manfaat bagi dien kita, dan kita tidak boleh masuk organisasi sosialis supaya kita dapat menyampaikan da’wah kita, dan kitapun tidak boleh masuk yayasan-yayasan buatan manusia dengan persangkaan bahwa dengan jalan itu kita akan mampu untuk berkhidmat kepada dien ini dan menegakkannya.

Sesungguhnya percampuran tujuan sejak pertama kalinya akan menyesatkan jalan kita dan menyesatkan jalan manusia.  Dan mereka tidak tahu apa yang mereka ikuti.  Karena itu Rasulullah SAW sejak awal telah memproklamasikan tujuannya kepada orang-orang Quraisy : “Sembahlah olehmu sekalian, Allah, dan tidak ada bagi kamu ilah selainNya”  Dan Nabi Saw terus menerus menyeru kepada pengikutnya untuk memegang prinsip tersebut dalam perasaan dan hati mereka, sejak bermulanya da’wah sampai beliau bertemu Rabbnya.  Dan beliau senantiasa menyeru kepada pengikutnya supaya tidak menyerupakan diri dengan orang-orang kafir.  Beliau bersabda :

“Barangsiapa menyerupakan diri dengan suatu kaum, maka ia termasuk diantara mereka”

Tatkala para sahabat mengajukan permintaan kepada beliau : “Buatkanlah kami anwath (yakni pohon yang dipakai oleh orang-orang jahiliyah untuk menggantungkan senjata), sebagaimana mereka”,  maka Rasulullah SAW betul-betul marah, lantas beliau bersabda

 

“Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (jejak) orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, hasta demi hasta, depa demi depa; sehingga andaipun salah seorang diantara mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalianpun akan memasukinya”. [ix]

Karena itu, Rasulullah SAW melarang kaum muslimin meniru-niru orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang kafir dalam hal ibadah, pakaian dan tunggangan.  Jika anda mau, maka bacalah kitab “Iqtidha Ash Shirathal Mustaqim fie Mukhalafati Ash-habul Jahim” , karangan Imam Ibnu Taimiyah.

Umat Islam telah dibatasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam hal penopang-penopangnya, dan menjadikannya sebagai satu-satunya penopang, yakni menjadikan aqidah sebagai kebangsaannya, Darul Islam sebagai tanah airnya, Rabbnya sebagai penguasa tunggal dan menjadikan Al-Qur’an sebagai undang-undangnya.  Penggambaran tentang tanah air, kebangsaan dan kekeluargaan yang amat tinggi inilah yang mesti tertanam dalam jiwa da’i yang menyeru manusia ke jalan Allah.  Sehingga pokok persoalannya menjadi jelas, dimana da’wah tersebut tidak tersusupi ke dalamnya syirik khufyah (syirik  yang tersembunyi).  Syirik dengan bumi, syirik dengan kebangsaan, syirik dengan kerakyatan, syirik dengan nasab/keturunan, syirik dengan manfaat-manfaat kecil yang cepat diraih.

Rasulullah SAW telah menyatakan dengan tegas perihal qaumiyah (kebangsaan/ kerakyatan) : “Tinggalkanlah kebangsaan itu karena sesungguhnya ia adalah sesuatu yang busuk baunya”. Sesuatu yang menebarkan bau yang memualkan dan memuakkan.  Maka beliau berkata kepada mereka yang mengucapkan kata-kata busuk lagi sia-sia itu :

 “Hendaklah kaum yang membanggakan nenek moyang mereka itu menghentikan (perbuatannya) atau mereka itu menjadi kaum yang lebih hina di hadapan Allah daripada seekor gambreng”.

Gambreng adalah serangga  yang lebih kecil daripada jangkerik yang kebiasaannya menggelindingkan kotoran (manusia/binatang lain) dengan ujung tanduknya yakni seperti orang-orang Ba’ats dan orang-orang nasionalis serta konco-konconya.  Mereka itu serupa dengan gambreng-gambreng yang teronggok di tong-tong kotoran kebangsaan.

Fondasi yang kelima :

Membangun Qa’idah Shalabah (Kelompok Inti).

Qa’idah shalabah ini menjadi fokus pembinaan Nabi SAW dalam tempo yang lama.  Dari kelompok ini muncul tokoh-tokoh berkualitas, seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, Mush’ab, Hamzah, dan lain-lain.  Kelompok  yang dibina di Madinah Munawarah ini, pada saat terjadinya kemurtadan massal di wilayah jazirah Arab  yang telah dikuasai Islam, dapat mengembalikan seluruh jazirah kepada kendali kekuasaan Islam, dikarenakan  kuat dan solidnya kelompok tersebut.

Kelompok inilah yang telah melahirkan tokoh sekaliber Abu Bakar, dimana pada saat beberapa kabilah Arab menolak membayar zakat (sepeninggal Nabi saw), dia berdiri dan berkata dengan tegas, “Demi Allah, sekiranya mereka mencegahku untuk memungut anak kambing (dalam riwayat lain dikatakan onta betina) yang dahulu mereka bayarkan kepada Rasulullah SAW, pasti aku akan memerangi mereka, atau aku akan binasa karenanya”.  Ketika salah seorang dari kelompok itu  yang semisal dengan  Abu Bakar, membujuknya supaya bersikap lebih lunak dan mempertimbangkan kembali keputusannya, maka yang dikatakannya adalah : “Demi Allah, sekiranya binatang-binatang buas masuk ke  kota Madinah dan menyeret kaki isteri-isteri Nabi SAW dari rumah mereka, aku tetap tidak ragu dan tidak akan berhenti”.

Bagaimana kelompok ini dibangun ? Bagaimana qa’idah shalabah ini dibina ? Bagaimana prototipe yang tinggi ini dibangun ?  Kelompok ini, bangunan yang besar ini, semuanya ditegakkan diatas empat penopang saja Oleh sebab itu,  Rasulullah SAW sangat memperhatikan pembinaan penopang-penopang ini:

Pertama : Lamanya penggemblengan.  Kita harus tahu apa maksud dari lama pengemblengan itu?  Yaitu lamanya pengemblengan  seorang komandan terhadap prajurit-prajurit yang berada di sekelilingnya.  Dari Darul Arqam, tempat dimana beliau menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membina generasi pilihan.  Kemudian hijrah, ketika beliau memerintahkan setiap mu’min berhijrah bersamanya, agar mereka dapat berada di sekelilingnya untuk mendapatkan pengarahan dan bimbingan.

Ketika ada seorang Arab Badui datang kepadanya, beliau meminta untuk memberikan bai’at (janji setia)nya untuk tinggal di Madinah — adalah beliau saw membai’at orang-orang sesudah hijrah untuk tetap tinggal di Madinah– Lantas Arab Badui itu memberikan bai’atnya untuk tetap tinggal di Madinah.  Beberapa hari kemudian dia mereka tidak betah.  Akhirnya dia datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Tariklah bai’atku”.  Namun Rasulullah SAW menolaknya.  Lantas orang tersebut nekad dan meninggalkan Madinah.  Maka Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya Madinah ini seperti peniup api pandai besi yang menghilangkan kotorannya dan memurnikan kebaikannya”. (HR. Al Bukhari dalam Shahihnya).

Jika demikian yang dimaksud dengan lamanya penggemblengan adalah lamanya waktu tarbiyah (pembinaan).

 Kedua: Pembinaan ruhani/mental.

Pembinaan ruhani dapat dicapai dengan banyak sarana.  Yang terpenting pada permulaannya adalah Qiyamul Lail (shalat tahajjud).

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلا أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلا ثَقِيلا

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”. (QS. Al Muzzamil 73: 1-5)

Semua ini diperintahkan supaya jiwa Nabi SAW dapat memikul perkataan berat tersebut.  Pada permulaan da’wah, qiyamul lail merupakan perkara wajib atas Nabi SAW dan para sahabatnya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ إِنَّا لا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ

“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan”. (QS. Al A’raf 7: 170)

Dua penopang pokok bagi orang-orang yang mengadakan perbaikan (mushlih), yakni: berpegang teguh kepada Al Kitab dan mendirikan shalat.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”. (QS. Al Baqarah 2: 45)

وَلا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. (QS. Al Baqarah 2: 154)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. (QS. Al Anfal 8: 45)

Di medan pertempuran hendaklah kamu menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya agar kalian mendapatkan kemenangan. Rasulullah SAW senantiasa berdzikir kepada Allah setiap saat.[x]  Apabila beliau keluar dari kamar mandi/kamar kecil, beliau selalu mengucapkan do’a:

“Ampunilah kami ya Allah”. [xi]

yakni Ampunilah aku ya Allah, dari selang waktu terputusnya dzikir ku kepadaMu.

Demikian juga, menyebarkan rasa kecintaan sesama sahabatnya serta menanamkan sifat mengutamakan kepentingan bagi saudara-saudaranya se-dien (seagama).

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Mereka (orang-orang Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al Hasyr 59: 9)

Demikian juga menyebarkan rasa percaya diantara mereka.  Adalah Rasulullah SAW, apabila ada seorang sahabat datang kepadanya berbicara mengenai kekurangan salah seorang sahabat yang lain, maka beliau bersabda kepadanya :

“Janganlah salah seorang sahabatku menyebut aib sahabat yang lain kepadaku, sesungguhnya aku lebih suka keluar menjumpai kalian dalam keadaan salamatush shadr (lapang dada)”. (Hadits Hasan riwayat Abu Dawud).

Hendaknya para da’i memperhatikan persoalan ini.  Mereka yang mencabik-cabik daging saudaranya atas nama mashalahat da’wah, atas dalil mengenal para pengikut da’wah dan mereka yang memandang sebelah mata kehormatan seseorang: “Janganlah salah seorang sahabatku menyebut aib sahabat yang lain kepadaku, sesungguhnya aku lebih suka keluar menjumpai kalian dalam keadaan lapang dada”.

Demikian pula, Rasulullah SAW menyebut kebaikan-kebaikan para sahabatnya ketika melakukan kesalahan, ketika Hathib bin Abu Balta’ah melakukan kesalahan, yakni mengirimkan sebuah surat kepada kaum Quraisy mengenai rencana Nabi SAW, maka ‘Umar bin Khaththab berkata kepada Rasulullah SAW : “Wahai Rasulullah SAW, izinkanlah aku memenggal leher orang munafik ini?”

Beliau bersabda : “Hai ‘Umar, tidakkah engkau mengetahui bahwa dia ikut serta dalam Perang Badar.  Seakan-akan Allah melihat isi hati para ahli Badar, lalu Dia berfirman : “Lakukanlah sekehendak kamu, sesungguhnya Aku telah memberikan ampunan bagimu”. [xii]

Fondasi keenam :

Memanfaatkan Semua Potensi Tanpa Memberatkan Mereka Namun Bersikap Kasih Kepada Mereka.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”. (QS. At-Taubah 9: 128)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada orang-orang beriman :

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الأمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الإيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu”. (QS. Al Hujurat 49: 7)

Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh”. (QS. Al A’raf  7: 199)

(Jadilah pemaaf (pemudah atas manusia), perintahkanlah mereka mengerjakan sesuatu yang memungkinkan mereka dapat mengerahkan segala potensi dan kemampuannya, dan jangan engkau bebani mereka dengan perkara yang susah sehingga menyulitkan dan menyempitkan mereka.  Dahulu ketika Rasulullah SAW hendak mengutus seseorang menjadi mata-mata pada malam peperangan Khandaq, maka beliau memilih diantara mereka dengan cara lembut dan bijaksana.  Pertama kali beliau menawarkan tugas tersebut kepada segenap sahabat.  Setelah tidak ada yang berdiri menyanggupi, barulah beliau memilih salah satu diantara mereka.  Beliau menawarkan ; “Siapa yang mau pergi untuk mencari informasi mengenai kekuatan musuh untuk kami dan kemudian kembali lagi.  Aku akan menjamin ia masuk surga”.  Tak seorangpun beranjak dari tempatnya, padahal diantara mereka itu ada Abu Bakar dan ‘Umar.  Kemudian beliau mengulangi lagi tawaran itu untuk yang kedua kali.  Karena tidak ada lagi yang menyanggupi, maka beliau mengulangi untuk yang ketiga kalinya.  Ketika beliau mendapati bahwa tiada alternatif lain kecuali menyebut nama salah satu diantara mereka, maka bersabarlah beliau : “Bangkitlah kau wahai Hudzaifah !”  Hudzaifah bercerita : “Maka aku bangun, ketika itu aku memakai pakaian bulu milik istriku –dia tidak mempunyai baju- dan aku menggigil kedinginan.  Kemudian aku berjalan, seolah-olah aku berjalan menuju kematian”.[xiii]

Beliau memilih Sa’ad untuk memimpin pasukan, Mush’ab dipilihnya untuk tugas da’wah, Bilal dipilihnya untuk urusan adzan, Ubay dipilihnya untuk mengajarkan Al-Qur’an, Abu Bakar dan ‘Umar dipilihnya untuk bersya’ir.  Adalah Nabi SAW menempatkan setiap orang pada posisi yang layak untuknya.  Beliau berkata kepada Hasan :

“Bantahlah atau ejeklah mereka (dengan  sya’irmu), sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) bersamamu”.

Tak pernah Nabi memilih Hasan untuk memimpin perang, dan tak pernah beliau memilih Sa’ad untuk bersya’ir.  Dan beliau senantiasa menempatkan seseorang pada posisi yang tepat

Fondasi yang ketujuh:

Mengukur Bobot Seseorang Dengan Mizan Taqwa.

Ibnu Mas’ud di hadapan Allah betisnya lebih berat daripada gunung Uhud.  Berfirman Rabbnya ketika berapa pembesar Quraisy mengajukan usul untuk mengadakan majlis bersamanya saja, karena mereka malu duduk bermajlis bersama para budak –maksudnya adalah Bilal, ‘Ammar, Shuhaib dan Salman.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (QS. Al Kahfi 18: 28)

Pernah Bilal dan Shuhaib melewati Abu Sufyan – dedengkot Quraisy- , maka Bilal berujar : “Demi Allah, pedang-pedang Allah belum sedikitpun menghantam musuh-musuh Allah”. Mendengar ucapan Bilal, maka Abu Sufyan marah.  Dia kemudian pergi menemui Abu Bakar dan mengadukan hal itu padanya.  Abu Bakar kemudian menemui Rasulullah SAW serta menyampaikan aduan Abu Sufyan itu kepadanya, maka Rasulullah SAW bersabda :

“Wahai Abu Bakar, boleh jadi kamu sudah membuat mereka marah. Sungguh jika kamu membuat mereka marah berarti kamu sudah membuat marah Rabbmu”. (HR. Muslim dalam Shahihnya).

Demi Allah, Bilal yang dahulunya dijual dengan harga lebih rendah daripada harga sebuah meja, lantas naik ke suatu posisi, dimana jika ia marah .. maka Rabbul ‘Izzati pun marah.  Mizan yang dipakai Rasulullah SAW ini dipergunakan oleh para sahabatnya.  Pada masa kekhalifahannya, ‘Umar memberikan tunjangan dari Baitul Mal kepada Usamah bin Zaid jauh lebih banyak daripada anaknya sendiri ‘Abdullah bin ‘Umar.  Lantas ‘Abdullah memprotes kebijaksanaan ayahnya : “Wahai ayah mengapa engkau memberikan Usamah lebih banyak daripadaku ?”

‘Umar berkata : “Dahulu ayahnya lebih dicintai Rasulullah SAW daripada ayahmu.  Dan dia sendiri lebih dicintai Rasulullah SAW daripada engkau.  Karena itu aku tidak menyamakanmu dengannya dalam pemberian”.

Karena itu ketika Suhail bin ‘Amru dan Abu Sufyan berdiri di muka pintu rumah ‘Umar bersamaan pula dengan Bilal, maka Bilal dipersilakan masuk sedangkan mereka berdua tidak.  Lalu Abu Sufyan marah dan mengomel, “Aku tidak pernah merasakan hari seperti hari ini sekalipun !! Kita mengetuk pintu rumah ‘Umar, malah yang diizinkan masuk budak-budak jelata itu!”

Suhail berkata dengan tenang : “Janganlah engkau marah .. mereka diseru kita pun diseru, tetapi mereka menerima da’wah tersebut dengan segera sedangkan kita berlambat-lambat menerimanya”.

Ketika ‘Umar duduk dalam suatu majlis, sementara ‘Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam dan Suhail bin ‘Amru berada di sampingnya, maka datanglah sejumlah orang dari golongan muhajirin.  ‘Umar lalu menjauhkan tempat duduk Suhail dan ‘Abdurrahman dari posisi duduknya.  Kemudian datang lagi sejumlah orang dari golongan Anshar, lalu ‘Umar menjauhkan tempat duduk kedua orang tersebut dari posisi duduknya. Maka demikianlah mereka terus dijauhkan sehigga menempati posisi akhir dalam majlis tersebut.  Abu Sufyan dan ‘Abdurrahman benar-benar sakit hati dibuatnya, lalu mereka berdua berkata : “Wahai Amirul Mu’minim, kami telah melihat apa yang engkau perbuat kepada kami.  Lalu apakah ada jalan bagi kami untuk mengejar ketertinggalan kami dari mereka ?”

‘Umar menjawab ; “Aku tidak melihat jalan lain bagi kalian kecuali kalian pergi ke sana –‘Umar menunjuk ke arah Syam-.  Maka keduanya pun berangkat menuju peperangan Yarmuk.

Fondasi yang kedelapan:

Pembinaan Melalui Celah-Celah Peristiwa dan Gerakan yang Konkret.

Dalam Perang Uhud kaum muslimin melakukan satu kesalahan, yakni tidak mematuhi perintah Rasulullah SAW yang akhirnya harus mereka tebus dengan harga yang mahal … tujuh puluh orang sahabat pilihan gugur sebagai syuhada’ dalam pertempuran tersebut.  Dalam pada itu tatkala Rasulullah SAW hendak mengubah kekalahan yang terjadi di Uhud itu menjadi kemenangan, maka beliau bersama sahabat-sahabatnya keluar dengan membawa luka-luka mereka menuju daerah Hamra’ul Asad.  Beliau tidak mengizinkan seorangpun yang tidak ikut serta dalam Perang Uhud ikut bersamanya.  Di Hamra’ul Asad beliau bermarkas selama tiga hari menanti kedatangan kaum Quraisy dan menantang mereka.

Fondasi yang kesembilan:

Al Jihad

Jihad adalah yang melindungi agama ini dan penyebarannya. Jihad (harus) menjadi asas terbesar sebagai landasan setiap harakah.  Harakah Islamiyah apa saja yang tidak menjadikan jihad sebagai orientasinya, maka wajib bagi seseorang untuk meninggalkannya dan menyatakan dengan terang-terangan bahwa ia hanyalah slogan kosong belaka.

Al Jihad di dalam Islam dibangun di atas beberapa asas/fondasi, diantaranya adalah  zuhud terhadap dunia.  Rasulullah SAW bersabda kepada sahabat :

“Zuhudlah kamu terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah kamu atas sesuatu yang menjadi milik manusia, niscaya orang-orang akan mencintaimu”.[xiv]

Demikian pula Al Jihad itu dibangun atas asas tawakkal.  Di dalam surat Al Fatihah yang mereka baca tujuh belas kali sehari semalam, di dalamnya terdapat ayat :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan”. ( QS Al Fatihah  1 : 5 )

Ibnul Qayyim mengatakan : “Ad Dien itu ada dua macam, yakni ibadah dan isti’anah atau inabah/minta ampunan dan tawwakal”.  Tatkala Rasulullah SAW melihat mata sungkal/alat bajak di depan pintu rumah seorang Anshar –beliau hendak bertempur melawan kaum Quraisy- maka beliau bersabda :

“Tidaklah benda ini masuk ke dalam rumah suatu kaum kecuali ia akan memasukkan pula kehinaan ke dalamnya”. (HR. Al Bukhari dalam Shahihnya). 

Bukan untuk mematikan penghidupan, akan tetapi karena beliau melihat dalam sungkal/ mata bajak itu ada kesibukan terhadap sesuatu yang penting sebelum yang terpenting.  Mengingat agama Allah akan menghadapi kemusnahan sekiranya kita sibuk dengan pertanian dan perdagangan.

“Apabila kalian telah jual beli dengan sistem ‘inah (bentuk riba), sibuk mengikuti ekor sapi (sibuk dengan peternakan) dan puas dengan bercocok tanam, dan meninggalkan jihad fie sabilillah, niscaya Allah akan menguasakan atas kalian kehinaan yang tiada akan dicabut-Nya sehingga kalian kembali kepada Dien kalian”. (HR. Abu Dawud)[xv]

Sesudah penaklukan negeri Syam, orang-orang muslim melihat negeri tersebut adalah negeri yang subur.  Mereka lalu menanaminya dengan gandum Syam.  Kabar tersebut sampai kepada ‘Umar, maka dia mengirim seorang utusan dengan membawa surat dan agar membakar ladang pertanian mereka.  Surat tersebut panjangnya hanya satu baris, berisi kata-kata sebagai berikut : “Sesungguhnya jika kalian meninggalkan jihad dan sibuk dengan pertanian, maka aku akan memberlakukan jizyah kepada kalian.  Dan aku akan memperlakukan kalian sebagaimana aku memperlakukan Ahli Kitab.  Sesungguhnya makanan pokok kalian adalah dari makanan pokok musuh-musuh kalian”.

Rasulullah SAW bersabda :

“Aku diutus menjelang hari kiamat dengan membawa pedang, dan dijadikan rezekiku di bawah bayangan tombak, dan dijadikan kecil serta hina orang-orang yang menyelisihi urusanku.  Barangsiapa menyerupakan dirinya dengan suatu kaum, maka ia termasuk diantara mereka”.[xvi]

 

bersambung ke tulisan berikut :  Malapetaka Memporak-Porandakan Masyarakat.

Referensi :

[1] Saya tidak tahu, apakah lafadz ini yang beliau maksud?! (al-Hafidz)

[i] HR Bukhari (lihat : Shahih Al Jami’ Ash Shaghir 3294)

[ii] HR Ahmad, Bukhari dan Muslim (Lihat : Shahih Al Jami’ Ash Shaghir 731)

[iii] Sebagian dari hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam musnadnya, seperti yang ditulis dalam Tafsir Ibnu Katsir

[iv] HR Abu Ya’la dan At Tirmidzi (lihat : Tafsir Ibnu Katsir IV)

[v] Shahih Bukhari

[vi] Hadits shahih diriwayatkan oleh Thabrani, Hakim, Baihaqi dan Ibnu Asakir .. Al Haitsami berkomentar : “Para perawi dalam sanad hadits Thabrani shahih, kecuali Ibrahim bin ‘abdul ‘azis.  Dia itu tsaqih (terpercaya). Lihat Hayatul Shahabat juz I hal 224

[vii] Lihat Mukhtashir As Sirah karangan Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 88

[viii] Cuplikan secara bebas dari perkataan An Nadawi

[ix] Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dinyatakan shahih oleh Al Bani dalam kitabnya “Hijabul Al Muslimah”

[x] Nash Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra, dikeluarkan oleh Muslim dalam shahihnya

[xi] Shahih, dari ‘Aisyah ra (Lihat Nailul Authar I : 86)

[xii] Asal kisah diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya.

[xiii] HR Muslim

[xiv] Shahih Al Jami Ash Shaghir

[xv] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan dikeluarkan oleh Albani dalam kitab Silsilah Shahihnya no. 422

[xvi] Shahih Al Jami Ash Shaghir

Satu respons untuk “Pembinaan Generasi Muslim Berdasarkan Konsep Nabawi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s