Ciri Khas dan Keistimewaan Firqah Najiyah

lanjutan dari tulisan Firqah Najiyah……..

Ketika Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi sifat Firqah Najiyah dengan orang-orang yang berada dalam sunnah dan sahabatku, hal ini mendorong mereka untuk menjadi ‘golongan teladan’ yang mempunyai ciri-ciri khusus sebagai Firqah Najiyah, yaitu:

1. Menerima Wahyu Secara Utuh dan Tidak Mendahuluinya.

 Sesungguhnya pengetahuan yang benar dan sempurna dalam aqidah, syariat dan adab, tidak akan tercapai kecuali dari wahyu yang diturunkan — baik berupa Al-Qur’an dan hadits — Yaitu pengetahuan tentang asma’ Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sifat-Nya, hak-Nya, serta apa-apa yang Allah Maha Suci dari padanya; juga pengetahuan tentang ma-laikat, kitab-kitab-Nya, para Nabi dan Rasul, hari kiamat, surga dan neraka, pengetahuan tentang syariat secara global maupun detailnya, hukum-hukum yang berkaitan dengan orang mukallaf, serta pengetahuan tentang jalan mana yang benar yang harus ditempuh.

Kesemuanya ini merupakan manifestasi kepribadian seorang muslim yang tiada pernah bimbang apalagi untuk meragukan akan dalil dan nash yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Inilah sesungguhnya manhajnya orang-orang yang dikaruniai nikmat iman yang benar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak (pula) bagi perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (AI Ahzab: 36).

Mu’min yang sejati hanya memilih apa yang telah dipilihkan Allah dan Rasul-Nya, dengan mengikuti kepemimpinan AI-Qur’an dan As-Sunnah hingga hawa nafsunya tunduk dengan risalah yang dibawa Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela dan mengkafirkan suatu kaum yang menghapus seluruh kebaikan, karena kebencian dan kesombongan mereka terhadap apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya: “Dan orang-orang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 8-9).

Sedangkan siapa saja yang diperingatkan dengan Al-Qur’an dan menerima dengan lapang dada, maka Al-Qur’an akan menjadi petunjuk jalan baginya dalam mengamalkan isi dan ajaran yang terkandung di dalamnya. Tapi bagi mereka yang telah terkunci pintu hatinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menimpakan siksa baginya. Dikarenakan mereka punya hati tetapi tidak digunakan untuk memahami, punya mata tetapi tidak digunakan untuk melihat, punya telinga tidak digunakan untuk mendengar, sehingga Allah Subhanau wa Ta’ala menghinakan mereka serendah-rendahnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (AI-A’raf: 179).

Semua Ini dikarenakan mereka tidak mengamalkan nash-nash yang terkandung di dalam Al-Qur’an, tidak memperhatikan dan tidak pula mendengarkannya, padahal tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala terbentang luas di alam raya ini.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala juga akan menyiksa orang-orang yang ingkar dengan asma’-asma’-Nya, yang mereka rubah makna yang sebenarnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam mereka dengan firman-Nya: “AIlah mempunyai asma’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (AI-A’raf: 180).

Jadi, antara orang-orang yang ingkar kepada asma’-asma’ AIlah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka yang membenci ayat-aya Allah Subhanahu wa Ta’ala, ada suatu kesamaan dari segi tidak mengamalkan nash.

Yang dimotori oleh nafsu, ta’wil, pengingkaran, kelancangan dan kebengkokan dalam hatinya, sehingga tidak ada tempat kosong lagi bagi Kalamullah dan sunnah Rasul Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

 Setelah menyebutkan dua sifat tercela ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan pula sifat yang terpuji. Sebagai lahan percontohannya adalah para sahabat Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang senantiasa setia mengikutinya. “Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.” (Al-A’raf: 181).

Mereka itulah orang-orang yang mengambil petunjuk dari wahyu, mengajak dan menghukumi manusia dengannya. Adapun sikap mereka terhadap Al-Qur’an, menjadikan ayat yang muhkamat sebagai induk dan dasar yang wajib dijadikan dasar penafsiran ayat mutasyabbihat, karena jelasnya makna dan tidak adanya perselisihan sebagaimana yang terdapat dalam ayat-ayat yang mutasyabbihat.

Dan Allah menerangkan inilah sesungguhnya manhaj orang-orang yang mantap dalam keilmuan. Sedangkan orang-orang yang bengkok hatinya senantiasa condong menelusuri ayat yang mutasyabbihat untuk dita’wilkan menurut selera nafsunya, sehingga jauh dari makna aslinya. Yang akibatnya terciptalah fitnah dari kalangan orang-orang yang tidak bisa membedakan antara yang haq dan yang batil. baik karena kelalaiannya atau kefanatikannya kepada guru-guru mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dia-lah yang menurunkan AI-Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an, dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabbihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabbihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal” (Ali Imran: 7).

Dari Aisyah ra. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah membacakan ayat ini (Ali Imran ayat 7), kemudian beliau bersabda: “Jika engkau melihat orang-orang yang mengikuti mutasyabihat, mereka itulah yang dikatakan oleh Allah. Maka hati-hatilah dari mereka.” (HR, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Ad-Darimi, Ahmad, dan Baihaqi).

Dari Abu Said AI-Hudry: “Ketika Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam membicarakan orang Khawarij, beliau bersabda: “Salah seorang di antara kalian melecehkan shalatnya dengan shalat mereka, dan puasanya dengan puasa mereka. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka meleset dari agamanya, bagaikan anak panah meleset dari tubuh hewan buruannya, ia melihat pada ujung panahnya tidak ada apa-apa, kemudian ia melihat ikatan tempat-masuknya mata anak panah juga tidak ada apa-apa, dan ia melihat batang anak panah (juga) tidak ada apa-apa. Sungguh anak panah itu telah melampaui kotoran dan darah.(HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad dan Abu Dawud).

Nabi menyerupakan keluarnya Khawarij dari agama setelah masuk di dalamnya, seperti anak panah yang mengenai sasaran kemudian (tembus) keluar dengan cepat tanpa ada yang menyangkut sedikitpun baik dari kotoran maupun darah. Begitu pula halnya tidak sedikitpun agama yang tersisa pada Khawarij.

Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam mensyifati mereka dengan membaca Al-Qur’an, sekalipun demikian bacaan tersebut tidak melewati kerongkongan mereka. Maka para ulama memahaminya dengan dua makna:

Pertama, sesungguhnya hati mereka bengkok dan tidak mengerti makna dari Kalamullah. Karena hati mereka telah dikuasai oleh hawa nafsu, maka Al-Qur’an diartikan tidak dengan makna yang sebenarnya, yang kemudian dijadikan dalil atas pikiran dan pendapat yang menyimpang. Itulah karenanya mereka suka mengambil ayat yang mutasyabbihat dan meninggalkan yang muhkamat (artinya bacaan sebatas tenggorokkan adalah tidak masuk sampai ke hati).

Mereka berpegang teguh dengan ayat-ayat, seperti: “(Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diampuni oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (AI-Baqarah: 81). ‘Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (AI-Jin : 23).

“Maka, Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (AI-Lail: 14-16).

Dan mereka mengabaikan ayat-ayat sebagai berikut, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang besar. “(An-Nisa’: 48).

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (An-Nisa’: 31).

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya.” (Al-Hujurat: 9).

Jadi, mereka mengambil kumpulan ayat-ayat yang mutasyabbihat karena sesuai dengan hawa nafsu mereka. Dan mengabaikan ayat-ayat yang muhkamat, bahkan menutup mata dan berusaha mengolahnya dengan berbagai ta’wilan. Begitulah yang diperbuat oleh para ahli bid’ah secara keseluruhan.

Kedua, maksud dari kalimat “.. tidak melewati tenggorokan, adalah tidak diberikan pahala atas bacaannya dan tidak sampai naik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai suatu amalan yang shaleh. Maksud kalimat kedua ini, diakibatkan oleh perlakuan mereka yang lebih condong kepada ayat-ayat yang mutasyabbihat.

Jika dlperhatikan betapa indahnya perkataan Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dalam mensyifati Khawarij, yang mengaku hanya merekalah yang selalu konsekuen dengan agama dan fanatik. Sedangkan yang lainnya, bahkan para sahabat, dianggapnya murtad. Dengan demikian kita dapati betapa jelasnya pembuktian dalil tersebut yang menerangkan bahwa mereka sedikit pun tidak mengamalkan nash-nash yang ada. Dimana bacaan Al-Qur’an yang keluar dari tenggorokan tidak masuk sampai ke hati sedikitpun, bahkan hanya menambah besarnya bid’ah yang mereke perbuat.

Berdasarkan masalah yang cukup membahayakan ini dengan segala akibatnya, maka hendaklah kita mawas diri dan bertanya di mana posisi kita saat ini. Apakah tergolong Firqah Najiyah atau Firqah Haaliqah (yang binasa).

Dahulu para sahabat ra. adalah orang-orang yang paling besar perhatiannya akan dalil dan wahyu yang tercermin dalam amalan mereka. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor:

  1. Kesucian hati mereka dari hawa nafsu, sehingga dada mereka lapang menerima sega!a yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, mereka tunduk dan patuh dengan tanpa keraguan dan keberatan sedikit pun.
  2. Mereka tinggal di tempat dan waktu turunnya wahyu, melihat dan menyertai Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam di mana dan kapan pun, baik siang atau pun malam, di rumah atau diperjalanan, saat damai maupun perang. Karena itulah mereka paling tahu tentang suasana, situasi dan kondisi di mana wahyu diturunkan, sehingga sangat menentukan dalam pemahaman suatu nash dan sasarannya.
  3. Nash Qur’an ataupun Hadits datang dan turun sehubungan dengan suatu sebab atau kejadian, baik yang menyangkut perorangan atau jamaah. Yang mana nash tersebut langsung ditujukan kepada mereka. Hal ini sangat berpengaruh, karena dapat mengobati peristiwa yang benar-benar terjadi dan langsung tanpa ditunda. Sehingga jiwa dan hati mereka siap menerima segala perintah untuk dilaksanakan.
  4. Kehidupan mereka dekat dengan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan mereka bekal ilmu yang cukup, sehingga tidak perlu lagi mengerahkan tanaga untuk membedakan mama nash yang shahih dan mana yang tidak. Sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang datang sesudahnya. Para sahabat tidak perlu lagi meneliti silsilah sanad yang berarti tidak perlu pula mengetahui ilmu rijal wal ‘ilal (ilmu yang mempelajarii para rawi). Karena pada masa itu keraguan dalam menetapkan nash yang shahih atas yang dhaif tidak ada.

Sebagaimana banyak terjadi pada sebagian besar orang-orang sesudah mereka, terutama menghinggapi orang yang jiwanya sakit atau teramat bodoh, padahal tidak pernah mempelajari hadits dalam riwayat atau diroyahnya. Lain halnya pada masa sahabat, jika salah seorang diantara mereka berkata: “Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda…”maka seketika itu pula mereka berlinang air mata.

Bahkan ketika hadits palsu telah tersebar, para sahabat yang masih hidup hanya mengambil hadits shahih dari kalangan mereka. Karena itu Ibnu Abbas berkata, “Ketika manusia sudah diombang-ambingkan, kami tidak mengambil hadits kecuali dari orang-orang yang kami kenal”. Begitu juga halnya para sahabat hanya mengambil hadits dari kalangan tabi’in yang terpercaya. Seperti yang diceriterakan Mua’wiyah ra. Ia berkata. “Ini Malik bin Yukhomir mengaku pernah mendengar Mu’adz berkata: “Dan mereka yang di Syam”, maksudnya kelompok yang menang.

2. Terkesannya Jiwa Para Sahabat Dengan Wahyu Dan Iman Secara Mendalam

Sesungguhnya ilmu yang benar yang didasarkan pada dalil adalah ilmu yang bermanfaat. Bukan hanya sekedar teori yang hanya hidup di alam pikiran tanpa ada hubungan dengan hati dan anggota lainnya. Begitulah kiranya kehidupan para sahabat dan orang-orang yang mewarisi sunnah-sunnah Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tergabung dalam Firqah Najiyah.

Mereka telah mewarisi ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala asma’ dan sifat-sifat-Nya, mencintai dan rindu bertemu dengan-Nya untuk menikmati wajah Allah Yang Maha Mulia di surga Adn kelak, mengagungkan-Nya dan takut akan azab dan siksa-Nya. Dan tiada yang paling mereka harapkan melainkan semata-mata mencari ridha-Nya.

Maka sempurnalah sudah perangkat ilmu mereka tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keimanan kepada-Nya, yaitu: cinta, takut dan pengharapan hanya pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka juga mewariskan ilmu tentang surga dan neraka, dengan menginginkan kenikmatan yang kekal dan dijauhkan dari azab yang pedih. Hati mereka hanya berada di antara kenikmatan yang diharapkan dan ditakutkan hilangnya, serta siksaan yang ditakuti kejadiannya. Hati mereka tersimpan di negeri akhirat, sehingga seakan-akan mereka melihat hari berbangkit, timbangan amal, jembatan shirat, surga dan neraka dengan mata kepala sendiri. Sampai-sampai jika seorang dari mereka sedang mengerjakan suatu urusan dunia — yang tidak bisa ditinggal –, maka berontak hati dan jiwa mereka.

Hanzholah bin Rabi’ Al-Usaidi berkata, “Aku bertemu Abu Bakar, dia bertanya: ‘Bagaimana engkau ya Hanzholah?’ Aku jawab: ‘Hanzholah munafik!’ la heran dan bertanya: ‘Subhanallah! Apa katamu?’ Aku jelaskan: ‘Di samping Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam kita diperingatkan dengan surga dan neraka, sehingga kita seperti melihat keduanya dengan mata kepala. Ketika kita keluar dari sisi Rasulullah, kita disibukkan dengan istri, anak dan kehidupan (pekerjaan, harta dan profesi), maka kita banyak lupa!’. Abu Bakar berkata ‘Demi Allah, kita mengalami seperti ini.’ Maka aku berangkat bersama Abu Bakar menghadap Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aku berkata kepada beliau: Ya Rasulullah! Hanzholah telah munafik!’ Beliau bertanya: Apa itu? ‘Maka aku jelaskan: ‘Ketika kami berada di sisimu, kami engkau peringatkan dengan surga dan neraka, sampai sepertinya kami benar-benar melihatnya. Tapi ketika kami keluar dari sisimu, kami disibukkan dengan istri, anak dan kehidupan, maka kami banyak lupa. Lalu Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Demi Allah yang jiwaku ada dalam genggamannya, jika saja kalian bisa terus seperti waktu berada di sisiku dan ingat pasti malaikat akan menjabat (tangan) kalian di atas tempat tidur dan di jalan-jalan. Akan tetapi wahai Hanzholah, sejenak ingat dan sejenak tidak ingat, diulangi Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebanyak tiga kali.” (HR. Muslim, At-Turmudzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengisyaratkan untuk mencari keluhuran, dengan senantiasa menjaga hati dari kelalaian dan kelengahan. Beliau juga mengisyaratkan bahwa keadaan yang diinginkan Hanzholah lebih mirip dengan kehidupan malaikat ketimbang manusia. Ini tidak dituntut dari setiap muslim untuk mewujudkan dalam bentuk yang kontinyu.

Para sahabat juga mewarisi ilmu Qodar yang memang sudah ditentukan. Caranya, dengan tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tapi bukan pasrah tanpa usaha, dan tidak sombong dengan karunia yang diberikan kepadanya, juga tidak bersedih jika tidak diberi, serta meminta secara ijmal. Karena apa saja yang telah ditaqdirkan tidak akan meleset atau lepas darinya.

Dalam hati mereka juga tertancap tonggak keberanian, keperkasaan dan kesatriaan. Sampai-sampai sahabat Ali ra. berperang sambil bersenandung:

Hariku yang mana dari kematian aku kan Iari?

Hari yang tidak masuk taqdir atau sudah ditaqdirkan?

Hari yang tidak ditaqdirkan aku tak gentar

Dari yang ditaqdirkan, hati-hati takkan menyelamatkan

Ilmu dan Iman mereka tentang kematian juga telah diwariskan, jauh dari cinta dunia lagi memburu akhirat, dengan kontinyu beramal, karena jiwa tak tahu kapan ia bakal mati. Sedangkan kematian senantiasa mengintai. Makna-makna kejiwaan seperti ini adalah tujuan utama dari pencarian ilmu.

Jika hilang, maka ilmu pun tidak ada gunanya, bahkan bisa-bisa membahayakan cepat atau lambat. Karena itu Abu Darda ra berkata, ”Kami bersama Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tiba-tiba beliau mengarahkan pandangannya ke langit dan berkata: “Ini adalah waktunya ilmu dicuri dari manusia, sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa dengan ilmu itu.” Ziad bin Labid AI-Anshori langsung bertanya, ”Bagaimana bisa dicuri dari kami padahal kami membaca AI-Qur’an?. Demi Allah, kami benar-benar akan rnembacanya, dan akan kami bacakan pada istri dan anak-anak kami.” Maka Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda “Ibumu kehilangan engkau wahai Ziad!. Jika aku menganggapmu salah seorang dari ahli fiqh Madinah! (tapi toh engkau tidak memahami pernyataanku ini). Taurat dan Injil ini ada di tangan Yahudi dan Nasrani, tapi yang bisa diberikan pada mereka?” Jubair bin Nasir AI-Hadhromi berkata: ”Aku bertemu Ubadah bin Shomit dan berkata padanya, ‘Tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan saudaramu Abu Darda’. Dia berkata: ‘Benar Abu darda’. Jika kau mau, akan kuceritakan padamu, Ilmu yang pertama kali diangkat dari manusia, yakni khusyu’, jama’ah yang masuk ke dalam masjid, engkau hampir tak melihat seorang pun yang khusyu’.” (HR At-Turmudzi, Ad-Darimi, At-Thohawi dan AI-Hakim)

Para sahabat ra. benar-benar mendapat bagian yang besar dari makna kejiwaan ini, karena iman mereka yang mendalam dan sempurna lebih dari iman orang-orang sesudahnya. Mereka telah menerima dari Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan segar dan tidak layu ditiup debu-debu kelalaian.

Kita harus ingat bahwa keterikatan antara makna-makna yang agung ini dengan iImu yang sejati dengan berlandaskan pada nash wahyu menjadlkan mereka terpelihara dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebenarnya ada dua unsur yang dapat membahayakan dan menghancurkan, dimana golongan-golongan yang binasa – nantinya — akan terperosok ke dalamnya, sedangkan para sahabat beserta orang-orang yang mengikuti manhajnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjaganya dari dua penyelewengan:

Pertama, berubahnya ajaran menjadi rohbaniyah (kependetaan) sebagaimana kependetaan Nasrani yang diada-adakan. Seperti, lari menjauhi kehidupan, lari dari jihad, da’wah, amar ma’ruf nahi munkar, dan tidak mau mengurusi soal-soal dunia yang menjadi kebutuhan dasar bagi manusia.

Padahal para sahabat adalah sehebat-hebatnya menunggang kuda disiang hari dan ahli ibadah di malam hari. ilmu, iman dan khusu’an mereka tidak menghalangi urusan dunia mereka, seperti jual-beli, bercocok tanam, perkawinan, memenuhi kebutuhan rumah tangga dan sebagainya. Juga sebaliknya, urusan dunia mereka tidak menghalangi untuk berjihad, berda’wah, serta tugas-tugas pemerintahan Islam yang dibebankan kepada mereka.

Begitulah kepribadian Firqah Najiyah di sepanjang zaman. Tidak tersesat sampai menyerupai Nasrani dalam kependetaan dan pengucilan dari kehidupan. Sepertl juga hanya yang menimpa kaum sufi (yang sesat) dan orang-orang yang berpaling dari ajaran Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kedua, berubahnya suasana yang penuh dilumuri sifat ujub, sombong, memandang remeh pada amal orang lain, dan menganggap rendah usaha orang lain dalam jihad fi sabilillah. Maka ia tak ubahnya seperti katak dalam tempurung, yang merasa besar sendiri.

Ini semua adalah sumber dari keburukan akhlak dan merupakan faktor yang dapat menghapuskan amal shaleh. Orang semacam ini merasa hanya merekalah ahli waris agama ini. Mereka menutup mata dari keutamaan orang lain, bahkan kebaikan di mata mereka menjadi keburukan. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair:

Jika semua kebaikan yang aku tunjukkan menjadi aib dan cela katakan padaku … !! Bagaimana ku cari alasannya?

Inilah penyakit yang diderita oleh Khawarij, salah satu golongan yang binasa. Sehingga mereka berani mengkafirkan semua manusia, bahkan sampai para sahabat dan pengikutnya tak luput pula mereka musuhi dan perangi. Bukanlah perbuatan mereka itu dikarenakan tidak memahami keterangan Al-Qur’an dan hadits, melainkan karena perasaan dengki dan sombong yang bercokol dalam hati mereka. Yaitu, senang memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain.

Dengan demikian betapa pentingnya menggabungkan point A dan B sebagai dua ciri khas dalam pembentukan Firqah Najiyah, sehingga dapat menjadi simbol dan tanda khusus yang membedakan dari Firqah-Firqah lainnya. Yang kebanyakan hanya mengambil Islam secara parsial, dengan mengutamakan satu sisi dan mengabaikan bahkan melupakan sisi lainnya.

3. Pembentukkan Kehidupan Individu Dan Sosial Yang Bertendensi Pada Konsekuensi Wahyu.

 Sesungguhnya makna wahyu yang tertancap kuat dalam hati akan membuahkan tabi’at dalam perilaku manusia, sehingga mudah mengadaptasi seluruh tingkah laku, sikap dan pemikiran dengan AI-Qur’an. Sebagai manifestasinya terciptalah pada setiap pribadi mu’min suatu bentuk ibadah, kedisiplinan, kegigihan, kebaikan, silaturrahim, berderma, mengutamakan saudaranya seiman atas dirinya, jihad, da’wah, amar ma’ruf nahi munkar, sabar, berani dalam kebenaran, dan terbebas dari akhlak yang buruk.

Kesemuanya ter-cipta sebagai terjemahan tingkah laku yang berbicara dengan perasaan Qur’ani yang selalu hidup dalam hati. Di antara segi-segi amaliyah dan hal-ihwal hati ada satu relasi yang tidak mungkin dilupakan begitu saja. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ingatlah di dalam tubuh ada segumpal darah, jika baik maka baiklah jasad seluruhnya, dan jika rusak maka rusaklah jasad seluruhnya, ia adalah hati.”(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ad-Darimi dan Ahmad).

Modal dasar ketaatan hati adalah wahyu yang turun ke hati bagaikan air hujan yang turun ke bumi yang tandus. Maka hati itu akan baik bagi tumbuhnya ketaatan aqidah, perasaan, ucapan dan perbuatan. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan keterkaitan yang kuat antara ilmu yang bermanfaat yang bersumber dari wahyu dengan apa yang dihasilkannya, baik makna-makna kejiwaan, keimanan dan amal shaleh yang bermanfaat bagi pelakunya atau yang lainnya.

Dari Abu Musa ra. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Perumpamaan ajaran yang aku diutus oleh Allah dari hidayah dan ilmu, bagaikan hujan yang lebat yang mengenai bumi. Maka diantaranya ada yang bersih, menerima air dan menumbuhkan padang ilalang dan padang rumput yang banyak, diantaranya juga terdapat yang gersang menahan air. Maka Allah memberi manfaat manusia dengannya, mereka minum, mengairi sawah dan bercocok tanam. Air hujan juga mengenai golongan tanah yang lain yang hanya berupa tanah-tanah datar dan lunak, tidak menahan air dan tidak pula menumbuhkan rerumputan. Maka demikian perumpamaan orang yang mengerti dalam agama Allah, karena bermanfaat baginya apa-apa yang aku diutus oleh Allah, maka ia menjadi alim dan mengajarkannya. Juga perumpamaan orang yang tidak mau mengangkat kepalanya (memperhatikan) dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku diutusnya.(HR. Bukhari, Muslim, An-Nasai, Ahmad, Abu Syaikh Al-Asfahani, dan Abu Ya’la).

Al-Qurtubi mengomentari hadits ini, katanya, “Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyerupakan ajaran yang dibawanya dengan hujan lebat sewaktu manusia membutuhkannya, begitu kondisi manusia sebelum diutusnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana air hujan menghidupi negeri yang mati.

Kemudian beliau memisalkan orang-orang yang mendengar dengan tanah yang bermacam-macam tempat jatuhnya hujan. Diantara mereka ada yang alim dan beramal dengan ilmunya serta mengajarkannya, mereka ini dimisalkan dengan tanah yang bagus dan subur menyerap air untuk kepentingan dirinya dan menumbuhkan tanaman untuk orang lain.

Di antara mereka juga ada yang suka mengumpulkan ilmu dan menghabiskan waktunya untuk mencari ilmu, tapi ia tidak beramal dengannya atau tidak memahami ilmu yang dikumpulkannya. Akan tetapi ia menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain, orang seperti ini dimisalkan dengan tanah yang air hujan menggenang padanya. Sehingga banyak orang yang mengambil manfaat daripadanya, tapi bumi yang ditempati air itu tidak mendapatkan manfaatnya.

Di antara mereka ada yang mempelajari ilmu, tetapi tidak menghafal dan mengamalkannya. Orang ini seperti tanah tandus yang membaja yang tidak menyerap air dan merugikan yang lain”

Dengan merenungkan sifat tanah tipe pertama yang bersih serta perbandingannya dengan tipe tanah lainnya, maka perlu usaha mengosongkan hati dari segala nafsu, penyimpangan dari nash dan menjadikan nash sebagai imam, sedangkan hati dan akal menjadi makmum, sehingga jelaslah bahwa sifat Firqah Najiyah adalah menerima wahyu dan menyerapnya sebagaimana tanah menyerap air.

Berjalannya ruh iman dan ilmu yang benar di hati masing-masing anggotanya seperti jalannya air di tanah bagus yang membuahkan kesuburan dan kehidupan. Ciri khas ini sesuai dengan ciri generasi Firqah Najiyah pertama dari kalangan sahabat dan generasi sesudah mereka dalam bersikap terhadap wahyu samawi, yaitu kegembiraan mereka dalam menerima, mempelajari dan mengimani.

Ini berhubungan dengan keistimewaan nomor satu dan dua yaitu ilmu yang benar yang bertendensikan pada wahyu samawi dan amal-amal hati yang dibuahkan oleh ilmu tersebut. Kemudian perumpamaan tersebut juga mengisyaratkan pengaruh nyata dari ilmu yang bermanfaat yang diproyeksikan lewat amal shaleh, baik yang khusus untuk dirinya maupun untuk orang lain.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Maka menumbuhkan padang ilalang dan padang rumput yang lebat”. Keluarnya rerumputan dari tanah subur setelah disiram hujan adalah hasil alami. Begitu juga keluarnya amal shaleh dari seorang mu’min yang berhati jernih tidak bercampur nafsu dan noda — setelah mendengar wahyu dan mengamalkannya — adalah hasil yang wajar dan alami. Dalam perumpamaan tadi juga terdapat perhatian yang benar kepada ta’lim, jihad, da’wah, amar ma’ruf nahi munkar dan segala amal yang bermanfaat bagi manusia. Karena bagus dan suburnya tanah terlihat dengan adanya rerumputan yang lebat dan luas yang dimanfaatkan manusia untuk hewan ternaknya.

Begitu pula kiranya keshalehan hati mu’min, kebersihan dan kesannya yang mendalam dengan wahyu akan nampak dalam jihadnya dengan Al-Quran, pengajarannya kepada manusia dengan ilmu wahyu dan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menanggung beban da’wah. Ini sangat menguatkan bahwa ciri khas Firqah Najiyah tidak hidup untuk dirinya saja dengan membiarkan orang lain. Akan tetapi bekerja keras untuk merealisir kebaikan yang menjadi sifat dari umat ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berflrman: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah…” (Ali Imran: 110).

Karena sesungguhnya kepentingan Robbani yang diserukan adalah kepentingan manusia secara universal, dengan membimbing manusia pada kebenaran samawi yang dicerminkan dalam Islam dan pembentukan pemerintahan Islam yang memperhatikan kepentingan ini dan melindungi dari tangan-tangan kotor serta menghalau kezaliman dari kaum lemah, maka golongan seperti inilah yang dimaksudkan Allah dalam firman-Nya: “Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada yang memberi petunjuk dengan haq, dan dengan yang haq itu (pula) mereka menjalankan keadilan.” (AI-A’raf: 181).

Maka mereka menjadi duta-duta hidayah, da’wah, iman dan menjadi para imam keadilan dalam hukum dan pemerintahan.

Karena jihad dan da’wah lebih patut menjadi ciri khas Thaifah Manshuroh. Akan tetapi juga termasuk ciri khas Firqah Najiyah. Dengan anggapan bahwa Thaifah Manshuroh adalah satu bagian dengan Firqah Najiyah, yaitu Firqah yang melaksanakan fardhu kifayah yang tidak bisa dikerjakan oleh yang lain. Dimana di sekelilingnya Thaifah Manshuroh adalah seluruh anggota Firqah Najiyah yang siap mendukung dan membantunya.

Adapun unsur kedua dalam permisalan di atas adalah tanah kering yang tidak subur dan gersang bisa menampung air untuk dimanfaatkan manusia, baik untuk minum, irigasi dan bercocok tanam. Tanah tipe ini tidak menerima kehidupan, akan tetapi mampu menampung air untuk manusia. Hal ini menyerupai orang yang membawa pengetahuan wahyu dan syariat, tetapi tidak punya iman dan hatinya terkunci mati. Sehingga tidak satu pun amal shaleh yang dihasilkan sebagai buah dari iImu yang dimilikinya. la hanya hafal ilmu syariat dan menyampaikannya pada orang lain yang lebih faqih dan beriman dengan disertai amal perbuatan.

Memang harus ada gambaran tentang adanya standar bersama dari kesan kelompok ini dengan ilmu yang dibawanya. Karena setidak-tidaknya orang yang mempunyai iImu syariat haruslah seorang muslim, jauh dari tujuan syirik atau murtad. Maksudnya, dedikasi golongan ini lebih banyak terfokus pada studi iImu syariat dan menyampaikan iImu tersebut pada masyarakat, ketimbang orientasi amal. Tidak seperti golongan pertama yang memberi reaksi hidup dan responsi terhadap semua nash (keterangan agama), karena mereka tahu bahwa khitob ditujukan kepada mereka sebelum kepada yang lainnya.

Adapun unsur ketiga dalam permisalan ini ialah tanah yang gersang yang tidak bisa menahan air, sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh manusia dan tidak pula menumbuhkan rerumputan. Permisalan seperti ini adalah gambaran orang yang tidak mempunyai ilmu, hikmah, tidak dapat beramal, dan dia adalah orang yang tercela dalam batas tertentu karena luput dari keutamaan ilmu. Ketiadaan iman dan agama pada seseorang secara keseluruhan dapat menjadikannya kafir hingga berhak menerima semua cela. Orang seperti ini termasuk orang yang tidak memperhatikan kebesaran Islam, sehingga hatinya terkunci dan sulit menerima petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dlbawa oleh Rasul-Nya.

Jika ia masih mempunyai sedikit bagian dari ke-Islaman, meskipun tanpa manifestasi iman dan iImu untuk disampaikannya maka ia terpuji atas apa yang ia mampu melakukannya dan tercela atas apa yang ditinggalkannya.

Jadi, sempurnalah keterkaitan hubungan antara ketiga ciri khas yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan, yaitu hubungan antara iImu sejati yang bertendensi pada nash wahyu, dengan amal hati dan amal anggota badan, serta integrasi ketiga rukun ini dalam ‘kontruksi ciri khas’ Firqah Najiyah.

Hal ini bukan berartl Firqah Najiyah adalah para malaikat yang menjelma dalam bentuk manusia, tidak sama sekali. Bahkan para sahabat — yang merupakan bentuk teragung dari Firqah Najiyah — juga tetap manusia biasa yang mempunyai kelemahan, dan merekapun merasakan betapa beratnya godaan dunia.

Mereka adalah manusia termulia setelah para Nabi, sekalipun terkadang keimanan begitu cepat bergeser dari salah seorang di antara mereka dan melesat bagai air bah yang deras ke bawah, sehingga – membobolkan dinding syahwat. Tetapi dengan cepat pula mereka bangkit dan menambal tempat bobolnya iman dengan merelakan jiwanya menghadapi hukuman — jika dosa besar yang dilakukan, hukum had sekalipun akan dijalankannya – Sebagaimana kisah Ma’iz dan Al-Ghomidiyah.

Kisah Ma’iz banyak diriwayatkan oleh para sahabat, diantaranya adalah riwayat Abu Hurairah ra. yang berceritera: “Seseorang datang pada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau berada di masjid, dan memanggil: “‘Wahai Rasulullah!, Sungguh aku telah berzina”. Seketika itu pula Nabi berpaling daripadanya, maka ia pun mengejar wajah Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berpaling daripadanya dan berkata . “Ya Rasulullah!, Sungguh aku telah berzina. Maka beliau berpaling lagi. Lalu ia mengejar wajah Nabi yang berpaling itu. Maka ketika ia bersaksi atas dirinya sendiri empat kali, Nabi memanggilnya dan berkata: “Apakah kamu terkena penyakit gila?” la menjawab: “Tidak ya Rasulullah!” Nabi bertanya: Apakah kamu muhshon?” la menjawab: “Ya, benar wahai Rasulullah!” Maka Nabi bersabda: “Bawa dia dan rajam!” (HR. Bukhari, Muslim, dan An-Nasai).

Begitu pula kisah Al-Ghomidiyah yang banyak diriwayatkan oleh para sahabat, di antaranya adalah riwayat Buroidah bin Hushoib Al-Aslami. la mengisahkan sebagai berikut: “Tiba-tiba AI-Ghomidiyah – perempuan — datang dan berkata kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Ya Rasulullah! Sungguh saya telah berzina, maka sucikanlah saya”. Sedang Nabi menolaknya. Besoknya ia datang dan berkata: “Ya, Rasulullah! Kenapa engkau menolak saya?. Barangkali engkau menolak saya seperti engkau menolak Ma’iz!. Demi Allah. sesungguhnya saya hamil. “Kemudian Nabi berkata: “Tidak! Pergilah sampai engkau melahirkan”. Maka ketika telah melahirkan, ia datang sambil membawa bayinya dalam kain dan melapor “ini saya telah melahirkan”. Nabi menjawab “Pergilah! Susui bayi itu sampai engkau menyapihnya dari menyusu”. Maka setelah disusui dan tiba saat menyapihnya, ia datang sambil membawa anaknya dengan di tangan sepotong roti. Maka ia berkata: “Inilah ya Nabiullah! Telahku sapih dari susuannya dan sudah memakan-makanan. Maka beliau menyerahkan bayi itu pada seorang muslim, dan memerintahkan agar perempuan itu dibenamkan sampai sebatas dada, lalu memerintahkan orang-orang untuk melemparinya dengan batu. Khalid bin Walid juga maju dengan batu lalu melemparkan pada kepalanya, maka terperciklah darah mengenai wajah Khalid, lalu ia mengumpatnya sampai Nabi mendengar umpatannya. Maka Nabi bersabda: “Sabar ya Khalid! Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh ia telah bertaubat dengan taubat yang jika penarik pajak (riba) bertaubat seperti itu, tentu diampuni”, kemudian beliau memerintahkan untuk menshalati dan menguburkannya. (HR. Muslim, An-Nasai, Ad-Darimi, Ahmad, AI-Baihaqi dan AI-Darukutni).

Firqah Najiyah merasa benar-benar terasing di tengah orang-orang yang menggunakan cara tipu daya, perang ataupun ejekan. ‘Namun demikian keterasingan mereka adalah keterasingan yang terpuji. Mereka adalah pembela agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sejati, tidak merengek-rengek pada yang lainnya, tidak bertaqlid kecuali pada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak menyeru selain kepada ajarannya.

Merekalah orang yang memisahkan diri dari manusia, ketika manusia berangkat bersama sesembahannya di hari kiamat. Mereka tetap tinggal di tempatnya, maka ketika ditanya: “Apakah kalian tidak berangkat seperti orang-orang Itu?” Mereka menjawab: ”Kami memisahkan diri dari manusia, padahal kami sangat berhajat pada mereka dulunya di dunia dan pada hari ini.

Sesungguhnya kami sedang menunggu Rabb yang kami sembah dahulu di dunia.” Keterasingan ini tidak menjadikannya gundah-gulana, tetapi membuatnya tetap senang setiap ada orang yang mengucilkannya, dan lebih merasa gundah-gulana kalau manusia lunak kepadanya, karena walinya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, serta orang-orang yang beriman sekalipun dimusuhi oleh seluruh manusia. Orang-orang terasing (ghurobaa’) adalah mereka yang menggenggam bara api, karena benar.

Mayoritas manusia, bahkan seluruhnya selalu mencela dan mengejeknya hanya lantaran keterasingan mereka di antara makhluk lainnya, maka mereka dianggap aneh dan ahli bid’ah, karena memisahkan diri dari kelompok manusia yang terbesar. Bagaimana satu golongan tidak menjadi kelompok yang sedikit, ketika la terisolir di antara tujuh puluh dua golongan lainnya yang punya pengikut, pemerintahan, penguasa, dan wilayah.

Semoga kita dapat mengintropeksi diri dimanakah keberadaan kita hari ini, semoga Allah memudahkan hidayahNya menerangi dan mensucikan hati kita, Insya Allah.

2 respons untuk ‘Ciri Khas dan Keistimewaan Firqah Najiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s