Ihya ul-Bai’at ( Penghayatan tentang Makna Bai’at )

SEBUAH AMALAN SUNNAH UMAT ISLAM YANG KINI DITINGGALKAN

Amalan yang nilainya teramat tinggi dimata Allah, Ikrar yang pernah menggentarkan Kaum Kuffar, Ikrar yang juga pernah di simpangkan oleh beberapa kelompok sempalan, Ikrar yang saat ini telah ditinggalkan oleh sebagian besar umat muslim di seluruh dunia.

Kita mulai pembahasan ini dengan definisi bai’ah secara etimologi maupun terminologi. Bai’ah secara bahasa ialah berjabat tangan atas terjadi jual beli, dan untuk berjanji setia dan taat. Bai’ah juga mempunyai arti : janji setia dan taat. Dan kalimat “qad tabaa ya’uu ‘ala al-amri” seperti ucapanmu (mereka saling berjanji atas sesuatu perkara). Dan mempunyai arti : “shafaquu ‘alaihi” (untuk perjanjian dengannya). Kata-kata “baaya’tahu” berasal dari kata “al-baiy’u” dan “al-baiy’atu” demikian pula kata “al-tabaaya’u”.   Bai’at Secara Istilah (Terminologi) : Berjanji untuk taat”.

Makna bai’ah dalam Al Qur’an :

  1. Bermakna jual beli.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (QS At Taubah 9 : 111)

  1. Bermakna Janji Setia

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (QS. al-Fath  48 : 10)

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. al-Fath 48 : 18)

Bai’ah berdasarkan Sunnah yang pernah dilaksanakan oleh Rasulullah, diantaranya :

  1. Bai’ah Aqobah I

Abdullah bin Rawahah berkata kepada Rasulullah , pada malam Perjanjian Aqobah (Bai’at Aqobah), “Tentukanlah syarat sesukamu yang harus kami penuhi untuk Robbmu dan untuk dirimu yaa Rasulullah”. Maka Beliau Saw bersabda: “Aku menentukan syarat untuk Robbku agar kalian menyembahnya dan agar kalian tidak menyekutukan sesuatu apapun dengannya dan aku menentukan syarat untuk diriku agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi jiwa dan harta kalian”. Para sahabat bertanya: “apa imbalannya jika kami menepatinya ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab “SYURGA”. Merekapun berseru: “Betapa menguntungkan jual beli ini, kami tidak mau mengganti dan tidak ingin diganti”. Maka turunlah ayat ini (QS. 9 :111) artinya mereka sudah puas dengan harga syurga yang Allah tawarkan untuk membeli diri dan harta mereka sehingga tidak akan pernah menerima tawaran lain sebagai penggantinya bahkan mereka tidak pernah mau mendengar tawaran lain berupa apapun yang ditawarkan kepada mereka untuk memalingkan mereka dari Jihad Fiesabilillah. Yang dapat membatalkan syurga yang dijanjikan Allah itu, meskipun dengan seluruh isi dunia. Selama hayat dikandung badan, mereka bersungguh sungguh menjaga perjanjian mereka itu, bersiap siaga kapan saja untuk menepatinya, untuk mendapatkan keuntungan yang tiada tara, yang mereka yakin sekali akan kebenarannya, bahwa Allah pasti menepati janjinya.

  1. Bai’ah Aqobah II

Setelah membaca Al-Qur’an dan mendorong kecintaan pada Islam, Rasulullah saw. menjawab, “Saya membaiat kalian untuk melindungi saya dari apa yang kalian melindungi istri-istri dan anak-anak kalian dari sesuatu itu.”

Lalu al-Barra’ mengulurkan tangan untuk memberikan baiatnya kepada Rasulullah saw. seraya berkata, “Kami membaiatmu, wahai Rasulullah. Demi Allah, kami adalah anak-anak perang [sering mengalami peperangan yang seolah-olah dirinya dilahirkan dari peperangan] dan penduduk lingkaran kancah yang penuh peperangan. Kami mewarisinya dari orang besar dan dari orang besar.” Namun, belum menyelesaikan pernyataannya, al-Barra’ sudah disela (interupsi) oleh Abu al-Haitsam bin al-Tiihan dengan mengatakan, “Ya Rasulullah, di antara kami dan orang-orang Yahudi ada tali perjanjian. Kami berniat memutuskannya. Jika kami melakukan itu, kemudian Allah memenangkanmu, apakah engkau akan kembali pada kaummu dan meninggalkan kami?”

Rasul Agung itu tersenyum. Beliau menatap mereka sejenak, kemudian berkata, “Bahkan, darah dibalas darah, hantaman dibalas hantaman! Sesungguhnya saya bagian dari kalian dan kalian bagian dari saya. Saya akan memerangi orang yang kalian sedang berperang dengannya dan berdamai dengan orang yang kalian berdamai dengannya.”

  1. Bai’atur Ridwan

Pada bulan Dzulqaidah tahun keenam Hijriyyah Nabi Muhammad s.a.w. beserta pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Mekkah untuk melakukan ‘umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Utsman bin Affan lebih dahulu ke Mekah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kaum muslimin. mereka menanti-nanti kembalinya Utsman, tetapi tidak juga datang karena Utsman ditahan oleh kaum musyrikin kemudian tersiar lagi kabar bahwa Utsman telah dibunuh. karena itu Nabi menganjurkan agar kaum muslimin melakukan bai’ah (janji setia) kepada beliau. merekapun Mengadakan janji setia kepada Nabi dan mereka akan memerangi kaum Quraisy bersama Nabi sampai kemenangan tercapai. Perjanjian setia ini telah diridhai Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat al fath ini, karena itu disebut Bai’atur Ridwan. Bai’atur Ridwan ini menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka melepaskan Utsman dan mengirim utusan untuk Mengadakan Perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian ini terkenal dengan Shulhul Hudaibiyah. Orang yang berjanji setia biasanya berjabatan tangan. Caranya berjanji setia dengan Rasul ialah meletakkan tangan Rasul di atas tangan orang yang berjanji itu. Jadi maksud tangan Allah di atas tangan mereka ialah untuk menyatakan bahwa berjanji dengan Rasulullah sama dengan berjanji dengan Allah.

Pengertian Bai’ah.

Dari keterangan ayat dan shirah yang diterangkan diatas, maka Bai’ah mempunyai pengertian sebagai berikut :

Yang pertama, yaitu sebuah ikrar Jual Beli antara Hamba dengan Rabbnya. Kita ketahui bahwa Jual Beli dimasa itu, yang menyatakan bahwa yang dijual itu adalah diri dan harta, mengindikasikan bahwa ini adalah Jual Beli dalam rangka memperbudakan diri. Maka, bai’ah adalah sebuah Ikrar seseorang yang siap menghambakan (Membudakkan) dirinya hanya kepada Allah. Maka bagi seseorang yang telah berbai’ah dikatakan sebagai Hamba (Budak) Allah.

Yang kedua, berdasarkan QS Al Fath ayat 10, bahwa bai’ah adalah sebuah janji setia kepada Allah, karena meskipun secara prosedural bai’ah itu dihadapan seseorang (dalam hal ini pemimpin) tapi pada hakikatnya bai’ah itu adalah kepada Allah (tangan Allah diatas tangan mereka). Ikrar inilah yang akan dipertanggungjawabkan nanti di Yaumul Hisab (apakah konsisten atau tidak terhadap janji setianya tersebut).

Fungsi Bai’ah

Maka dari itu, fungsi bai’ah adalah jelas sebagai satu ikrar penetapan diri, mempersembahkan diri untuk berjual beli dengan Allah, dalam artian sebuah ikrar diri untuk siap menjadi Budak/Abdi Allah. Dan ikrar ini tidak berhenti pada pelafalannya saja, karena itu kesetiaan atas ikrar tersebut hingga akhir hayatnya yang nanti akan dipertanggungjawabkannya di hadapan Allah.

Bai’ah itu kepada Siapa?

Dari keterangan-keterangan diatas, terang menunjukkan bahwa bai’ah itu bukan kepada seseorang ataupun kepada Khalifah. Melainkan Bai’ah itu adalah kepada Allah. Karena tidak mungkin seorang Muslim Menghambakan dirinya selain kepada Allah. Juga tidak mungkin seorang Muslim mengikrarkan Janji setianya selain kepada Allah. Sebab seorang Manusia punya kemungkinan untuk menyimpang dari kebenaran, jika janji setia itu diikrarkan untuk orang/khalifah maka bagaimana jika seseorang tersebut keluar dari jalan kebenaran? (Adapun Bai’ah itu dihadapan pemimpin/khalifah, akan diterangkan nanti).

Tujuan Bai’ah

Dari Sunnah yang telah dijalankan oleh Rasul dan para Shahabat, Bai’ah memiliki beberapa tujuan bagi yang mengikrarkannya.

Yang pertama, sebagai penetapan diri untuk siap menerima Hukum-hukum Allah. Siap untuk diatur dengan tatanan Ilahiyah. Siap mengaplikasikan Ketentuan-ketentuan Allah.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلا يَسْرِقْنَ وَلا يَزْنِينَ وَلا يَقْتُلْنَ أَوْلادَهُنَّ وَلا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka. (QS Mumtahanah [60]: 12).

Yang kedua, satu ikrar untuk siap membela Allah dan para Waliyullah. Bahkan hingga sebuah kata ”DARAHMU-DARAHKU”.

Yang ketiga, memperkuat dan memperteguh ikatan, melalui sebuah janji ikatan bersama dalam rangka memenangkan Agama Allah.

Konsekuensi dan Hasil dari Bai’ah

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (QS At Taubah ayat 111)

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. (QS At Taubah ayat 112)

Di ayat 111 telah jelas menerangkan konsekuensi dari Bai’ah, bahkan sampai siap untuk dibunuh dan membunuh. Sementara, di ayat 112nya, bisa bermakna dua. Yang pertama bahwa orang yang telah berbai’ah, mempunyai konsekuensi sebagaimana yang diterangkan dalam ayat tersebut. Tapi bisa juga berakna bahwa apa yang telah diterangkan dalam ayat tersebut hanya berlaku bagi mereka2 yang telah melakukan/mengikrarkan Bai’ah, dengan arti bahwa taubat, memuji, melawat, ruku’ dan semuanya itu hanya legal dimata Allah bagi mereka2 yang telah berbai’ah, bukan bagi mereka-mereka  yang belum berbai’ah. Sehingga Hadits yang menerangkan bahwa ”sesiapa yang meninggal tanpa ada bai’ah dilehernya, maka matinya dalam kondisi Jahiliyah” sesuai dengan ayat diatas.

Prosesi Bai’ah.

Setelah memahami bahwa Bai’ah itu adalah kepada Allah, maka bagaimana prosesi bai’ah kita terhadap Allah tersebut? Sunnah menerangkan dan menjelaskan Bagaimana prosesi bai’ah tersebut.

Yang pertama bahwa Tangan Allah diatas tangan mereka, dalam hal ini tentu melalui wakil Allah dimuka bumi. Dalam penjelasan saya mengenai Khalifah, telah saya terangkan bahwa setiap manusia yang ada dimuka bumi ini adalah khalifah (wakil) Allah, apabila mereka berpegang teguh kepada aturan-aturan Allah. Sementara, Khilafah adalah kesatuan dari para khalifatullah yang tergabung dalam satu kelembagaan (Kepemimpinan). Maka bai’ah akan syah apabila dilakukan didepan mereka2 yang memanggul amanah Allah dimuka bumi ini.

Yang kedua, siapakah yang dimaksud mereka yang memanggul amanah-amanah Allah dimuka bumi? Bahwa tujuan bai’ah adalah sebagai penetapan diri untuk siap menerima Hukum-hukum Allah. Siap untuk diatur dengan tatanan Ilahiyah. Siap mengaplikasikan Ketentuan-ketentuan Allah. Bagaimana kesiapan berhukumnya seseorang kepada Hukum Allah, telah Allah terangkan melalui ayat-ayatNya. Yaitu QS An Nisaa (4) dari ayat 58 s/d 70.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. ( QS. An Nisa 4 : 58)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. ( QS An Nisa 4 : 59 )

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. ( QS An Nisa  4 : 60 )

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. ( QS An Nisa 4 : 61)

فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا

Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. ( QS An Nisa 4 : 62)

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. ( QS An Nisa 4 : 63)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. ( QS An Nisa 4 : 64 )

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. ( QS An Nisa 4 : 65 )

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلا قَلِيلٌ مِنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), ( QS An Nisa 4 : 66 )

وَإِذًا لآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” ( QS An Nisa 4 : 67-68 )

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا

Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. ( QS An Nisa 4 : 69-70)

Ayat-ayat tersebut jelas menerangkan bahwa penerapan Hukum Allah itu di laksanakan oleh kepemimpinan Islam (Ulil Amri) yang merupakan manifestasi dari kepemimpinan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, kesiapan seseorang untuk terikat dengan Hukum-hukum Allah adalah berbai’ah kepada Allah melalui para pemimpin (Ulil Amri) yang mereka itu menjalankan penghukuman berdasarkan Hukum Allah. Hal ini lebih diperkuat oleh Sunnah, bahwasanya setelah Bai’ah Aqobah II, Rasulullah mengangkat 12 pemimpin dari kalangan Aus dan Khazraj. Sehingga setelah itu, dari kalangan Aus dan khazraj yang masuk Islam kemudian berbai’ah, tidak lagi langsung melalui Rasulullah, melaikan melalui para pemimpin yang telah diangkat tersebut. Begitu juga melalui Amir-Amir yang diutus oleh Rasulullah ke berbagai negara yang telah ditaklukkan.

Bagaimana dengan pendapat umum bahwa Bai’ah adalah kepada Khalifah?

Dari keterangan diatas, jelas menyalahi syari’at kalau Bai’ah itu kepada Khalifah. Untuk menerangkan hal diatas, mari kita kembalikan arti dan makna khalifah berdasarkan arti dan makna sesungguhnya sebagaimana disaat masa hidup Rasullah. Muhammad Husein Haikal dalam karyanya Khalifah Rasulullah ”Abubakar Assyidiq” menerangkan bahwa arti dari Khalifah adalah pengganti. Awalnya, masyarakat muslim yang telah berbai’ah dengan mengangkat Abubakar Assyidiq sebagai pemimpin, menggelarinya dengan Khalifahtullah, akan tetapi Abubakar tidak menyetujuinya. Selanjutnya dia menyebut dirinya dengan Khalifah Rasulullah yang berarti adalah pengganti Rasulullah. Setelah berganti kepemimpinan kepada umar bin Khattab s/d Ali bin Abu Thalib, kata Khalifah Rasulullah sudah tidak dipakai lagi, melainkan yang dipakai adalah Amirul Mu’minin. Kata Khalifah ini kembali dipakai pada masa Mu’awiyah dan seterusnya. Yang kemudian makna Khalifah ini mengalami pergeseran makna menjadi Pemimpin kaum Muslimin, sebagaimana yang dikenal oleh umumnya umat muslim saat ini.

Daripada itu, maka sesungguhnya semua hadits yang memuat kata Khalifah, semua itu bermakna Pengganti, meskipun maksud dari kata tersebut mempunyai fungsi sebagai Pemimpin kaum Muslim. Sebagaimana hadits berikut : Dari Abu Hazim, dia berkata: “Selama lima tahun aku berkawan dengan Abu Hurairah, dan aku pernah mendengar dia menceritakan suatu hadis dari Rasulullah saw, beliau bersabda: “Orang-orang Bani Israil itu selalu diatur oleh para Nabi. Seorang Nabi meninggal dunia akan digantikan oleh seorang Nabi yang lainnya. Tetapi sesungguhnya tidak akan ada Nabi sama sekali sesudahku. Dan kelak akan bermunculan para Khalifah.” Para sahabat bertanya: “Lantas apa yang Anda perintahkan kepada kami?” Rasulullah saw menjawab: “Penuhilah pembai’atan yang pertama kemudian seterusnya. Penuhilah hak-hak mereka. Sesungguhnya Allah akan minta pertanggungan jawab terhadap kepemimpinan mereka.” (HR Muslim).

Khalifah dalam hadits tersebut bermakna pengganti, meskipun yang dimaksud mempunyai fungsi sebagai Amirul Mukminin. Dan mengapa Rasulullah tidak menggunakan kata Amirul Mu’minin? Hal ini dikerenakan istilah Amirul Mu’minin baru dikenal setelah pengangkatan Umar Bin Khattab sebagai pengganti Abubakar.

Proses/Cara Pengangkatan Amirul Mu’minin

Dari itu semua, maka tidak benar keterangan yang menerangkan bahwa Pengangkatan Amirul mu’minin itu melalui Bai’ah. Karena sudah jelas salah kaprah. Karena jelas2 fungsi Bai’ah bukanlah untuk mengangkat seorang Amirul Mu’minin. Dari shirah para Khulafa’urrasyidin juga tidak ada nash yang menerangkan bahwa pengangkatan mereka itu melalui Bai’ah. Abubakar diangkat sebagai Pemimpin melalui pengajuan yang dilakukan oleh Umar bin Khattab, yang kemudian di sepakati oleh seluruh hadirin yang hadir di mimbar Syaqifa. Umar bin Khattab diangkat sebagai khalifah melalui penunjukan yang dilakukan oleh Abubakar As Syidiq. Utsman bin Affan diangkat sebagai Khalifah melalui musyawarah yang dilakukan oleh shahabat2 utama yang telah ditunjuk oleh Umar. Begitu juga Ali, diangkat melalui musyawarah shahabat2 utama. Jadi jelas bahwa pengangkatan Amirul Mu’minin tidak melalui Bai’ah.

Bai’ah adalah untuk melanjutkan kehidupan Islami.

Telah diterangkan sebelumnya bahwa tujuan Bai’ah adalah untuk menghukumkan diri kepada Hukum Allah, dimana yang melaksanakannya adalah Ulil Amri. Maka, ketika bergantinya kepemimpinan umum umat Muslim, Bai’ah adalah untuk memperkokoh dan memperkuat kembali ikatan, untuk rela berhukum kepada hukum Allah dibawah kepemimpinan orang yang telah ditunjuk sebagai Ulil Amri.

Sebagaimana Ali Bin Abi Thalib yang terlambat Bai’ah terhadap Abubakar Assyidiq, Bai’ah disitu bukan untuk mengangkat Abubakar Sebagai Ulil Amri, karena memang Abubakar telah terpilih sebagai Ulil Amri. Akan tetapi Bai’ah tersebut sebagai ikrar memperkokoh kembali kesediaan mengabdikan diri kepada Allah dibawah kepemimpian Abubakar.

Bai’ah terhadap Ulil Amri, ini dilakukan oleh mereka-mereka yang berada langsung dibawah kepemimpinannya, yaitu orang-orang yang berada dalam lingkup terdekatnya. Terhadap mereka yang jauh berada diluar lingkup dekatnya, tapi masih dalam wilayah kekuasaannya, maka tidak ada bai’ah sebagai pemerkokoh, melainkan ia cukup berpegang atas bai’ah sebelumnya yang telah ia lakukan terhadap Pemimpimnya yang terdekat. Inilah yang dimaksud dengan hadits yang berbunyi “Penuhilah pembai’atan yang pertama kemudian seterusnya. Penuhilah hak-hak mereka. Sesungguhnya Allah akan minta pertanggungan jawab terhadap kepemimpinan mereka.”

Bai’at dalam pemerintahan Negara Islam Indonesia

Berbicara tentang bai’at bukanlah sesuatu yang baru bagi Warga Negara Islam Indonesia baik makna secara bahasa ataupun secara istilah, mengingat dalil-dalil dalam Al Quran  begitu jelas sebagai landasan hukum tertinggi. Implementasi dan realisasinya telah diatur dalam undang-undang Negara Islam Indonesia yaitu dalam MKT no. 6 Thn 1950.

Dari itu kita secara khusus akan membahas tentang Bai’at Negara Islam Indonesia beserta konsekwensinya.

Adapun penghayatan bai’at yang dimaksud adalah suatu upaya dari tiap-tiap warga bai’at secara maksimal, untuk memahami dan mendalami kandungan bai’at yang telah diikrarkannya dengan segala konsekuensinya.

Apabila hasil dari penghayatan terhadap bai’at telah memancar dari setiap individu masyarakat Negara Islam Indonesia di segala tingkatan, maka tingkat integritas, loyalitas dan kwalitas perjuangan, pertahanan dan pembangunan Negara Islam Indonesia dengan sendirinya akan tumbuh dan berkembang hingga tercapainya tujuan yang sejati yaitu “Fathah, Falah dan Mardhatillah”.

Untuk mendapat kejelasan tentang apa dan bagaimana bentuk kongkrit dari upaya tersebut secara lebih luas, maka penulis mencoba menafsirkan makna yang terkandung dalam poin-poin bai’at secara berurutan, dengan harapan dapat memudahkan ummat dalam pemahaman, penghayatan dan pengamalan.

Semoga Allah berkenan membenarkan dan memandaikan serta melindungi setiap mujahid/ pejuang Negara Islam Indonesia, sehingga dalam melaksanakan amal bakti nan suci ini tidak terkontaminasi dengan langkah-langkah syaithan la’natullah ‘alaih….Amin.

Berikut ini isi Bai’at NII yang sesuai dengan MKT. no. 6 Thn. 1950 :

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Bismillahi tawakkalna ‘alallah, laa haula walaa quwwata illa billahi. Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah

Wallahi, Demi Allah!

  1. Saya menyatakan bai’at ini kepada Allah, dihadapan dan dengan persaksian Komandan Tentara / Pemimpin Negara yang bertanggungjawab.
  2. Saya menyatakan bai’at ini sungguh-sungguh karena ikhlas dan suci hati, lillahi ta’ala semata-mata, dan tidak sekali-kali karena sesuatu diluar dan keluar dari kepentingan Agama Allah, Agama Islam dan Negara Islam Indonesia.
  3. Saya sanggup berkorban dengan jiwa, raga dan nyawa saya serta apapun yang ada pada saya, berdasarkan sebesar-besar taqwa dan sesempurna-sempurna tawakkal ‘alallah bagi:  a.Menegakkan kalimatillah – li i’laai kalimatillah, dan b. Mempertahankan berdirinya Negara Islam Indonesia hingga hukum syari’at Islam berlaku dengan seluas-luasnya dalam kalangan ummat Islam bangsa Indonesia, di Indonesia.
  4. Saya akan taat sepenuhnya kepada perintah Allah, kepada perintah Rasulullah dan kepada perintah Ulil Amri saya, dan menjauhi segala larangannya dengan tulus dan setia hati.
  5. Saya tidak akan berkhianat kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada Komandan Tentara serta Pemimpin Negara dan tidak pula akan membuat noda atas ummat Islam Bangsa Indonesia.
  6. Saya sanggup membela Komandan-komandan Tentara Islam Indonesia dan Pemimpin-pemimpin Negara Islam Indonesia, daripada bahaya, bencana dan khianat dari mana dan apapun juga.
  7. Saya sanggup menerima hukuman dari Ulil Amri saya, sepanjang keadilan hukum Islam, bila saya ingkar daripada bai’at yang saya nyatakan ini.
  8. Semoga Allah berkenan membenarkan pernyataan bai’at saya ini, serta berkenan pula kiranya Dia melimpahkan tolong dan kurnia-Nya atas saya, sehingga saya dipandaikan-Nya melakukan tugas suci, ialah hak dan kewajiban tiap-tiap Mujahid; menggalang Negara Kurnia Allah Negara Islam Indonesia! Amin.
  9. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Penafsiran point perpoint

POIN KESATU

“Saya menyatakan bai’at ini kepada Allah dihadapan dan dengan persaksian Komandan Tentara/ Pemimpin Negara yang bertanggungjawab”.

Kalimat “Saya menyatakan bai’at ini kepada Allah; Dengan adanya kalimat “saya menyatakan” jelas dan nyata sekali bahwa seseorang tidak sedang dibai’at melainkan dialah yang sedang berbai’at, maka hal itu berarti pula bahwa seseorang melakukannya dalam keadaan sadar tanpa tekanan dan paksaan dari apa dan siapapun juga, serta mempunyai motivasi yang jelas.

Kata “ini” yang menyertai kata bai’at dapat dikonotasikan bahwa hal dimaksud berada dekat dengan pelaku, atau dengan kata lain bahwa bai’at yang akan dinyatakan telah ada dan tersimpan dalam hati seseorang yang akan menyatakan/ mengikrarkannya, berarti pula orang tersebut telah memahami sebelumnya terhadap apa yang ia nyatakan dengan segala konsekuensinya.

Kalimat “kepada Allah”, hal ini menunjukkan dengan sejelas-jelasnya bahwa setiap individu yang berbai’at tengah bernegosiasi langsung kepada Allah, dengan demikian segala apa yang termasuk dalam transaksi akan mendatangkan keuntungan tanpa terzholimi (Qs. 61:10, 9:111)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?” (QS. 61:10)

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS. 9:111)

Kalimat “dihadapan dan dengan persaksian Komandan Tentara / Pemimpin Negara yang bertanggungjawab”.

Dari kalimat tersebut dapat dipahami bahwa status dan fungsi Pemimpin atau Imam, diantaranya sebagai berikut:

  1. Status; mengingat bai’at itu hakekatnya adalah kepada Allah, maka status Pemimpin Negara, Komandan Tentara adalah sebagai saksi (Qs. 22:78, 48:8)

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

“dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.” (QS. 22:78)

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

 “Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan”. (QS. 48:8)

  1. Fungsi; secara garis besar fungsi Pemimpin Negara/ Pemerintah terbagi dua, yaitu: memberlakukan syari’ah (Qs. 45:18, 22:67, 38:26)

 ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الأمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

 “kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”. (QS. 45:18)

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلا يُنَازِعُنَّكَ فِي الأمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ

 “Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, Maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”. (QS. 22:67)

يَا دَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الأرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

 “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”. (QS. 38:26)

Dan memelihara keamanan (Qs. 2:126, 6:82, 24:55)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Robbku, Jadikanlah negeri ini, n egeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. 2:126)

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

 “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. 6:82)

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

 “dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (QS. An Nur 24:55)

Dengan demikian untuk dapat merealisasikan tanggungjawab sebagai Imam/ Pemerintah, maka dibentuklah Dewan Imamah atau struktur pemerintahan dan perundang-undangan serta institusi-institusi yang berkenaan pelayanan masyarakat, dan seterusnya.

POIN KEDUA

“Saya menyatakan bai’at ini sungguh-sungguh karena ikhlas dan suci hati, lillahi ta’ala semata-mata, dan tidak sekali-kali karena sesuatu diluar dan keluar daripada kepentingan Agama Allah, Agama Islam dan Negara Islam Indonesia”.

Kalimat “karena ikhlas dan suci hati” merupakan dua kata yang saling menguatkan dimana keikhlasan tidak dapat dimiliki kecuali oleh orang-orang yang berhati suci. Namun dengan penggabungan dua kata tersebut (ikhlas dan suci hati) belum dapat disaksikan atau dinilai oleh indra manusia mengingat kedua-duanya tidak nampak atau berwujud. Karenanya dipertegas lagi dengan kalimat “lillahi ta’ala semata-mata”, artinya bai’at yang dinyatakan atau diikrarkan hanya karena Allah. Walaupun demikian masih perlu adanya pembuktian secara kongkrit mengingat kalimat lillahi ta’ala dimaksud masih bersifat abstrak, untuk itu dilanjutkan dengan kalimat “tidak sekali-kali karena sesuatu diluar dan keluar dari pada kepentingan Agama Allah, Agama Islam dan Negara Islam Indonesia”.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa: “ikhlas” itu adalah sesuatu perbuatan yang dilakukan secara murni dan konsekuen, sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah yaitu sesuai syari’at Islam, selanjutnya direalisasikan sesuai dengan ketentuan/ undang-undang Negara Islam. Karenanya setiap penyimpangan/ pelanggaran terhadap Peraturan/ Undang-Undang Negara Islam Indonesia dalam implementasi perjuangan merupakan bukti ketidak ikhlasan, mengingat ikhlas adalah sesuatu perbuatan yang tidak terkontaminasi dengan langkah-langkah syaitan/ thaghut. Perhatikan Qs. 16:36, 39:3, 15:39-40, 39:65 dan perhatikan pula Sabda Rosulullah SAW:

“Sesungguhnya Allah SWT tidak menerima amal, kecuali amal yang tulus ikhlas dan mencari keridhaan Allah.” (HR. An Nasa’i)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” ( QS An Nahl  16 : 36 )

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. ( QS Az Zumar 39 : 3 )

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

”Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. ( QS Al Hijr 15 : 39-40)

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Az Zumar 39 :65)

Dan hati memegang peranan penting, dimana niat berada didalamnya dan tempat bersemayamnya ikhlas. Hati yang kotor tidak akan mendatangkan niat yang baik, niat yang tidak baik tidak mungkin melahirkan keikhlasan. Maka pada saat seseorang berbai’at dengan tegas Allah menyatakan “maka Dia (Allah) mengetahui apa yang ada dalam hatimu (Qs. 48:18) dan dalam ayat lain Allah menyatakan bahwa “hati terdinding dari jasad” (Qs. 8:24). Dan perhatikan hadits Rasulullah SAW. dibawah ini:

Rosulullah SAW bersabda: Sesungguhnya semua amal harus dengan niat, dan sesungguhnya tiap-tiap manusia akan dibalasi menurut apa yang diniatkannya. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka berhijrahlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena dunia atau karena seseorang perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya. (HR. Syaikhan dari Umar, Mukhtarul Ahadits halaman 718)

“Sesungguhnya didalam jasad ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah seluruh jasadnya dan apabila daging itu rusak maka rusaklah seluruh jasadnya (HR. Bukhori)

Apabila diperhatikan dengan seksama dapat disimpulkan bahwa dua poin tersebut menitik beratkan kepada persoalan niat atau persoalan hati, dimana hanya Allah sajalah yang paling mengetahuinya. Adapun Pemimpin/ Imam/ Petugas atau Syahid hanya menyaksikan yang wujud yaitu ucapan dan jasad. Untuk itu poin ketiga dari klausul bai’at meruapakan alat atau cara untuk melahirkan segala sesuatu yang tersembunyi didalam hati seseorang/ manusia.

POIN KETIGA

“Saya sanggup berkorban dengan jiwa, raga dan nyawa saya serta apaun yang ada pada saya, berdasarkan sebesar-besar taqwa dan sesempurna-sempurna tawakkal ‘alallah, bagi:

  1. menegakkan kalimatillah – li I’lai kalimatillah, dan
  2. mempertahankan berdirinya Negara Islam Indonesia hingga hukum syari’at Islam seluruhnya berlaku dengan seluas-luasnya dalam kalangan Ummat Islam Bangsa Indonesia di Indonesia”.

Kalimat “serta apapun yang ada pada saya” menunjukkan bentuk pengorbanan secara total termasuk didalamnya perasaan dan segala bentuk kepentingan yang bersifat pribadi, karena pengorbanan dimaksud haruslah tanpa tendensi atau pamrih dan dilakukan secara maksimal dan optimal serta penuh keyakinan. Karenanya kalimat dimaksud dilanjutkan dengan “berdasarkan sebesar-besarnya taqwa dan sesempurna-sempurna tawakkal ‘alallah”, artinya pengorbanan disalurkan atas dasar ikhlas sesuai prosedur atau peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan senantiasa mengharap pertolongan dan penyempurnaan dari Allah SWT. Perhatikan Firman Allah SWT. dibawah ini:

قُلْ أَنْفِقُوا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا لَنْ يُتَقَبَّلَ مِنْكُمْ إِنَّكُمْ كُنْتُمْ قَوْمًا فَاسِقِينَ وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلا يَأْتُونَ الصَّلاةَ إِلا وَهُمْ كُسَالَى وَلا يُنْفِقُونَ إِلا وَهُمْ كَارِهُونَ

 “Katakanlah: “Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, Namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik. dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (Qs. At Taubah 9 :53-54)

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

 “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. dan Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. At Taghaabun 64 :16)

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

 “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Az Zumar 39 :33)

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلأجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

 “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. dan Sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.” (Qs. An Nahl 16 :41-42)

Sangat jelas kiranya bahwa pengorbanan atau dedikasi tanpa didasari dengan prinsip taqwa tidak akan mendatangkan keikhlasan, sehingga Allah tidak akan menerima sebagai pengabdian kepada-Nya. Begitu pula loyalitas dan dedikasi kepada Negara Islam Indonesia tanpa disalurkan sesuai aturan atau undang-undang yang berlaku akan sia-sia. Prinsip kedua adalah tawakkal, dimana tanpa adanya tawakkal sudah pasti tidak akan ada kesabaran. Karenanya perjuangan tanpa didasari rasa tawakkal kepada Allah akan muncul sifat arogan dan brutalisme juga cepat putus asa dan pesimistis.

Adapun sasaran dan tujuan perjuangan dan pengorbanan dijelaskan pada lanjutan point ketiga yaitu “menegakkan kalimatillah dengan cara dan bentuk pertahanan dan pembelaan terhadap Negara”. Dalam hal ini perhatikan pula sabda Rosulullah SAW. sebagai berikut:

“Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka itulah perang di jalan Allah”. (HR. Muttafaqun ‘alaih )

Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Sebagai warga bai’at harus memiliki loyalitas dan dedikasi yang tinggi serta berjiwa optimis dalam pengabdian ( 3:134, 3:146, 9:111, 9:52 )
  2. Sebagai warga bai’at harus mampu meletakkan kepentingan Negara diatas kepentingan pribadi (Qs. 33:36, 2:165, 9:24 ).
  3. Sebagai warga bai’at harus memiliki sikap konsisten dan konsekuen dalam pendirian dan perbuatan (Qs. 41:30, 9:41, 3:103 ).

 POIN KE EMPAT

“Saya akan taat sepenuhnya kepada perintah Allah, perintah Rasulullah dan perintah Ulil Amri saya dan menjauhi segala larangannya dengan tulus dan setia hati”.

Kata “Saya akan taat sepenuhnya” adalah realisasi dari perintah Allah SWT. dalam Qs. An Nisa:59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.( QS An Nisa 4 : 59 )

Seorang warga bai’at harus menyadari bahwa dalam kata taat dan patuh termasuk pula dalam disiplin. Taat dan patuh tanpa cinta setia akan terasa kaku, tegang dan kering, tandus laksana irama tanpa suara. Bahkan kadang-kadang terasakan sesuatu keras dan kejam, kasar dan bengis. Demikian pula benar dan adil, tanpa qisti dan palamarta (kasih sayang).

Maka untuk memperoleh hasil amal yang sempurna, jasa-jasa yang besar manfaatnya dan maslahat untuk umum, untuk ummat, negara dan agama, maka kuncinya terletak dalam jiwa atau lebih tegasnya jiwa Mujahid yang harmonis selaras dengan tugasnya.

Mujahid yang mempunyai keselarasan jiwa ini akan menunaikan segala tugas wajibnya dengan sepenuh jiwanya, dengan tekun, khusyu’ dan khudhu’, tanpa menghiraukan atau terpengaruh sesuatu diluarnya. Maka landasan pembinaan jiwa, kesatria suci macam ini antara lain adalah:

  1. Rasa cinta kepada Allah (Mahabbah) dalam makna dan wujudnya:
    1. Sanggup dan mampu melaksanakan tiap-tiap perintahNya dan menjauhi segala laranganNya tanpa terkecuali dan tawar menawar.
    2. Mendahulukan dan mengutamakan pelaksanaan perintah Allah daripada sesuatu diluarnya.
    3. Mendasarkan tiap-tiap laku lampah dan amalnya atas wahdaniyat Allah, tegasnya atas tauhid sejati dan tidak atas alasan pertimbangan dan dalil apapun melainkan berdasarkan khalishan mukhlishan semata, atau dengan kata lain Allah minded 100%.
  2. Rasa cinta setia kepada Rasulullah SAW. Dalam makna dan wujudnya:  Sanggup dan mampu merealisasikan ajaran dan sunnah Rasulullah SAW. dengan kepercayaan dan keyakinan sepenuhnya, bahwa tiada contoh dan tauladan lebih utama daripada ajaran dan sunnahnya khusus dalam rangka jihad, tegasnya dalam rangka usaha membina Negara Madinah Indonesia dan pantang melakukan sesuatu diluar ajaran dan hukum Islam, sepanjang sunnah hingga mencapai taraf “Islam minded 100%”
  3. Rasa cinta setia kepada Ulil Amri Islam atau Imam Negara Islam Indonesia atau Plm. T. APNII yang didalamnya termasuk:
    1. Rasa cinta setia kepada Pemerintah Negara Islam Indonesia dan tidak kepada sesuatu pemerintah diluarnya.
    2. Rasa cinta setia kepada Negara Islam Indonesia, dan tidak kepada sesuatu Negara diluarnya.
    3. Rasa cinta setia kepada Undang-undang (Qonun Asasi) NII dan tidak kepada undang-undang negara manapun dan seterusnya dan seterusnya yang semuanya itu tercakup dalam istilah “Negara Islam Indonesia minded 100%”

Catatan:  Kita hanya mengenal satu Ulil Amri, satu Imam Plm. T. APNII. tidak lebih dan tidak kurang. Tiap-tiap kepercayaan, keyakinan, anggapan dan perlakuan yang menyimpang atau bertentangan dengan dia adalah sesat dan menyesatkan, salah, keliru dan durhaka.

POINT KELIMA

“Saya tidak akan berkhianat kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada Komandan Tentara serta Pemimpin Negara dan tidak pula akan membuat noda atas Ummat Islam Bangsa Indonesia”.

Dalam kata “Saya tidak akan berkhianat” artinya seorang warga bai’at tidak boleh melakukan hal-hal atau perkara yang menjurus kepada pengkhianatan, dalam format ini telah diizinkan oleh Allah SWT. dalam Al Quran Surat Al Anfal (8) ayat 27:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al Anfal 8 : 27 )

Maka sebagai warga bai’at harus memahami bahwa dirinya adalah seorang khalifah atau pengemban amanat Allah SWT. di muka bumi (Qs. 2:30). Dia adalah mukallaf yang diembankan atau dipikulkan tanggungjawab. Maka manakala tanggungjawab yang dipikulnya dia remehkan bahkan dia lepaskan maka dia sudah berkhianat, termasuk tugas utamanya selaku aparat dan juga termasuk perintah dan larangan yang disampaikan oleh komandannya.

Perkataan “dan tidak pula akan membuat noda atas Ummat Islam Bangsa Indonesia”. Alloh SWT. berfirman dalam Al Quran Surat Al Hujurot (49) ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

 “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. ( QS Al Hujurat 49 : 10)

Maka selaku sesama warga, selaku sesama Muhajir dan Mujahid haruslah terjalin hubungan baik dan loyalitas. Untuk itu dilarang melakukan penodaan terhadap hubungan tersebut seperti (Qs. 49:11-12):

  1. Saling memperolok/ merendahkan
  2. Saling mencela
  3. Saling panggil memanggil dengan panggilan buruk
  4. Saling berprasangka buruk
  5. Saling menggunjing satu sama lain

POIN KEENAM

“Saya sanggup membela Komandan-komandan Tentara Islam Indonesia dan Pemimpin-pemimpin Negara Islam Indonesia daripada bahaya, bencana dan khianat dari mana dan apapun jua”.

Kata “Saya sanggup membela” adalah sikap yang semestinya diberikan oleh seorang warga kepada pemimpinnya, prajurit kepada komandannya dan itu merupakan ciri yang khas penegak risalah para rasul-rasul sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW.

“Tidaklah seorangpun Nabi-nabi yang dibangkitkan oleh Allah pada setiap ummat, kecuali dijadikan bagimu para penolong dan sahabat”.

Lihatlah kisah itu dalam Qs. 3:52, 61:14, 9:40

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

 “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Ali Imron[3]:52)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (Qs. Ash Shoff [61]:14)

إِلا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. At Taubah [9]:40)

Dalam kata “membela” terkandung didalamnya kata menolong, melindungi, dan mengamankan. Sebab terancamnya jiwa dan raga akan mengakibatkan terganggunya perjuangan, oleh karenanya dalam sapta subaya point ke 3 (tiga) Seorang Tentara Islam Indonesia sanggup membela Komandan Tentara dan Pemimpin Negara sebagai tulang punggung Negara.

POINT KETUJUH

“Saya sanggup menerima hukuman dari Amri saya sepanjang keadilan hukum Islam bila saya ingkar daripada bai’at yang saya nyatakan ini”.

Kata “Saya sanggup menerima hukuman” adalah realisasi dari firman Allah SWT. dalam Al Quran Surat An Nisa (4) ayat 64-65:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinyaa datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. ( QS An Nisa 4 : 64 )

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. ( QS An Nisa 4:65)

Warga bai’at menyadari bahwa hukum Islam yang ia terima dengan rela dan ikhlas adalah jalan pengampunan bagi dosa dan pelanggaran yang dilakukannya di dunia sehingga tidak terbawa lagi dosanya kedalam akhirat. Untuk itu realisasi dari point bai’at ini adalah bila menyadari diri telah berbuat salah maka: Dia datang (lapor) kepada Ulil Amrinya sebagai lembaga hukum atau lembaga yang punya wewenang untuk tanfidzu syari’at atau Mahkamah Islam, dan menerima keputusan apapun dengan tidak keberatan dalam menerima keputusan, dan tunduk menerima sepenuhnya

Inilah ciri khas mukmin, sebagaimana firman Allah SWT. dibawah ini:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

 “Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. An Nuur [24]:51)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا

“dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS.Al Ahzab 33:36)

POIN KEDELAPAN

“Semoga Allah berkenan membenarkan pernyataan bai’at saya ini, serta berkenan pula kiranya ia melimpahkan tolong dan kurnianya atas saya sehingga saya dipandaikannya melakukan tugas suci ialah hak dan kewajiban tiap-tiap Mujahid, menggalang Negara Kurnia Allah Negara Islam Indonesia”. Amin!

Do’a yang termaktub dalam poin kedelapan ini adalah satu sikap kepasrahan dan ketundukan warga bai’at, bahkan diatas segala usaha/ perjuangan, kesuksesan dan keberhasilannya bukan semata-mata karena kedigdayaan dan kekuatan yang ada, tetapi semata-mata karena Allah SWT.

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

 “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Qs. Al Anfal [8]:17)

Untuk itu setiap warga bai’at harus siap dengan pendidikan, dengan cara mengikuti program-program yang diselenggarakan oleh Ulil Amri baik berupa tazkiyah, tarqiyah atau ta’lim yang sudah diprogram oleh Pemerintah Negara Islam Indonesia dalam masa perang.

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

 “Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan Katakanlah: “Ya Robbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Qs. Thaahaa [20]:114)

POINT KESEMBILAN

“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Maksud takbir disini adalah realisasi semuanya.

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

“dan Robbmu agungkanlah!”. (Qs. Al Mudatstsir [74]:3)

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

“Dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (Qs. Al Israa [17]:111)

Maksud takbir 3x disini adalah:

Membesarkan rububiyyah Allah atau besar hukum Allah/ hukum Islam. Maka setiap warga bai’at harus dapat membesarkan rububiyyah Allah atau hukum Allah dengan cara tabligh yaitu usaha menunjukkan jalan atau usaha menunjukkan melalui cara tabsyir (penjelasan hukum) dan indzar (peringatan).

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (Qs. Al Fath [48]:8),

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

 “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Qs. Al Maidah [5]:67)

Sabda Rasulullah SAW

“Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

“Sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat.”

 Membesarkan Mulkiyyah Allah atau besar kerajaan Allah/ Negara Allah. Maka setiap warga bai’at harus dapat membesarkan kerajaan Allah dengan cara melakukan jihad yakni dakwah dan Qital.

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

 “dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Al Anfal [8]: 39).

Membesarkan Uluhiyyah Allah atau besar Ummat Allah/ Ummat Islam, maka setiap warga bai’at harus dapat melakukan gerakan-gerakan muwahhid sampai tercapainya ummatan wahidah – ilaahun wahid hingga besar ummat Allah.

Materi ini diharapkan akan membuka wacana ilmu, terutama bagi warga NII yang telah berbai’at, agar mereka memperjuangkan Islam bukan atas dasar kejahilan, supaya mereka bergerak didasari ilmu yang benar, sehingga kemenangan yang diharapkan pun bisa diraih.

Akhirnya, hasbunalloohu wa ni’mal-Wakiil, semoga materi bai’at Negara Islam Indonesia ini turut memberikan andil dalam perjuangan umat dalam rangka menyongsong kemenangan Islam yang pasti akan tiba, sesungguhnya Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya.

6 respons untuk ‘Ihya ul-Bai’at ( Penghayatan tentang Makna Bai’at )

  1. bersyahadat itu baru sebatas pembuktian keimanan seseorang sehingga dia menyatakan baroah dan wala’ yang jelas, setelah itu dituntut adalah pembelaaan atas wala’ yang dilakukan sehingga sanggup mengorbankan jiwa dan raganya di jalan Allah, itulah diperlukan adanya Baiah. ( sebagaimana adanya baiah aqabah dan baiah ridwan )

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s