Keterasingan Firqah Najiyah

Firqah Najiyah adalah satu dari tujuh puluh tiga golongan yang ada. Jadi cukuplah dengan kumpulan hadits Firqah Najiyah yang telah disebutkan sebelumnya (dalam judul Firqah Najiyah), menjadikannya terasing di antara tujuh puluh dua golongan lainnya.

Firqah Najiyah merasa benar-benar terasing di tengah orang-orang yang menggunakan cara tipu daya, perang ataupun ejekan. ‘Namun demikian keterasingan mereka adalah keterasingan yang terpuji. Mereka adalah pembela agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sejati, tidak merengek-rengek pada yang lainnya, tidak bertaqlid kecuali pada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak menyeru selain kepada ajarannya.

Merekalah orang yang memisahkan diri dari manusia, ketika manusia berangkat bersama sesembahannya di harl kiamat. Mereka tetap tinggal di tempatnya, maka ketika ditanya: “Apakah kalian tidak berangkat seperti orang-orang Itu?” Mereka menjawab: ”Kami memisahkan diri dari manusia, padahal kami sangat berhajat pada mereka dulunya di dunia dan pada hari ini. Sesungguhnya kami sedang menunggu Rabb yang kami sembah dahulu di dunia.”

Keterasingan ini tidak menjadikannya gundah-gulana, tetapi membuatnya tetap senang setiap ada orang yang mengucilkannya, dan lebih merasa gundah-gulana kalau manusia lunak kepadanya, karena walinya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, serta orang-orang yang beriman sekalipun dimusuhi oleh seluruh manusia. Orang-orang terasing (ghurobaa’) adalah mereka yang menggenggam bara api, karena benar. Mayoritas manusia, bahkan seluruhnya selalu mencela dan mengejeknya Hanya lantaran keterasingan mereka di antara makhluk lainnya, maka mereka dianggap aneh dan ahli bid’ah, karena memisahkan diri dari kelompok manusia yang terbesar.

Bagaimana satu golongan tidak menjadi kelompok yang sedikit, ketika ia terisolir di antara tujuh puluh dua golongan lainnya yang punya pengikut, pemerintahan, penguasa, dan wilayah. Maka Firqah Najiyah sangat terasing dilihat dari jumlah golongan yang berlawanan dengannya. Anggotanya juga menjadi terasing dilihat dari banyaknya orang yang menyimpang dan binasa. Keterasingan ini diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

  1. Banyaknya pendapat, keyakinan dan isme-isme yang menyalahi AI-Qur’an dan hadits. Serta banyaknya propagandis yang mengajak kepada aliran-aliran tersebut. Maka bercampur aduklah antara yang haq dengan yang bathil, antara yang sunnah dengan yang bid’ah, sehingga banyak yang mengikuti bid’ah dikiranya sunnah dan memerangi sunnah karena dikiranya bid’ah.

Maka jadilah orang yang mengikuti sunnah yang berjalan di atas nur Ilahi terasing diantara mereka, karena ia mengikuti sunnah sedangkan kebanyakan orang ahli bid’ah, karena ia mengetahui (berilmu) sedangkan kebanyakan orang bodoh, karena ia minoritas dan mereka (ahli bid’ah) mayorltas.

Keterasingan itu akan semakin menjadi-jadi tatkala pendapat bid’ah dan aqidah palsu menjadi agama yang dianut oleh para pembesar, bangsawan, penguasa, dan ilmuwan serta para pakar. Dengan itu mereka berusaha menjauhkan umat dari pemahaman sunnah dan menentang para pelaku sunnah tersebut. Hal ini akan terus menerus secara turun-temurun diwariskan, sehingga menjadi tradisi yang konstan. Karenanya siapa yang menentang warisan bid’ah akan dihujani cemooh, ejekan, dan dianggapnya ketinggalan zaman.

  1. Mengikuti keinginan nafsu dan tersebarnya kefanatikan pada mazhab dan pendapat. Sampai-sampai da’i yang menyeru pada sunnah sepertinya –rnenurut pendapat mereka — mengajak untuk meninggalkan guru atau syekh yang mereka belajar kepadanya, dan bukan mengajak mereka untuk mengikuti sunnah dan meninggalkan bid’ah. Sehingga bertambah kuatlah getaran jiwa kefanatikan kepada syekh, mazhab, dan thariqat. Yang pada akhirnya kefanatikan tersebut menghalangi manusia dari mendengarkan kebenaran, apalagi untuk mengikutinya.

Berapa banyak keinginan nafsu telah menghalangl seseorang dari mengikuti nash dan telah menyesatkan jalan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berflrman: “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan diantara manusia dengan adil, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (QS Shaad: 26).

  1. Kurangnya obyektifitas di kalangan manusia dan lemahnya rasa takut pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga sebahagian mereka berani menentang kebenaran dan menjadikannya lawan.

Jika ada yang mengikuti Al-Qur’an dan sunnah serta mengingkari ajaran tasawuf yang meniadakan syariat (tasawuf yang sesat), maka ia akan mengatakan bahwa orang tersebut — yang tidak sefaham dengannya — memusuhi auliyaa’ullah (para wali Allah).

Apabila ada yang mengingkari perbuatan para penguasa yang tidak sesuai dengan syariat, atau karena penguasa tersebut mengikuti hukum buatan manusia dan menzalimi rakyat, maka orang tersebut dituduh golongan Khawarij dan bughot (pemberontak) yang sesat

Jika ada yang mengingkari apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang awam dari ahli bid’ah yang turun-temurun, maka orang tersebut dituduh ekstrim dan mempersulit agama. Tidak hanya itu, bahkan banyak orang tidak merasa berdosa membuat perkataan dan memalsukan hikayat yang tidak ada sumbernya. Yang kemudian mempublikasikan ditengah masyarakat untuk menjauhkan mereka dari para da’i yang menyeru pada kebenaran dan sunnah. Namun meskipun demikian, mereka sulit menjatuhkan da’i yang menyeru kepada manhaj Firqah Najiyah, sunnah Nabi dan sahabatnya, dengan tudingan maupun fitnah yang tidak berdasar.

  1. Tekanan keterasingan semakin kuat jika pemerintah berada dalam supremasi ahli bid’ah, dan para ulama su’ (ulama yang tidak besar atau ulama gadungan) berjejeran dibelakang para penguasa, menghiasi para penguasa tersebut dan memberi fatwa yang bathil, menjauhkan para penguasa dari yang haq bahkan melarangnya sampai mencintai perbutan bid’ah, sebaliknya benci akan sunnah dan orang-orang yang mengamalkannya, maka jadilah pemerintah loyal terhadap orang-orang dari kalangan ahli bid’ah dan meminta nasihat dari mereka.

Maka ulama gadungan seperti ini akan memaksakan pada manusia bid’ahnya dan kesesatannya, dan mengokohkan kedudukan orang-orang yang sama dan sepemahaman, serta mempersempit gerak ahli sunnah, bahkan memberikan intimidasi dan membuat provokasi, seperti yang dialami oleh Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah, dan yang lainnya.

Seperti itu juga halnya jika negara dikuasai orang-orang kafir yang berfaham dengan faham buatan manusia, seperti sekularisme dan isme-isme Iainnya. Maka sesungguhnya mereka tidak rela kalau agama mendapat tempat di masyarakat, dan tidak rela jika orang-orang yang beragama mendapat status terhormat dalam masyarakat. Mereka menilai bahwa menghukumi syariat dalam jiwa, harta, kehormatan, darah, dan seluruh aspek kehidupan lainnya, berarti telah menempatkan agama dalam urusan yang tidak ada hubungannya sama sekali. Karena agama menurut mereka adalah hubungan vertikal antara hamba dengan pencipta-Nya, yang terbatas pada syiar-syiar di masjld-masjid, gereja, dan tempat ibadah lainnya.

Sekalipun mereka memerangi semua agama, tetapi perang mereka terhadap ahli sunnah lebih dahsyat, permusuhannya lebih besar, karena mereka telah mendapatkan sebagian besar ahli bid’ah cocok dengan kemauan nafsunya — seperti pemisahan agama dari kehidupan dan bernegara — misalnya sebahagian manhaj thariqat sufiyah.

Dari sini tampaklah, betapa berlipat gandanya rasa keterasingan Firqah Najiyah — baik dari pribadi-pribadinya maupun jama’ah — yang dikelilingi oleh keterasingan khusus, ditambah dengan keterasingan umum yang menyeluruh. Firqah Najiyah hidup terasing sebagai muslim di antara agama-agama yang lain di seantero jagad raya, dan terasing secara khusus di antara sesama muslim karena keteguhan memegang sunnah.

Meskipun demikian, Firqah Najiyah  dituntut untuk menegakkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melansir agama serta menggerakkan da’wahnya, mengerahkan seluruh kemampuan ilmu dan pemahamannya, mengobati keterasingan umat akan Islam yang sesungguhnya, melaksanakan tajdid di kalangan muslimin, menegakkan hujjah atas manusia di zamannya, dan tidak frustasi.

Yang paling banyak memikul beban ini adalah Thaifah Manshuroh, karena ia merupakan esensi dari Firqah Najiyah. Pensyifatan mereka dengan keterasingan bukan berarti anjuran untuk mengisolasi diri atau duduk-duduk santai ongkang-ongkang kaki, tetapi ajakan untuk menjalankan manhaj yang mustaqim, bersabar, berda’wah, dan bersatu dalam jama’ah dan imamnya, karena semua itu adalah faktor pengusir, pemusnah keterasingan, dan penyebab kuatnya berpegang teguh kepada yang haq. Di sinilah sesungguhnya didapatkan seni berjuang.

Perasaan keterasingan dan banyaknya orang yang tidak sejaIan, adalah perasaan yang akrab bagi Firqah Najiyah. Dimana celaan orang terhadap mereka tidak dirasakan sebagai celaan, baik anggapan manusia bahwa mereka orang-orang aneh, atau tuduhan manusia bahwa mereka ini memecah belah barisan.

Untuk itu maka wajib dibedakan antara perasaan ini dengan perasaan orang yang menyimpang dari Islam, yang merasa dirinyalah yang paling aneh dan benar. Maka tidak semua orang yang merasa terasing dan mengaku dirinya terasing itu benar, hingga menganggap dirinya mendapatkan taufik dan hidayah.

Orang-orang Khawarij ketika baru muncul pun menjadi terasing di antara sahabat dan tabi’in — dan masih begitu sampai sekarang — tetapi keterasingan mereka adalah tercela dan tidak terpuji, karena memisahkan diri dari jama’ah, meninggalkan jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya, memusuhi jiwa yang tidak berdosa dan menyalahi para imam besar yang sulit dicari tandingannya. Akhirnya, pada Allah Subhanahu wa Ta’ala jua tempat kita memohon pertolongan.

Satu respons untuk “Keterasingan Firqah Najiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s