Firqah Najiyah (Golongan yang Selamat)

Disadur dari tulisan ; Salman Ibnu Fahd Al Audah Al Qashim.

Sesungguhnya ummat ini ditinggalkan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam kondlsi yang kuat, bersatu atas kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam melaksanakan seruan-Nya. Tapi kini telah kerasukan berbagai faktor yang melemahkan dan meruntuhkan seperti yang pernah terjadi pada ummat ini sebelumnya, hingga menimbulkan perpecahan, perselisihan, pertentangan dalam mazhab yang berbeda-beda. Dengan aliran yang bermacam-macam ini timbullah golonganisme yang saling mengkafirkan, melaknat, bahkan saling membunuh sesama ummat.

Disamping fakta yang tidak bisa dielakkan, kita juga dapat menemukan nash dalam AI-Qur’an dan As-Sunnah yang menerangkan dua sisi penting.

Sisi Pertama Sesungguhnya pasti akan terjadi pada ummat ini perpecahan, perselisihan, dan saling membunuh, sedangkan nash-nash hadits – terutamanya – dalam hal ini sangat banyak dan tidak terhitung. Diantaranya mengisyaratkan secara umum perselisihan dan perpecahan yang akan terjadi pada ummat ini, atau mengisyaratkan sebab-sebab perselisihan tersebut.

Diantaranya mengisyaratkan secara rinci dan pasti beserta segala akibat-akibatnya. Nash disini berbicara mengenai perkara secara kodrat dan qadha’ yang sudah ditetapkan sebelumnya, dan yang sudah pasti akan terjadi yang tidak bisa ditolak lagi.

Pemberitaan tentang kejadian, peristiwa dan perubahan-perubahan yang akan menjadi cobaan bagi ummat ini sebenarnya memberikan hikmah yang tidak sedikit, diantaranya:

  1. Segala bukti atas kebenaran nubuwah yang diterima oleh baginda Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan bahwasanya beliau menerima semua itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui segala yang gaib, yang tidak akan memberi tahu pada siapapun kecuali pada orang yang Dia ridhai dari para Rasul. Kabar ini adalah menguatkan dan menambah keimanan bagi orang-orang yang mendengarnya, dimana mereka mendapatkan kenyataan yang terjadi sesuai dengan kabar yang dibawa oleh Rasul. Sehingga mereka menyatakan bahwa inilah sesungguhnya yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya kepada kami. Dan benarlah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Yang juga sekaligus merupakan pengukuh, penambah, dan pembaharu keimanan bagi orang-orang yang menyampaikan kabar ini pada orang lain, karena keyakinan mereka menjadi keyakinan yang sebenar-benarnya tatkala menyaksikan dengan mata kepala kebenaran dari sebagian yang diberitakan oleh baginda Rasul Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
  2. Perkara ini merupakan hal yang paling detail dalam menentukan jalan keselamatan dari fitnah dan musibah. Oleh karena seorang manusia bagaimanapun diperingatkan agar hati-hati dari mara bahaya – tanpa diberitahu batasan bahaya itu atau tanpa diterangkan apa-apa yang bisa menjerumuskannya – bisa jadi ia tidak bisa membayangkan atau penyebab terjadinya – juga belum jelas tabiat masalah yang dihadapinya. Bisa saja ia terjerumus kedalamnya tanpa disadari bahwa itu yang dikhawatirkan atasnya.

Perincian peristiwa dan pembatasannya akan memudahkan semua pihak-pihak – baik ulama atau yang lainnya untuk mengenali ketika peristiwa itu benar-benar terjadi, tentunya sesuai dengan nash.

Penuturan peristiwa secara rinci akan menentukan cara penanggulangannya secara rinci pula. Dimana rincian ini akan menguatkan hati orang yang mengalami fitnah tersebut, bahwa yang bisa menjelaskan jalan keluar secara tepat adalah orang yang sangat menguasai dan mengerti peristiwa tersebut. Dengan demikian bertambahlah imannya, karena ia menyadari bahwa tidak ada jalan keluar selain yang disebut nash-nash tadi, bahkan bisikan syetan yang menyatakan bahwa dalam peristiwa itu ada hal-hal yang samar yang mungkin bukan itu yang dimaksud oleh nash agar segera dihilangkan.

  1. Pemberitaan peristiwa ini – baik secara global maupun secara detail- membawa peringatan keras agar tidak ikut terjerumus dalam peristiwa yang menghancurkan. Yang demikian itu karena orang mu’min ketika mendengar berita dari Rasul Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa diantara mereka akan ada yang saling membunuh, cinta dunia, meninggalkan jihad, dan seterusnya, yang membangkitkan jiwa mereka untuk menghadapi fitnah tersebut. Diantara mereka berkata, “Mudah-mudahan aku selamat”, sehingga orang yang mendapatkan taufik akan sangat takut terjerumus dalam fitnah yang membinasakan karena kelalaiannya. Sedangkan rasa takut dalam hal ini adalah jalan keselamatan yang besar, karena siapa yang takut ia akan selamat.
  2. Berita-berita ini dapat menjadi sebab taubatnya orang-orang yang bergumul dengan fitnah ketika melihat tanda-tanda kerusakan yang dikhawatirkan, sehingga sadar dan terbuka matalah mata mereka atas kebenaran nash hadits, lalu bertaubat dan kembali kepada jalan yang lurus.
  3. Pemberitaan akan peristiwa ini adalah bagian penting dari tugas Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyampaikan kepada umatnya secara masal, karena diantara mereka ada yang akan menemui fitnah tersebut sehingga memerlukan penjabaran yang cukup.

 

Sisi Kedua Adalah seruan untuk berhati-hati dan waspada terhadap fitnah dan sebab-sebabnya baik secara khusus maupun datang bersamaan dengan kabar terjadinya fitnah.

Jika ancaman dapat difahami dalam nash-nash yang berhubungan dengan sisi pertama, maka nash pada sisi ini akan memberi peringatan agar waspada dengan apa yang bakal terjadi. Ini adalah perkara yang sangat membingungkan bagi sebagian orang. Mereka dikejutkan dengan ancaman yang pasti bakal terjadi. Sedangkan untuk menolaknya — secara keseluruhan — adalah mustahil.

Perbedaan nash-nash yang melarang berselisih dan nash yang memberitakan terjadinya perpecahan adalah perbedaan antara syariat dan qadar. Syariat adalah kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk orang mukallaf supaya menjalankan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya.

Syariat bukan berarti batal jika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa mayoritas penduduk bumi akan kufur dan menolak kebenaran serta mendustakan para Rasul.

Tentunya juga bukan berarti bahwa Allah Azza wa Jalla mengizinkan kekufuran, jika banyak nash yang memberitakan akan terjadi kekufuran di muka bumi sebagai qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nash-nash terakhir tidak menunjuk pada perorangan (orang-orang tertentu), akan tetapi memberi batasan akan waktu dan tempat kejadian serta sikap-sikap yang harus diambil, manusialah yang bebas memilih untuk dirinya masing-masing sesuai dengan kehendaknya. Nash-nash tersebut telah menunjukkan jalan keselamatan dan jalan kehancuran, juga menunjukkan sifat-sifat orang yang selamat dan yang binasa, sekaligus pula membedakan antara dua golongan tersebut.

Sebagaimana ia memaparkan masalah iman dan sarana–sarananya, serta kekufuran dan penyebab-penyebabnya. Diantara nash-nash itu adalah hadits-hadits yang menerangkan perpecahan umat — topik bagian pertama — dan hadits-hadits tentang kelompok yang mendapat pertolongan — topik bagian kedua — serta hadits-hadits tentang orang-orang terasing dengan jumlahnya yang minoritas pada bagian ketiga.

Dalam semua hadits ini terdapat nash yang jelas-jelas menunjukkan berkurangnya kabar kebaikan pada umat ini, dengan terbukti menonjolnya berbagai kejahatan, fitnah, dan aliran-aliran yang menyesatkan. Sehingga orang-orang pilihan, pewaris kenabian, pemegang AI-Qur’an dan As-Sunnah — yang menjauhi penyelewengan yang dilakukan manusia berupa meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar — menjadi terasing di tengah-tengah keluarga, kerabat, bangsa, dan negeri sendiri. Tentunya bukan keterasingan jasad, melainkan keterasingan ruh, jiwa, falsafah hidup, serta perilaku.

Akhirnya berkumpullah dua keterasingan, jiwa dan jasad, yang senada dengan ungkapan seorang penyair, Aku terasing, terasing jiwaku sendirian Aku terasing, terasing dari, gubuk dan handai tauladan Kerapkali aku rindu pada sang istri dan tanah kelahiran ….para sahabat dimasa semangat dan bersenang-senang ….pada tempat kediaman, dari agama dan tata kesopanan ….pada sumur-sumur ilmu dan peradaban ….pada masjid, dimana hati telah kutambatkan dan pada adzan bak irama kekal di air pancuran

Dengan demikian jelaslah hubungan antara golongan yang selamat (Firqah Najiyah), kelompok yang mendapat pertolongan (Thaifah Manshuroh), serta orang-orang yang terasing (Al-Ghurobaa’). Firqah Najiyah sangat terasing di tengah-tengah tujuh puluh dua golongan yang lain. Dan lebih terasing lagi dihadapan penganut agama-agama bumi yang kafir. Orang-orangnya secara individual sudah terasing, maka secara jama’ah pun mereka adalah jama’ah yang asing.

Sedangkan Thaifah Manshuroh terasing di antara warga umat ini, dari orang-orang yang tidak sepaham dalam kebenaran, tidak mendukungnya dan tidak pula memperjuangkannya. Maka bagaimana pula dengan yang Iainnya?. Tentu keterasingan mereka akan bertambah hebat dan berat. Akan tetapi kata terasing mencakup keseluruhan, sebagaimana mencakup orang-orang Islam yang berada ditengah-tengah orang kafir. Dengan demikian jelaslah bahwa sifat keselamatan dan kemenangan adalah milik bagi sebagian orang-orang yang terasing. Disamping ada sifat-sifat lain yang dikandung dalam hadits Ghurbah itu sendiri.

Hadits-hadits tentang Firqah Najiyah telah diriwayatkan oleh sejumlah besar para sahabat, diantaranya: Abu Hurairah, Mu’awiyah, Abdullah Ibnu Amr Ibnul Ash, ‘Auf Ibnu Malik, Anas Ibnu Malik, Abu Umamah, Ibnu Mas’ud, Jabir Ibnu Abdillah, Sa’ad Ibnu Waqqash, Abu Darda’, Watsliah Ibnul Asqa’, Amr Ibnu ‘Auf AI-Muzany, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Musa AI-As’ary. Sebagian besar hadits-hadits tersebut menyebut Firqah Najiyah sesudah menyebutkan ikhtilaf.

Tetapi sebagian Iainnya menyebut perselisihan tanpa menyinggung Firqah Najiyah. Di sini akan di paparkan seluruh hadits tersebut satu persatu, sehingga menjadi jelas ketetapan dan kebenaran berita-berita tersebut — tanpa bisa dibantah — karena antara yang satu dengan yang Iainnya saling menguatkan. Sehingga dengan hadits-hadits tersebut dapat menjadi bukti adanya Firqah Najiyah. Serta menjadi yakin seyakinnya tanpa keraguan sedikitpun setelah nantinya menyebutkan Thaifah Manshuroh

  1. Kumpulan Hadits Firqah Najiyah

1). Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda: “Bangsa Yahudi telah pecah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan orang Nasrani pecah menjadi tujuh puluh satu golongan, sedang umatku akan pecah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HR. Abu Dawud).

2). Dari Abu Amir Abdillah bin Luhai, ia berkata, “Kami berhaji bersama Mu’awiyah bin Abi Sufyan tatkala sampai di Makkah, ia berdiri setelah selesai shalat zuhur sambil berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya dua golongan ahli kitab telah berpecah dalam agamanya menjadi sekte tujuh puluh dua sekte; dan sesungguhnya umat ini akan pecah menjadi tujuh puluh tiga sekte, yakni al-hawa’ (hawa nafsu) semuanya masuk neraka kecuali satu yaitu al-jama’ah. (HR. Ahmad, Hakim, Ibnu Hibban, Abu Ya’la, dan Ibnu Abi ‘Ashim).

3). Dari Auf bin Malik ra berkata, “Bersabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam “Yahudi pecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu di surga tujuh puluh masuk neraka. Nasrani pecah menjadi tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu masuk neraka yang satu masuk surga. Dan demi jiwa Muhammad yang ada dalam genggaman-Nya, umatku akan pecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yang satu masuk surga dan yang tujuh puluh dua masuk neraka.” Kemudian Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Beliaupun menjawab, ‘AI-Jama’ah.”

4). Dari Auf bin Malik, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Umatku akan pecah menjadi tujuh puluh golongan lebih, fitnah yang paling besar menimpa umatku adalah kaum yang mengqiyaskan (mengukur) segala urusan dengan akalnya, mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.” (HR, Bazzar, Thabrani, Ibnu Adi, Baihaqi, Abu Zar’ah, Ibnu Baththah, Hakim, dan Ibnu Abdil Bar).

5). Dari Auf bin Malik, bersabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Bagaimana engkau hai Auf, jika umat ini pecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, hanya satu yang masuk surga sedang yang lain masuk neraka?” Saya bertanya, “Kapan itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika para budak wanita jadi kaya, penguasa yang zalim duduk di atas mimbar, dan jika AI-Quran dijadikan seruling, masjid-masjid dihiasi dan mimbar-mimbar ditinggikan.” (HR. Thabrani).

6). Dari Abdilah bin Amr bin AI-Ash ra bersabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Pasti akan menimpa umatku apa yang telah menimpa bani Israil, persis seperti sandal jika dipadukan dengan yang lain, sampai-sampai jika diantara mereka ada yang menzinahi ibunya terang-terangan. Tentu diantara umatku pun akan ada yang berbuat serupa. Sesungguhnya bani Israil telah pecah menjadi tujuh puluh dua agama, dan umatku akan pecah menjadi tujuh puluh tiga agama, semuanya masuk neraka, kecuali satu.” Sahabat bertanya, “Siapa mereka ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Yaitu apa yang dikerjakan olehku dan oleh sahabatku.” (HR. Turmudzi, Ibnu Wadhdhah, AI-Marwazi, AI-Laalikai, AI-Aqili, AI-Hakim, Ibnu Baththan dan Qawamus-Sunnah AI-Asfahani).

7). Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya bani Israil berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, sedang umatku akan pecah menjadi tujuh puluh dua golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu, al-jama’ah,” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Abi Ashim).

8). Dari Abi Umamah ra berkata, “Bani Israil telah pecah menjadi tujuh puluh satu golongan — atau tujuh puluh dua — sedangkan umat ini akan tambah satu lagi (tujuh puluh tiga). Semuanya di neraka kecuali as-sawad al-‘a’sham (kumpulan orang terbanyak dimasa Salafus Shalih). Maka seseorang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Umamah!. Apa ini pendapatmu sendiri ataukah mendengar dari Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam ?”. la pun menjawab, “Kalau begitu berarti aku sangat berani (lancang). Aku mendengar dari Rasulullah tidak sekali dua kali, bahkan tiga kali.” (HR. Ibnu Abi Ashim, Thabrani, Baihaqi dan Abu Amr Addani).

9). Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra berkata, “Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Bani Israil pecah menjadi tujuh puluh satu agama. Siang hari dan malam tidak akan berlalu kecuali umatku pun akan pecah sama dengan bani Israil.” (HR. AI-Aajjuri, AI-Marwazi, Bazzar dan Ibnu Baththah).

10). Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, “Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai Ibnu Mas’ud!. Tahukah engkau bahwa bani Israil pecah menjadi tujuh puluh dua golongan, tidak ada yang selamat kecuali tiga golongan. Golongan yang pertama hidup di tengah-tengah raja diktator, mereka mengajak kepada agama Isa tetapi mereka disiksa, dibunuh dengan gergaji dan dibakar dengan api. Maka mereka pun sabar sampai bertemu Allah. Kemudian datang golongan lain (kedua), tetapi tidak mempunyai kekuatan dan tidak sanggup menegakkan keadilan. Akhirnya mereka pergi ke gunung untuk beribadah dan menjadi pendeta. Mereka yang disebut Allah dalam firman-Nya: “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah (tidak beristri dan mengasingkan diri): Kami tidak memerintahkan yang demikian kepada mereka, tetapi (mereka perbuat), karena menuntut keridhaan Allah. Dan kebanyakan mereka orang-orang fasik.” Sedang golongan yang lainnya (ketiga) beriman, mereka itulah yang membenarkan Aku (beriman kepada-Ku), mereka itulah yang tetap memelihara keimananya. Tetapi banyak diantara mereka yang fasik, yaitu orang yang tidak beriman kepada-Ku dan tidak percaya kepada-Ku serta tidak memelihara keimananya, mereka itulah yang disebut orang fasik oleh Allah.” (HR. Tabrani, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Abu Ashim).

11). Dari Abi Darda’, Abi Umaman, Watsilah bin Al-Asqa dan Anas bin Malik ra sesungguhnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda “Tinggalkanlah perdebatan! Sesungguhnya bani Israil telah berpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, sedangkan orang Nasrani pecah menjadi tujuh puluh dua golongan, semuanya dalam kesesatan kecuali kumpulan orang yang paling besar.” Para sahabat bertanya, “Siapa kumpulan yang paling benar itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “orang-orang yang mengikuti aku dan sahabatku, yang tidak berdebat dalam agama Allah dan tidak mengkafirkan seseorang ahli tauhid, karena dosa yang masih bisa diampuni ” (HR. Tnabrani dan Ibnu Hibban).

12). Dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf bin Zaid dari bapaknya dan dari kakeknya, ia berkata, “Kami sedang duduk-duduk di sekeliling Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam masjid, tiba-tiba beliau bersabda: “Kalian benar-benar akan mengikuti jalannya orang-orang sebelum kamu, seperti sebuah sandal dipadukan dengan yang lain. Kalian benar-benar akan mengambil apa yang mereka ambil. Jika sejengkal maka sejengkal; jika sehasta maka sehasta, dan jika sedepa maka sedepa pula. Sampai seandainya mereka masuk ke liang biawak pun kalian akan memasukinya pula. Ingatlah! Sesungguhnya bani Israil telah pecah dalam agama Musa as menjadi tujuh puluh satu golongan, semuanya sesat kecuali satu golongan, yaitu Al-Islam dan jama’ahnya. Dan juga mereka telah pecah dalam agama Isa bin Maryam menjadi tujuh puluh satu golongan, semuanya sesat kecuali satu golongan, yaitu AI-Islam dan jama’ahnya. Kemudian mereka akan menjadi tujuh puluh dua golongan, semuanya sesat kecuali satu golongan, yaitu AI-Islam dan jama’ahnya.” (HR. Hakim).

13). Dan Ali bin Abi Thalib ra bahwasanya ia mengundang Ro’su Jalud dan Uskup Nasrani, lalu berkata, “Aku akan bertanya pada kalian tentang sesuatu — yang aku lebih tahu dari kalian – maka sekali-kali jangan menutup-nutupi! Wahai Ro’sul Jalut! Aku menyumpahmu pada Allah yang telah menurunkan Taurat pada Musa as, yang telah memberi makan kalian ‘manna’ (sebangsa madu) dan ‘salwa’ (burung sebangsa puyuh), lalu telah memben-tangkan jalan untuk kalian di tengah laut, yang telah memancarkan dua belas mata air untuk kalian dari satu batu. Bagi setiap suku bani Israil satu mata air, kecuali satu yang belum kau beri tahu aku, pecah menjadi berapa golongan bani Israil setelah ditinggal Musa?” Lalu ia menjawab, “Kamu bohong! — diulang tiga kali — “Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sungguh kalian telah pecah menjadi tujuh puluh satu golongan, semua masuk neraka kecuali satu.” Kemudian beliau panggil uskup dan berkata: “Aku menyumpahmu pada Allah yang telah menurunkan Injil pada Isa as yang telah memberi barkah atas perpindahannya, yang telah memperlihatkan tanda kekuasaan-Nya. Dimana ia bisa menyembuhkan orang buta, menghidupkan orang mati atas izin-Nya, membuat burung dari tanah liat untuk kalian, memberitahukan apa yang kalian makan dan yang kalian simpan di rumah-rumah.” Serentak uskup berkata, “Selain ini saya juga mempercayai anda wahai Amirul Mukminin!” Lalu Ali ra bertanya, “pecah menjadi berapakah orang Nasrani sepeninggalkan Isa ra ?” Jawabnya, “Demi Allah tidak, tidak satu golonganpun!” Sayyidina Ali membantah, “Kau bohong! – beliau ulangi tiga kali — Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, orang Nasrani benar-benar telah pecah menjadi tujuh puluh dua golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” ‘Adapun engkau wahai Yahudi sesungguhnya Allah telah berfirman: “Diantara kaum Musa ada satu umat yang menunjukkan dengan kebenaran, dan dengan kebenaran itu mereka berlaku adil”, (QS. AI-A’raf: 159) merekalah yang selamat. Dan engkau wahai Nasrani! Allah telah berfirman: “Diantara mereka itu ada umat pertengahan (adil), tetapi kebanyakan mereka amat jahat perbuatannya”, (QS. AI-Maidah: 66) umat itulah (umat pertengahan) yang selamat. Sedangkan kami (yakni kaum Muslimin), Allah telah berfirman “Diantara orang yang Kami jadikan ada satu umat yang mendapat petunjuk dengan kebenaran, serta berlaku adil dengan kebenaran itu” (QS. AI-A’raf: 181) umat itulah yang selamat dari umat Islam ini.” (HR. AI-Marwazi).

14). Dari Abdullah bin Qois ra ia berkata, “Telah berkumpul “Jatsilitu Nasoro’ dan Rosul Jalut di hadapan khalifah Ali ra. Ro’sul Jalut berkata, “Kalian mempersoalkan pecah menjadi berapa golongan Yahudi?” Lalu lanjutnya,”…menjadi tujuh puluh satu golongan.” Maka Sayyidina Ali berkata, “Umat ini (Islam) pasti akan pecah sebagaimana mereka. Golongan yang paling sesat dan jahat adalah yang mengajak (cinta) pada kami — ahlul bait — sebagai tandanya mereka mencaci maki Abu Bakar dan Umar ra.”(HR. Ibnu Baththah).

15). Dari Jabir bin Abdillah ra ia berkata, “Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Yahudi telah pecah menjadi tujuh puluh satu golongan, semuanya di neraka. Nasrani pecah menjadi tujuh puluh dua golongan, semuanya di neraka. Dan sesungguhnya umatku akan pecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” Maka Umar bin Khathtab berkata, “Wahai Rasulullah, ceritakan kepada kami siapakah mereka itu?” Nabi menjawab, “Kumpulan orang yang terbesar (di zaman Salafus Shalih).” (HR. Aslam bin Sahl AI-Wasithy).

Inilah hadits-hadits tentang perselisihan umat dan Firqah Najiyah yang bisa di kumpulkan. Semuanya ada lima belas hadits. Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah besar sahabat Nabi ini membuat kita yakin bahwa semuanya bersumber dari baginda Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Juga sekaligus membuktikan adanya perpecahan umat, sebagaimana yang dialami ahli kitab sebelumnya, bahkan lebih parah dari yang sebelumnya. Dan ini merupakan perlngatan agar kita hendaknya waspada terhadap fitnah tersebut.

Semua golongan dari pecahan umat adalah tercela dan diancam dengan neraka, kecuali satu golongan, yaitu Fiqroh Najiyah yang terasing di tengah-tengah golongan tersebut. Ini adalah sebagai tabsyr (kabar gembira) dan tahdzir (peringatan). Yang juga sekaligus menunjukkan bahwa kebenaran akan selalu ada yang membela dan sabar membawanya. Selain itu terdapat anjuran bagi setiap muslim untuk mencari jalan orang-orang yang selamat.

  1. Ada Berapakah Jumlah Firqah dalam Umat Ini?

 Banyaknya bilangan golongan ini dapat klta lihat dalam hadits-hadits yang telah dipaparkan di muka, yaitu sebagai berikut:

  1. Sebagian menyebutkan beberapa tanpa membatasi bilangan, seperti dalam hadits Auf bin Malik dari jalan Hamad bin Nu’aim, yaitu hadits mungkar. Seandainya hadits-tersebut shahih, maka maknanya harus tertuju pada bilangan tertentu seperti yang terdapat dalam hadits-hadits lain. Misalnya seperti kata bidh’un yang artinya beberapa, yakni bilangan antara empat sampai sembilan. Dan kata nayyif yang artinya lebih dari satu sampai tiga yang biasa digunakan setelah puluhan, sebagaimana dalam riwayat Ibnu Baththah dalam kitab As-Syarhu wal Ibnah.
  2. Sebagian membatasi bilangan sejumlah tujuh puluh satu, seperti hadits Sa’ad dan Abu Musa yang sama-sama dhaif.
  3. Sebagian menyebutkan tujuh puluh dua, sebagaimana yang terdapat pada sebagian riwayat Anas dan hadits Amr bin Auf yang juga dhaif.

6.  Sebagian besar menyebutkan tujuh puluh tiga, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah, Mu’awiyah, Auf bin Malik, Abdullah bin Amr bin Ash, sebagian riwayat Anas, Ali bin Abi Thalib dan Jabir. Semua riwayat yang menyebut tujuh puluh tiga lebih unggul dari segi keshahihan dan jumlahnya.

Adapun riwayat tujuh puluh satu ditolak karena dhaif dan menyalahi riwayat-riwayat yang lebih shahih dan lebih banyak. Seandainya shahih sekalipun, riwayat tujuh puluh satu tetap ditolak, apalagi bila jelas-jelas dhaif.

Sedangkan riwayat tujuh puluh dua banyak yang dipersoalkan. Seandainya diakui kebenarannya sekalipun, bilangan tujuh puluh dua yang dimaksudkan hanyalah golongan yang binasa saja. Sedangkan Fiqroh Najiyah (golongan selamat) adalah penyempurna bilangan hingga menjadi tujuh puluh tiga. Dan tidak dapat diterima jika riwayat-riwayat tujuh puluh dua menyebutkan bahwa yang binasa adalah tujuh puluh satu, yang berarti pula riwayat-riwayat tersebut dhaif dan tidak bisa menandingi riwayat tujuh puluh tiga. Ringkasnya, riwayat tujuh puluh tiga adalah lebih unggul dari segi keshahihan dan jumlahnya.

III. Siapa Golongan Yang Binasa?

Ketentuan mana dan siapa golongan ini, sudah dibahas oleh para ulama. Orang pertama yang membicarakan hal ini adalah Yusuf bin Asbath dan Abdullah Ibnul Mubarok yang menyatakan “Pangkal bid’ah ada empat, yakni Rowafid, Khawarij, Qodariyah dan Murji’ah.”

Kemudian ditanyakan kepada Ibnul Mubarok, “Bagaimana dengan Jahmiyah.” Sebagian yang lain mengatakan bahwa induk golongan yang binasa ada enam, yaitu empat yang tadi ditambah dua: Jahmiyah dan Jabariyah.

Dan ada pula yang mengatakan sembilan, yaitu ditambah tiga lagi: Mu’tazilah, Musyabbihah dan Najjariyah. Berdasarkan pangkal atau induk golongan yang besar-besar ini, para pengarang sibuk membahas tujuh puluh tiga golongan serta sempalan-sempalannya. Sebagaimana yang ditulis oleh Imam AI-Malthi dalam kitab At-Tahbih war Raddu ‘ala Ahlil Ahwa’ wal Bida’, Asy Syaharostani dengan kitabnya AI-Milal wan Nihal, AIBaghdadi dengan kitabnya AI-Farqu Baina AI-Firoq, Ibnu Qayyim dengan kitabnya Talbis Iblis, As-Sakaski AI-Hambali dengan kitabnya Al-Burhan, dan yang lainnya.

Beberapa Sanggahan yang ditujukan pada metode ini:

  1. Para penulis terlalu memaksakan diri dalam menghitung banyaknya golongan supaya sesuai dengan bilangan dalam hadits. Terkadang menghitung satu golongan lebih dari satu, dengan berdasarkan perselisihan mereka dalam furu’ yang bukan ajaran pokok. Terkadang juga membatasi diri dalam menghitung satu golongan terbatas pada beberapa kelompoknya dan tidak menyeluruh. Andaikan mau memperluas sedikit saja dalam menghitung kelompok-kelompok dari satu golongan, seperti halnya Sufiyah dan Ismailiyah, maka akan mencapai jumlah tujuh puluh.

Sebahagian yang belum diterima akal serta menyalahi hukum yang berlaku adalah keberadaan umat yang terdiri dari enam golongan, dimana dalam tiap-tiap golongan terdapat dua belas kelompok. Begitu juga jika umat terdiri dari empat golongan besar, dimana masing-masing golongan terdiri dari delapan belas kelompok.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebani kita untuk mencari dengan pasti mana dan siapa golongan-golongan yang sesat, kecuali kalau hal itu mudah dan jelas, tidak simpangsiur dan mengada-ada. Maka ketika itu menghitungnya adalah sebagai tanda kebenaran apa yang diberitakan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam haditsnya, serta sebagai bukti bagi orang-orang yang ragu terhadap kenabiannya.

Tetapi sikap seperti ini, bukanlah sikap seorang yang beriman, karena setelah ia dengar seruan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, tiada pilihan lain kecuali kami dengar dan kami taat.

Sesungguhnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak membatasi kurun waktu bagi munculnya golongan-golongan ini. Bahkan boleh jadi adanya golongan yang muncul dalam sejarah Islam dapat bertahan sampal Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan bumi ini dan segala yang di atasnya, karena tidak ada yang tahu tentang yang gaib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Disini kita dapati bahwa sejumlah besar golongan-golongan tersebut muncul di tengah-tengah kaum Muslimin sesudah para ulama selesai menghitung sampai jumlah tujuh puluh dua. Golongan tersebut antara lain: Qodiniyah, Bahaiyah, Qoumiyah dan yang lainnya. Tidaklah bertentangan jika adanya aliran-allran baru ini adalah aliran-aliran kafir, yaitu berdasarkan kriteria yang dipakai oleh para ulama dalam menghitung aliran terdahulu hingga mencapai jumlah tujuh puluh tiga golongan. Kriteria tersebut dapat diterapkan pada aliran-aliran baru, seperti pada aliran kebatinan dari Sab’iyah, Qoromithoh dan Tanasukhiyah.

  1. Orang yang memperhatikan hadits perpecahan dengan seksama akan menemukan perbedaan yang sangat jauh antara pemahaman para sahabat ra. dengan pemahaman orang-orang sesudahnya.

Para sahabat ketika mendengar berita yang memilukan ini, langsung cepat-cepat bertanya tentang golongan mana yang selamat, keistimewaannya, dan ciri-ciri khususnya. Orang yang bertanya itu adalah Umar bin Khattab, sebagaimana yang terdapat dalam hadits riwayat Jabir dan yang lainnya. Dimana pada intinya perhatian mereka terfokus pada golongan yang selamat dan sifat-sifatnya, dengan itu mereka berhati-hati dan menjauhi golongan lainnya yang akan binasa.

Adapun orang-orang sesudah mereka — terutama pengarang-pengarang mutahir tentang golongan-golongan tersebut — terlalu disibukkan dengan golongan yang sesat. Menghitung dan menulis makalahnya lebih banyak ketimbang menentukan siapa dan mana golongan yang selamat dengan segala sifat-sifatnya, untuk kemudian dapat bergabung bersamanya dalam keselamatan.

Tentunya bukan berarti orang Islam tidak boleh mengetahui jalan dan aliran orang-orang yang sesat. Sebagaimana sahabat Huzaifah pernah bertanya kepada baginda Rasul Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang keburukan yang akan terjadi, karena takut menjumpainya. Ini dimaksudkan sebagai sarana untuk waspada dari kesesatan tersebut, menolak serta membantahnya. Sekaligus menjadi faktor untuk tetap gigih mengikuti jalan yang lurus, sehingga tidak mudah dibelokkan dari pokok ajaran agama yang termaktub dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Jelasnya, tidak bisa diterima kalau kita terlalu disibukkan dengan sarana dan melupakan tujuan yang sesungguhnya. Yang paling penting untuk dlketahui tentang aliran sesat adalah pokok-pokok ajarannya (ushulnya), manhajnya; sebab-sebab penyelewengan, cara menentang, dan membeberkan kerusakannya. Adapun mengetahui secara detail tentang ajarannya sampai yang terkecil, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah memerintahkannya. Bahkan hal itu telah menyeret orang Islam pada beberapa madharat; antara lain: memaksa mereka untuk membicarakan masalah furu’iyah yang tidak ada nashnya dan tidak pernah pula dibahas oleh Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabatnya.

Andai saja mereka mempelajari pokok-pokok ajaran kemudian membantah dan menyanggahnya, berarti mereka sudah merusak seluruh ajaran. Karena runtuhnya pangkal berarti runtuhnya cabang. Inilah manhaj yang banyak dipergunakan oleh ulama salaf yang hidup pada zaman bid’ah dan ditengah-tengah kegiatannya. Misalnya, Imam Ahmad, AI-Aajjuri, AI-Laalikai, Ibnu Baththah dan yang lainnya.

  1. Apakah Firqah-Firqah itu Kafir?

Pertanyaan ini telah membawa debat panjang dikalangan para ulama. Ada yang mengkafirkan dengan mengambil alasan dari pernyataan Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa mereka termasuk golongan yang binasa dan kekal di neraka. Seperti halnya Khawarij yang secara umum dianggap kafir dan keluar dari Islam. Ada juga yang menganggapnya sesat dan fasik, tidak sampai pada tingkat kufur atau keluar dari agama dan tidak kekal dalam neraka.

Yang pasti dalam hadits tidak ada sesuatu yang menunjukkan atas pengkafiran, karena ancaman neraka tidak harus kekal di dalamnya. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan ancaman neraka terhadap beberapa dosa atau maksiat, yang disepakati oleh para ’ulama bahwa tidak kafir orang yang melakukannya. Misalnya saja melarikan budak dari tuannya, menggauli istri pada duburnya, benci kepada orang tua dan tidak suka dinasabkan kepadanya, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap menganggap golongan tersebut sebagai umatnya, karena dalam perkara ini berlaku Hukum Asal, dimana seorang muslim tetap atas ke-Islamanya dan tidak keluar dari padanya kecuali dengan sesuatu yang menyakinkan kekafirannya. Karena itu pendapat yang benar adalah — secara keseluruhan — golongan-golongan tersebut tetap dalam ke-Islamannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: ” …begitu juga tujuh puluh dua golongan yang lain, ada yang munafik karena kafir dalam hatinya, ada yang tidak munafik bahkan beriman pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dalam batin, dan ada pula tidak kafir dalam batin sekalipun salah dalam ta’wil. Ada juga yang membawa salah satu cabang kemunafikan, tapi bukan nifak yang bisa menyebabkannya terlempar ke dalam neraka.

Dan barangsiapa yang menyatakan bahwa kesemua golongan yang berjumlah tujuh puluh dua itu kafir dan keluar dari agama ini, maka ia telah menyalahi AI-Qur’an, Hadits, dan ijma’ sahabat ra., bahkan ijma’ imam yang empat dan imam-imam lainnya; karena tidak satu pun dari mereka yang mengkafirkan. Akan tetapi golongan-golongan itulah yang saling mengkafirkan dengan berbagai dalih.”

Pendapat yang menyatakan bahwa secara global mereka tergolong muslim sangatlah sesuai dengan nash-nash yang ada dan dapat diterima dengan akal sehat oleh setiap pribadi mu’mln. Karena Islam sangat mengharapkan kebaikan bagi manusia dan sangat menginginkan keselamatan mereka.

Tentunya bukan hal yang mudah untuk cepat-cepat mengkafirkan dan memvonis mereka kekal selamanya di neraka, kecuali kalau sudah jelas-jelas tidak ada ke-raguan lagi padanya. Adapun orang yang terlalu ekstrim dalam mengkafirkan manusia karena sebab yang kecil — padahal mereka mengaku tidak akan mengkafirkan seseorang — adalah suatu penyelewengan yang membahayakan. Hal itu disebabkan kondisi kejiwaan dan faktor-faktor sosial dalam satu kelompok yang terdiri dari orang-orang yang punya kepribadian yang keras dan tajam.

Sekalipun tidak diperkenankan mengkafirkan semua golongan, akan tetapi diantara ajaran-ajaran mereka ada beberapa segi yang mengarah pada kekufuran, seperti penolakan terhadap asma’ dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, pengingkaran terhadap sesuatu yang sudah pasti benar dan mutawatir, dan terperosoknya mereka ke dalam lembah syirik.

Namun begitu tidak selalu perbuatan kufur menjadikan pelakunya kafir, bahkan kata- kata kufur sering tidak bisa diterapkan pada orang yang melakukannya, karena tidak terpenuhinya syarat–syarat atau adanya suatu penghalang. Terkadang beberapa golongan melakukan suatu bentuk kekufuran yang jelas dan tidak diragukan, seperti pengingkaran terhadap ukhuwah keimanan atas dasar aqidah, pemberian kuasa pada manusia untuk membuat hukum – sebagai pengganti hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala — penghinaan terhadap Islam dan pemeluknya, kesepakatan thariqat sufiyah atas beberapa imam mereka yang mengaku setingkat dengan Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atau bahkan ada yang mengaku sebagal penjelmaan Tuhan pada dirinya, yang kemudian sekehendaknya menggugurkan kewajiban-kewajiban agama dengan dalih mereka menerima wahyu langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa perantara.

Panji-panji seperti ini mengumpulkan orang-orang munafik – secara i’tiqod — dari orang-orang yang memerangi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, dari orang-orang yang tidak tahu malu dengan kemurtadannya (secara terang-terangan) — kebangsaan pemimpin yang diikuti juga begitu — yang sengaja mengumpulkan orang-orang awam yang mengikutinya karena tunduk dan takut — terutama karena si pemimpin memiliki kekuasaan atau kekuatan yang berhubungan dengan penguasa — karena orang-orang awam itu adalah mereka yang tidak memahami pokok-pokok ajaran yang dianutnya dan sama sekali tidak pernah mencoba menganalisa secara kritis. Waktu mereka hanya habis untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari, akan tetapi kebanyakan mereka juga shalat dan melakukan syiar-syiar agama lainnya.

Perkumpulan-perkumpulan semacam ini adalah kufur dari segi dasar ajaran, panji tempat bernaung, dan komando yang menjalankannya. Akan tetapi, hal ini tidak menjadikan orang-orangnya kafir, hanya saja mereka adalah mayoritas muslim yang lalai yang berada di bawah komandan minoritas sekuler yang kafir dalam satu partai, gerakan, kelompok, mazhab, atau suatu negeri.

Seandainya ditelusuri kondisi mereka, maka akan ditemui kesulitan bahwa mereka semua kafir. Karena untuk mengkafirkan seseorang diantara mereka membutuhkan bukti yang jelas tanpa ada keraguan dan kesamaran sedikit pun.

Sebagai contoh terhadap hal tersebut dapat kita lihat dari aliran kebangsaan yang ada dalam dunia Islam (negeri mayoritas islam). Dimana setelah kita pisahkan orang-orang kafir dan orang-orang munafik yang sudah jelas kemunafikkannya dalam i’tiqod maupun ajaran-ajaran yang mereka sebarkan, maka akan kita dapati sebagian orang yang menyebarkan faham kebangsaan juga berpegang teguh dengan syiar-syiar tertentu yang tidak mengandung penafsiran lain yang bisa menjadikannya kufur.

Mereka Ini adalah orang-orang fasik dan zalim yang termasuk ke dalam tujuh puluh dua golongan. Tapi mereka tidak keluar dari Islam, kecuali dengan i’tiqod yang jelas. Ibnu Baththol berkata seperti yang dinukilkan oleh AI-Hafizh Ibnu Hajar: “Jika terjadi keraguan dalam hal tersebut, maka tidak boleh dipastikan bahwa mereka keluar dari Islam. Karena orang yang jelas ke-Islamannya secara zahir, tidak dianggap keluar kecuali dengan bukti yang meyakinkan pula”

Ringkasnya, masih tetap dalam ke-Islaman ataukah telah kafir bagi golongan-golongan ini tergantung pada:

Pertama, Tingkat Individual,

Pada setiap golongan ada saja orang-orang munafik dalam segi aqidahnya, yakni munafik yang telah murtad dan keluar dari Islam, bahkan dalam Firqah Najiyah terdapat orang semacam ini. Lebih dari itu orang-orang munafik ditemui pula dalam masyarakat yang dibangun oleh baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Adapun mayoritas dari mereka asalnya adalah muslim, selama mengucapkan dua kalimat syahadat dan mendirikan syiar-syiar agama, sekalipun mereka mengucapkan perkataan yang bisa membuatnya kafir atau mengandung unsur kekafiran, itupun selama omongan mereka bisa dita’wilkan, sekalipun lemah.

Kedua, Tingkat Sosial

Yaitu memandang mereka sebagai golongan atau suatu kelompok. Sebagaimana halnya golongan tujuh puluh dua; secara umum mereka adalah golongan ahli kiblat (muslim), tetapi tidak menutup kemungkinan adanya satu golongan atau lebih yang terjerumus jauh dalam penyelewengan sampai keluar dari ke-Islamannya menjadi kufur. Namun begitu mereka tetap termasuk dalam tujuh puluh dua golongan, yang mengaku sebagai kelompok Islam, bahkan bisa saja mereka merasa hanya merekalah umat Islam.

Berdasarkan hal tersebut, bisa dikatakan kelompok Tijaniyah misalnya atau orang yang dikatakan Khurofiyyun atau golongan ahli bid’ah lainnya yang keterlaluan bid’ahnya, termasuk dalam golongan tujuh puluh dua.

Supaya perkara ini menjadi jelas, dapat kita rinci struktur masyarakat golongan tersebut dengan menganalisanya menjadi unsur-unsur yang terdiri dari: 1. Aqidah, manhaj dan pokok-pokok ajaran yang dipatuhi. Memfatwa suatu aqidah dan manhaj dengan sendirinya adalah suatu hal yang mudah. Apakah yang ini sesat, yang itu kaflr dan yang anu bid’ah. Maka mudah saja mengatakan bahwa pekerjaan itu kufur, aqidah ini sesat, perkataan semacam itu bid’ah, sedangkan yang anu tidak punya landasan dalam syariat. Kemudian si pelakunya dihukumi sebagal si kafir, sesat dan faslk.

  1. Unsur-unsur kepemimpinan yang tercermin dalam diri para syekh, tokoh ulama dan para sayyid. Adapun para pimpinan kebanyakan mereka faham dan mengerti tentang mazhab-nya. Namun hal ini sangat dirahasiakan oleh mereka. Kita telah tahu bahwa Yahudi, Majusi, dan seluruh musuh-musuh Islam, ketika gagal dalam perang terbuka mereka berperang dengan cara ta’qiyah (tersembunyi), hilah (tipu daya), dan berperisai pada kelompok-kelompok dalam tubuh umat Islam agar dapat mewujudkan cita-cita dan maksud mereka.

Karena itu, banyak didapati para pemimpin mazhab sesat. Dimana mereka membuat sendiri doktrin, kitab atau teori yang harus diterima oleh para pengikutnya secara bulat-bulat. Jika sebahagian mereka sudah mampu dan kokoh, maka para pemimpin mazhab yang sesat itu akan berani berterus terang dengan apa yang disembunyikan dibalik bajunya dari kemunafikan yang ditutup-tutupi. Sebagaimana halnya para pemimpin kebangsaan dan rofidhoh yang sudah bukan rahasla lagi.

  1. Para pengikut dan simpatisan. Sedangkan para pengikut adalah kebanyakan dari kalangan rakyat jelata yang tidak mengertl apa-apa, atau para penjilat yang mengejar keuntungan. Kesemuanya tidak mempunyai cakrawala berfikir yang luas, karenanya mereka jadi pengekor ulung. Meskipun demikian mereka tetap mukallaf, dihisab dan dituntut dengan segala perbuatannya. Mereka termasuk kelompok orang-orang sesat.

Allah Subhanahuu wa Ta’ala berflrman: “Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, berilah kepada mereka azab dua kali Iipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar” (AI-Ahzab: 67- 68).

“Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: ‘Sesungguhnya kami adalah pengikut pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?’ Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: ‘Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara segala hamba-Nya.” (AI-Mukmin (ghofir) : 47-48).

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.’ Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.” (AI-Baqarah: 166-167).

Begitulah keadaan mereka di dunia dan akhirat. Akan tetapi menghukumi orang – perorang, menunjuk namanya lantas mengkafirkan, adalah perkara yang sangat sulit. Dimana dalam perkara ini menuntut pengetahuan, pembahasan, penelitian dan pembuktian. Karena menyangkut nasibnya di dua alam, penghalalan atas darahnya, harta dan kehormatannya, pencabutan hak kewaliannya baik yang khusus maupun yang umum, dan pembatalan akadnya. Sedangkan di akhirat ia kekal dalam neraka, pelarangan masuk surga, diharamkan memohonkan rahmat untuknya dan lain-lainnya. Karena biar bagaimanapun salahnya seseorang dengan pengampunan lebih baik dari pada salah dengan penyiksaan.

Sedangkan keselamatan selalu dimintakan agar seorang hamba diberi taufik untuk mendapatkan kebenaran. Jika memang demikian masalahnya, maka ahli bid’ah banyak yang terdiri dari orang-orang munafik dan zindik (kafir) yang banyak terdapat dalam kelompok Rofidhoh dan Jahmiyah, karena pemimpinnya adalah orang-orang munafik lagi zindik. Orang pertama yang membawa paham Rofidhoh (menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar) adalah orang munafik. Begitu juga halnya dengan Jahmiyah. Diantara ahli bid’ah yang masih beriman — lahir dan batinnya, tetapi sedikit bodoh dan zalim sehingga salah memilih jalan; mereka tidak munafik dan tidak pula kafir.

  1. Batasan dan Ihwal Firqah Najiyah

Setelah jelas bahwa Islam tetap mengakar pada sebagian besar golongan yang berjumlah tujuh puluh dua itu, maka sekarang tinggal memberi batasan apa dan siapa Firqah Najiyah itu sesungguhnya. Dan bagaimana hakikat serta ihwalnya, kemudian memberi isyarat kepada makna dari kata keterasingan Firqah ini di tengah-tengah golongan yang binasa, baik yang dianggap kafir, murtad atau yang masuk dalam kategori muslim. Mungkin ada semacam perasaan yang bergejolak di hati sebagian orang yang membaca judul sepertl ini; mereka berkata: “Apa ada sesuatu yang baru yang akan dibahas oleh penulis? Paling-paling hanya mengulang perkataan yang sudah sering kita dengar, yang hanya mengunggulkan golongan tertentu dan menganggap sesat golongan yang lain.” Banyak orang yang bosan jika dilontarkan permasalahan seperti ini; mereka akan berkata: “Pasti masing-masing golongan mengaku hanya diri merekalah yang selamat, sedangkan yang lain dituduh kafir, fasik, berlumur dosa, musyrik dan sebangsanya!”

Misalnya Syi’ah yang mengaku merekalah yang benar, sedang yang lain sesat — termasuk di dalamnya ahli sunnah — Begitulah tabiat masing-masing kelompok. Sesungguhnya sesuatu yang benar itu tidak harus berupa ucapan yang baru, bahkan mungkin saja sesuatu yang sudah sering kali didengar namun hatinya belum bisa menerima.

Harus kita fahami bahwa Firqah Najiyah adalah satu dari tujuh puluh tiga golongan yang juga mengaku bahwa merekalah yang benar; sebagaimana pengakuan Firqah lainnya. Karena tidak harus menunggu datangnya malaikat dari langit untuk memberi kesaksian atas hal itu, dan juga tidak harus menunggu sampai Firqah ini mempunyai bukti yang paten untuk bisa meyakinkan bahwa merekalah sebenarnya Firqah Najiyah.

 Firqah Najiyah adalah golongan manusia biasa yang pada suatu masa mempunyai imam-imam besar yang tersohor dan jarang tandingannya, yang bisa membeberkan pokok-pokok ajaran dan manhajnya, menunjukkan dalil-dalil atas kebenarannya dan mempartahankannya. Kemudian pada masa yang lain diteruskan oleh suatu generasi yang tidak memiliki kemampuan yang sama dengan pendahulunya.

Hal ini terjadi disaat keterasingan sedang memuncak. Terkadang pada saat itu pula terdapat penguasa yang menyebarkan pahamnya dengan segala upaya untuk menyingkirkan lawan-lawannya, baik dengan kata-kata maupun senjata. Dalam Firqah Najiyah juga terdapat banyak kesalahan, kekhilafan, kakurangan, dan tidak luput pula dari perselisihan maupun pertikaian. Sekalipun sudah mencapai keutamaan dalam ilmu dan agama. Itulah sunatullah yang berlaku pada hamba-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. “(Al-Ahzab: 62) Cukuplah bagi kita untuk melihat kembali sejarah perjalanan Firqah ini agar mengetahui bahwa perkara ini adalah suatu yang alami dan fitri yang tak terlepas dari manusia.

Jadi, membedakan Firqah ini dari Firqah yang lain bagaikan membedakan antara Islam dari agama yang lain. Yang berarti pula meneliti mana yang paling berhak dan benar, namun tidak akan didapati yang paling berhak dan benar tanpa upaya keras manusia dalam berfikir dan meneliti. Barangsiapa yang ikhlas niatnya mencari kebenaran, maka ia akan terbebas dari segala pamrih dan kefanatikan, bekerja keras, dengan sabar dalam menempuh jalan yang benar menurut syariat. Orang seperti ini akan memperoleh taufik untuk mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Seandainya ada sedikit kesalahan karena keterbatasan pemahaman atau suatu kelalaian, insyaAllah diampuni dan dimaafkan.

  1. Firqah Najiyah Adalah Jama’ah Dalam Kelompok Besar Yang Mengikuti Sahabat

 Ketika melihat hadits tentang perpecahan, kita dapat sejumlah sifat-sifat yang dimiliki oleh Firqah Najiyah  diantaranya:

  1. Ia adalah jama’ah seperti yang ada dalam hadits Mu’awiyah, Auf bin Malik dan hadits Anas.
  2. Mengikuti aku dan sahabatku”, seperti yang terdapat dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ash dan salah satu hadits Anas.
  3. Ia adalah kelompok yang besar, tersebut dalam hadits Jabir dan Ummah.

Riwayat tentang ketiga sifat ini sanadnya telah bersambung pada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam  dan meyakinkan. Adapun kelompok terbesar dan jama’ah, karena keshahihan haditsnya. Sedangkan sifat “Berada pada sunnahku dan sunnah sahabatku”, karena dua hadits dhaif yang saling menguatkan, bahkan At-Turmudzi telah menilai hasan pada salah satu sanad.

  1. Imam Ali ra menyifatinya bahwa golongan ini berhak dimasukkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Diantara orang-orang yang Kami jadikan, ada satu umat yang mendapat petunjuk dengan kebenaran serta berlaku adil dengan kebenaran itu.” (Al-A’raf: 181).
  2. Sedangkan ciri-ciri lawannya — golongan yang binasa – adalah tersebarnya hawa nafsu diantara mereka, seperti menjalarnya penyakit rabies keseluruh tubuh penderita sampai tak satupun pensendian yang luput dari serangannya. Misalnya terdapat dalam hadits Mu’awiyah. Sedangkan Firqah Najiyah tidak dijangkiti penyakit hawa nafsu. Karena menuruti hawa nafsu dapat menyebabkan kebinasaan, tetapi melawan hawa nafsu dan mengikuti kebenaran adalah penyebab keselamatan.
  3. Diantara sifat lawan-lawannya adalah dalam hati mereka terdapat penyelewengan dan selalu mengikuti ayat-ayat mutasyabbihat karena menginginkan fitnah dan penakwilan, seperti yang terdapat dalam hadits Umamah dan diperjelas dengan firman-Nya: “Dia-lah yang menurunkan AI-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi AI-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya…. ..(Ali Imran: 7).

Hal ini berarti menunjukkan kebersihan hati orang-orang Firqah Najiyah dari penyelewengan dan mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat.

Kata jama’ah digunakan untuk perkumpulan dalam suatu urusan. Juga digunakan untuk perkumpulan suatu kaum; seperti kata sahabat diberikan untuk orang yang menyertai Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.  Maka kata jama’ah adalah isim (kata benda) dan masdar (kata benda yang bisa berfungsi sebagal kata kerja, karena ia berasal dari kata kerja).

Tentang makna jama’ah, baik yang terdapat dalam hadits maupun yang lainnya, ada beberapa pendapat:

  1. Jama’ah dikatakan bahwa mereka adalah para sahabat, ini sesuai dengan sabda Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hadits terakhir, “Yang ada pada sunnahku dan sahabatku.”
  2. Ada yang berpendapat bahwa mereka itu adalah ulama, sebagaimana yang dikatakan Imam Turmudzi . “Tafsir kata jama’ah menurut para ulama adalah ahli fiqh, ahli hadits dan ulama.”

Beliau juga berkata, “Aku mendengar Jarud bin Mu’adz berkata, ‘Aku bertanya kepada Abdullah bin Mubarak, siapakah jama’ah itu?’ Maka jawabnya. ‘Abu Bakar dan Umar’. Lalu ditanya, ‘Sekarang mereka telah tiada?’ Lalu dljawabnya, ‘Fulan dan Fulan’. Kemudian ditanyakan lagi padanya, ‘Fulan dan fulan sudah meninggal?’ Maka dijawabnya, ‘Abu Hamzah As-Sukkari adalah jama’ah.” Abu Isa (At-Turmudzi) berkata, ”Abu Hamzah itu Muhammad bin Maimun, seorang syekh yang alim dan shaleh. Ibnu Mubarak menunjuk dia pada masa hidupnya — ditengah-tengah kita — “Dan begitu pula pendapat Imam Bukhari.

  1. Ada yang berpendapat jama’ah adalah apa dan siapa yang sesuai dengan kebenaran. Makna seperti ini dikembalikan kepada orang yang merealisasikannya dalam bentuk jama’ah, sekalipun mereka itu hanya sekelompok kecil.
  2. Sementara ada yang mengatakan mereka adalah assawadul a’zhom, yaitu kelompok terbesar yang menyatukan diri pada imam yang mengambil sumber hukum dari Al-Qur’an dan Hadits; serta memerangi hawa nafsu dan bid’ah dengan membela segala kebenaran dan orang orangnya.

Pendapat-pendapat ini bisa bertemu dalam suatu kondisi, dimana suatu jama’ah membai’at seorang imam bisa sepakat dan bersatu, konsekuen dalam berislam baik dari segi-segi keyakinan, ucapan maupun perbuatan. Seperti sikap dan keadaan sahabat bersama Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Disini akan bertemu antara makna al-jama’ah dengan “Yang mengikuti sunnahku dan sahabatku”, karena Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta sahabatnya adalah al-jama’ah dalam arti yang menyeluruh. baik dari segi teori maupun praktis. Mereka juga assawadul a’zhom dan ahli ilmu fiqh dan hadits. Mereka juga al-hak yang berwujud manusia yang berjalan di muka bumi.

Karena itulah ketika sayyidah Aisyah ra. ditanya tentang akhlak Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau menjawab, ‘Akhlaknya adalah AI-Qur’an.”(HR. Muslim). Wajarlah jika mereka semua berhak mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, pujian-Nya, tazqiyah-Nya (penyucian diri) dan berhak menjadi generasi teladan, percontohan yang benar-benar terjadi. Karena itu mereka menjadi ukuran, dimana suatu golongan bisa dikatakan Firqah Najiyah kalau mengikuti dan mencontoh mereka; dan bisa dikatakan golongan yang hancur binasa bagi yang menentang atau menyalahi mereka.

Generasi ini telah merealisasikan dua sifat utama, yaitu sempurna dan saling menyempurnakan; dimana kondisi mereka telah sempurna di segala bidang dengan segala persyaratannya. Di sana terdapat imam adil, menghukum dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, menegakkan hukum huddud dan mengumandangkan semangat jihad. Dialah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang kemudian diteruskan oleh khulafaur rasyidin. Rakyat tunduk dan patuh pada imam, tidak ada yang membangkang. Sehingga mereka merupakan umat yang besar dari segi kuantitas dan bersatu dalam kebenaran, bahkan orang-orang non-muslim pun tidak segan-segan membai’at sang imam, kecuali apa yang terjadi di akhir masa khulafaur rasyidin.

Begitu juga dari segi kualitas, mereka konsekuen dengan manhaj (sistem) yang langsung diterima dari Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik dalam i’tiqod, amal, hukum dan perilaku. Tidak terdapat ahli bid’ah yang menampakkan bid’ahnya, apalagi memasarkannya, kecuali yang terjadi di akhir masa khulafaur rasyidin. Tidak seorang pun dari sahabat yang berlumur dosa bid’ah. Melainkan mereka mencerminkan sekumpulan ulama dan fuqoha’, mereka ahli mendidik, mengarahkan, ahli fatwa dan ahli menyelesaikan problem-problem besar. Dengan begitu sempurnalah segi kehidupan yang merupakan syarat bagi terwujudnya Firqah Najiyah dalam bentuknya yang paling sempurna.

Adapun dari segi kesempurnaan, maka golongan ini telah mewujudkan sifat-sifat individual dan sosial dalam skala besar menurut kemampuan manusia. Mereka bersih — sejauh mungkin — dari sifat-sifat lemah. Mereka merdeka dari ikatan bumi dan tanah, serta bebas dari perbudakan nafsu syahwat dan ambisi. Sehingga terciptalah suatu bentuk yang paling sempurna yang bisa dilakukan oleh manusia. Mereka dapat menjaga kekuatan Islam dan kedudukannya, bahkan memperluas penyebaran Islam.

Di zaman mereka AI-Firqah An-Najiyah bukan yang terasing, karena merekalah tuan rumah yang memegang tali kendali. Firqah Najiyah tidak terasing bahkan dialah kelompok terbesar yang bebas keluar masuk. Ahli sunnah benar-benar prima dalam kemerdekaan, sementara bid’ah dan orang-orangnya bergerak lemah sebatas ruangan kamarnya dengan tersembunyi.

Jika para sahabat berhasil mengukir bentuk yang sedemikian besar, dimana yang berkuasa dan yang menjadi hakim adalah kebenaran yang diimani oleh semua muslim; maka generasi berikutnya tinggal merawat kelestariannya dan meneruskan jalan keselamatan. Sehingga terciptalah suasana yang hampir serupa dengan pendahulunya.

Disana terdapat penguasa, Al-Qur’an, pengikat dalam satu jama’ah syar’i (yakni jama’ah yang wajib atas setiap kaum muslimin bergabung dengannya), dan imam yang menjalankan syariat dengan berhukum pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Memang terkadang bisa terwujud sebahagian besar dari gambaran di atas, tapi adakalanya hanya satu bagian saja. Misalnya:

  1. Terdapat penguasa muslim yang menyeleweng dan membawa umat pada penyelewengannya; namun pada saat itu ada pula kelompok ahli fiqh dan ahli agama yang siap menepis penyelewengan tersebut. Sebagaimana yang terjadi antara Imam Ahmad dengan Khalifah Al Makmun.
  2. Ada kalanya terdapat jama’ah, ulama dan fuqoha, tetapi tidak terdapat imam muslim sebagai kepala negara yang siap menghukum dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  3. Terkadang tidak ada keduanya, sekalipun seorang imam muslim yang pernah melakukan perbuatan maksiat atau segala sesuatu yang berbau bid’ah. Yang diperparah lagi dengan tidak adanya ulama maupun fuqoha yang bisa memberikan pengajaran tentang sunnah Rasul Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

 Hadits perpecahan umat, adanya Firqah Najiyah, dan yang lainnya, menuntut setiap muslim untuk mewujudkan suatu bentuk keteladanan yang sempurna dalam satu jama’ah atau kelompok besar sebagaimana yang tercipta di zaman Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabatnya. Tentunya menurut kemampuan dan lingkungan di mana ia tinggal.

Jika menemukan jama’ah dan imam wajib mengikuti. Jika menjumpai imam yang menyalahi sunnah Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabatnya, hanya wajib mentaatinya dalam hal ketaatan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, dan membangkangnya dalam penyelewengan dan bid’ahnya.

Jika mendapati jama’ah ahli fiqh dan hadits, wajib pula mengikutlnya. Tapi jika tidak menemukan salah satu dari mereka, maka berserulah pada kebenaran dengan mendirikan jama’ah dan pemerintahan. Bila tidak mampu, maka jauhilah golongan sesat yang akan hancur dan binasa; sekalipun harus hidup ditengah hutan dengan memakan pucuk-pucuk daun sampai menemui ajal.

Sebagaimana diceritakan dalam hadits Huzaifah ra., ia berkata, “Orang-orang bertanya pada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan. Sedangkan aku bertanya tentang keburukan, karena takut menimpa diriku. Aku bertanya kepada beliau: “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami dulu dalam kejahiliahan dan keburukan, maka Allah mendatangkan kepada kami kebaikan (Islam). Apakah sesudah kebaikan itu akan ada keburukan?” Beliau menjawab: “Ya”, lalu aku bertanya, ‘Apakah sesudah keburukan itu ada kebaikan?” Jawabnya: “Ya, tapi padanya terdapat kekeruhan.”Akupun bertanya lagi, “Apa kekeruhannya?” Beliau berkata “kaum yang mengambil petunjuk selain petunjukku, mereka mengetahui dan mengingkarinya”. “Aku bertanya, “Apakah sesudah kebaikan itu akan ada lagi keburukan?” Beliau menjawab: “Ya, para da’i menunjukkan jalan ke neraka. Siapa yang mengikutinya akan dilemparkan ke jurang neraka. Aku bertanya, “Ya Rasulullah, sebutkan sifat mereka pada kami.” Lalu Jawabnya “Mereka dari bangsa kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya lagi, “Apa yang engkau perintahkan padaku, jika aku menemuinya?” Beliau menjawab: “Ikuti jama’ah kaum muslim dan imamnya.” Aku bertanya, “Bagaimana jika mereka tidak mempunyai jama’ah dan imam?” Beliau menjawab: “Jauhilah semua golongan, sekalipun engkau makan pokok-pokok kayu sampai datang ajal dan tetap dalam keimanan.” (HR, Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Abu Awanah, Abu Dawud, An-Nasai, Ahmad, Abdur Rozak, Ibnu Abi Syaibah dan AI-Hakim; hadits shahih).

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerintahkan Hudzaifah untuk tetap mengkuti jama’ah kaum muslimin dan imamnya. Ini mencakup seluruh ulama dan fuqoha’ apabila duduk dalam pemerintahan. Begitu juga jika pemerintahan yang ada terdiri dari kaum muslimin yang berhukum dengan Kitabbullah dan sunnah Rasul Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang yang tidak mendapatkan salah satu dari dua perkara, yaitu jama’ah dan imam, yang wajib untuk diikuti. Sebagaimana yang ditanyakan Hudzaifah ra “Bagaimana jika tidak ada jama’ah dan imam?” Maksudnya, jika tidak ada kedua-duanya. Jadi ringkasnya terdapat empat kondisi, yaitu : (1). Ada jama’ah dan imam, (2). Ada jama’ah saja, (3). Hanya imam saja, (4). Tidak ada jama’ah dan imam.

Kondisi keempat inilah yang disyariatkan untuk uzlah (menyendiri). Dengan demikian Firqah Najiyah dalam bentuk yang paling sempurna adalah di zaman sahabat, yaitu jama’ah dalam satu kelompok besar. Jika berkurang kebaikan pada umat dan melemah, maka akan terjadi perpecahan dalam kelompok-kelompok yang banyak jumlahnya. Sebagaimana halnya ulama dan pemerintah yang konsekuen dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sekalipun didalamnya tercampur dengan hawa nafsu dan bid’ah.

Untuk membedakan yang haq dengan yang bathil, dan menjelaskan siapa sesungguhnya yang berhak dijuluki Firqah Najiyah — pada zaman sekarang dan yang akan datang — maka harus dipahami keistimewaan atau ciri-ciri khusus dari Firqah Najiyah; setelah itu baru dipaparkan hadits yang menerangkan beberapa nama yang berhubungan dengan Firqah Najiyah……….bersambung ke Ciri Khas dan keistimewaaan Firqah Najiyah   https://ahkamsulthaniyah.com/2018/01/30/ciri-khas-dan-keistimewaan-firqah-najiyah/

2 respons untuk ‘Firqah Najiyah (Golongan yang Selamat)

  1. Assalamu’alaikum warohmatullohi wa barokatuh… Maa syaa Allah.. Jazzakumullohu khoiron katsiro pak.. Doa kami semoga Ad Dienul Islam segera tegak di bumi Allah ini, dan mudah2n kami bisa ikut tetap berjuang di dalam perjuangan ini hingga tercapai harapan syhahid meskipun nanti kami tidak menyaksikan tegaknya Islam di bumi Allah ini.. Barokallahu fiik الله أكبر.. الله أكبر.. الله أكبر…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s