Thaifah Manshurah dan Keterasingannya

Disadur dari tulisan : Salman Ibnu Fahd Al Audah

Telah terbukti kebenaran bisyaroh (berita gernbira) dari baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kelanjutan eksistensi Thaifah Manshuroh dari umat ini sampai datangnya hari kiamat. Tidak akan mempengaruhi mereka khilafnya orang yang tidak sejalan dan hinaan orang yang menghina.

Kabar ini telah diungkapkan dalam banyak hadits dari sejumlah besar sahabat, diantaranya: Mughiroh bin Syu’bah, Mu’awiyah bin Abi Sofyan, Tsaubah, Jabir bin Samuroh, Jabin bin Abdlllah, Sa’ad bin Abi Waqash, Uqbah bin Amir, Abdullah bin Amir bin Ash, Zaid bin Arqom, Imran bin Hushein, Qurroh bin lyas, Abu Hurairah, Umar bin Khaththab, Salman bin Nufail, AI-Kindi, An-Nuwas bin Saman, Abu Umamah AI-Bahili, Murrah bin Ka’ab, AI-Bahzi, Syurahbil bin As-Samth, Mu’adz bin Jabal, dan ditambah lagi beberapa hadits mursal.

Karena itu, ulama-ulama besar dengan terang-terangan menilai bahwa hadits ini mutawatir, seperti: Ibnu Taimiyah, As-Suyuthi, Az-Zubaid, AI-Kattani, dan yang lainnya.

  1. Dari Mughiroh bin Syu’bah ra bahwasanya Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Terus-menerus pada sekelompok umatku yang sampai datang pada mereka keputusan Allah, sedangkan mereka muncul dengan terang-terangan.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Abu Nu’aim).
  2. Dari Mu’awiyah ra, dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda: “Akan selalu ada dari umatku satu golongan yang menegakkan perintah Allah, tidak merugikan mereka orang-orang yang mendustakannya dan juga orang-orang yang menyalahinya sampai datang keputusan Allah, sedangkan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.” Maka Malik bin Yukhomir berkata, “Saya mendengar Mu’adz berkata: “Dan mereka ini di Syam”. Maka Mu’awiyah berkata, “Malik ini mengaku bahwa ia telah mendengar Mu’adz berkata ‘Dan mereka ini di Syam’.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Awanah, Ahmad, AI-Lalikai, dan Abu Nu’aim).
  3. Dari Tsaubah ra., bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda “Senantiasa terdapat kelompok dari umatku yang menang karena di atas kebenaran, tidak merugikan mereka orang-orang yang menghinanya sampai datang keputusan Allah, sedangkan mereka dalam keadaan demikian.” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Turmudzi, dan Ibnu Majah).
  4. Dari Jabir bin Samuroh ra., bahwasanya Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Agama ini senantiasa berdiri. Sekumpulan dari kaum muslimin akan berperang mempertahankannya sampai datang hari kiamat.” (HR. Muslim, Abu Awanah, Ahmad, At-Thabrani, AI-Hakim, dan Imam Bukhari)
  5. Dari Jabir bin Abdillah ra. ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Senantiasa ada dari sekelompok umatku berperang di atas kebenaran, mereka menang sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Uwanah, Ahmad, dan Abu Ya’la).
  6. Dari Sa’id bin Abi Waqash ra., bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Senantiasa ahlul ghorbi muncul di atas kebenaran, sampai datangnya hari kiamat.” (HR.-Muslim, Abu Uwanah, AI-Lalikai, Abu Nu’aim dan Abu Amr Ad-Dani).
  7. Dari Abdur Rahman bin Syamasah Al-Mahri, berkata “Saya berada di samping Maslamah bin Mukhollad dan di sampingnya terdapat Abdullah bin Amr, maka berkata Abdullah: “Tidak terjadi hari kiamat kecuali atas seburuk-buruk makhluk, mereka lebih buruk dari orang jahiliyah, tidak berdo’a kepada Allah dengan sesuatu kecuali ditolak atas mereka.” Ketika itu datanglah Uqbah bin Amir, maka berkatalah Maslamah kepadanya: “Ya Uqbah, dengarlah apa yang dikatakan oleh Abdullah!”. Maka Uqbah menjawab, Dia lebih tahu, adapun aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “Akan selalu ada satu kumpulan dari umatku berperang di atas perintah Allah, yang mengalahkan musuh-musuhnya. Tidak merugikan mereka orang-orang yang menyalahi, sampai datang pada mereka hari kiamat dan mereka tetap seperti itu ” Maka Abdullah berkata, “Benar berita itu dan kemudian Allah menggiring angin yang (wanginya) seperti bau misik, sentuhannya seperti sutera. Maka tidak membiarkan satu jiwa yang dihatinya terdapat satu butir iman kecuali dicabut (ruhnya) kemudian tinggallah manusia yang paling buruk dan atas mereka akan terjadi hari kiamat.” (HR. Muslim, Abu Uwanah, At-Thabrani dan Hakim).
  8. Dari Abu Abdillah Asy-Syami berkata, “Saya mendengar Mu’awiyah berkhutbah dan berkata ‘Wahai penduduk Syam!. Saya diberitahu oleh seorang Anshar, ia berkata Syu’bah – maksudnya Zaid bin Arqom — berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Akan selalu ada sekelompok dari umatku berada di atas kebenaran dan mereka akan menang, sesungguhnya aku menginginkan agar kamu termasuk kelompok itu wahai ahli Syam!” (HR. Ahmad, Abu Uwanah, At-Thabrani dan Hakim).
  9. Dari Imran bin Hushein ra., bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Senantiasa ada sekelompok dari umatku berperang di atas kebenaran mengalahkan orang-orang yang memusuhinya, sampai orang terakhir dari mereka memerangi Dajjal” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan AI-Lalikai).
  10. Dari Qurroh bin lyas AI-Muzani ra. ia berkata, bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika penduduk Syam sudah rusak maka tidak ada lagi kebaikan dalam diri kalian, senantiasa ada sekelompok dari umatku yang mendapat pertolongan — kemenangan — tidak merugikan mereka orang yang menghinanya sampai terjadi kiamat.” (HR At-Turmudzi., Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban).
  11. Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Akan selalu ada yang berpegang atas perkara ini (yakni agama ini) satu kumpulan yang berada di atas kebenaran, tidak merugikan mereka orang-orang yang menyalahi sampai datang pada mereka keputusan Allah, sedangkan mereka tetap seperti itu.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, AI-Lalikai, hadits hasan).
  12. Dari Salamah bin Nufail AI-Kindi ra., la berkata, “Saya duduk di dekat Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam tiba-tiba berkata seseorang: ‘Ya Rasulullah! Orang-orang telah meremehkan kuda dan meletakkan senjata, dan mereka berkata: Tidak ada lagi jihad!. Perang telah usai. Maka Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghadapkan wajahnya kepada mereka dan berkata: “Mereka dusta!. Sekarang dan sekarang tiba saatnya perang, dan akan selalu ada dari umatku suatu kelompok yang berperang membela kebenaran, Allah Subhanahu wa Ta’ala mencenderungkan bagi mereka hatinya banyak kaum, dan memberi rizki dari mereka sampai datang kiamat sampai datang janji Allah, dan kuda diikat kebaikan pada ubun-ubunnya sampai hari kiamat, dan Dia memberi wahyu padaku bahwa nyawaku dicabut tidak lama lagi. Kalian mengikuti aku dalam bentuk jama’ah-jama’ah yang berpecah-belah, sebagian kalian memukul — dengan pedang — leher sebagian yang lain, dan markasnya tempat orang mu’min di Syam.” (HR. An-Nasal, Ahmad, Bukhari, Ibnu Manduh dan At-Thabrari).
  13. Dari An-Nawas bin Sam’an ra., la berkata, “Dibuka atas Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam satu kemenangan, maka aku mendatanginy’a “Dan aku berkata: ‘Ya Rasulullah! Telah meletakkan beban-bebannya (yakni perang telah usai), dan mereka berkata: Tidak ada perang lagi!” Maka Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sekarang telah datang peperangan. Allah Azza wa Jalla senantiasa mencenderungkan hatinya kaum-kaum yang memeranginya. Allah memberi rizki dari mereka sampai datang putusan Allah atas yang demikian, dan pusat rumahnya (bentengnya) orang mu’min di Syam.” (HR Abu (HR Abu Ya’la dan Ibnu Hibban).
  14. Dari Umamah ra. bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Selalau ada sekelompok dari umatku yang berada di atas agama ini, mereka menang dan mengalahkan musuhnya, tidak merugikan mereka orang yang menyalahi mereka kecuali rasa sakit sampai datang pada mereka putusan Allah dan mereka tetap begitu (yakni tetap di atas kebenaran).” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah, dimana mereka?. “Beliau menjawab: “Di Baitul Maqdis dan di segala penjuru Baitul Maqdis”. (HR. Abdullah bin Ahmad Wijadah, At-Thabrani dan Ahamad).
  15. Dari Murroh bin Ka’ab AI-Bahzi ra., dia mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: „“Senantiasa ada sekelompok dari umatku berada di atas kebenaran, mengalahkan orang-orang yang menentangnya, mereka bagai bejana (hidangan) di antara para pemakan, sampai datang Allah Azza wa Jalla dan mereka tetap begitu.” Kami bertanya: “Ya Rasulullah, siapa mereka dan di mana?” Beliau menjawab: “Disegala penjuru Baitul Maqdis.”(HR. Bukhari, At-Thabrani dan Al-Fasawi).
  16. Dari Umair bin Al-Aswad dan Katsir bin Murroh Al-Hadromi, mereka berkata “Sesungguhnya Abu Hurairah dan Ibnus Samthi berkata: ”Selalu ada muslimin di bumi ini sampai datang kiamat, hal itu karena Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Selalu ada sekelompok yang tegar berdiri di atas kebenaran”, dan Nabi bersabda: “Mereka ahli Syam”. (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).
  17. Dari Muhammad bin Kaab AI-Kurodi, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang memenangkan kebenaran, tidak peduli terhadap orang-orang yang menyalahi mereka, sampai keluar Dajjal, maka mereka memeranginya.” (HR Said bin Manshur, hadits mursal hasan).

Dengan memaparkan kumpulan hadists-hadits Thaifah Manshuroh ini, jelaslah kebenaran pendapat bahwa hadits-hadits tersebut mutawatir, karena diriwayatkan oleh sembilan belas sahabat dan sebahagian riwayatnya bersumber dari jalan yang berbeda-beda, yang dikeluarkan oleh imam-imam hadits dalam kitab-kitab mereka seperti: Shahih Bukhari-Muslim, Sunan, Masanis, Ma’ajim, kitab-kitab Tarikh, kitab-kitab Aqoid, dan kitab-kitab tokoh perawi hadits.

Dari hadits-hadits tersebut menjadikan seorang muslim tentram, istiqomah dalam keimanan, dan optimis dengan kemenangan atas agama ini. Sebagaimana yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahuu wa Ta’ala berfirman : “Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita AI-Qur’an setelah beberapa waktu lagi.” (Shaad: 88 ).

CIRI-CIRI KHUSUS THAIFAH MANSHUROH

Baginda Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menamakan Thaifah ini Manshuroh (yang ditolong). Ini berarti memberikan janji suatu kemenangan baik cepat maupun lambat, baik dari segi moral maupun material. Thaifah ini berhak mendapatkan kemenangan karena ciri-ciri khas yang dimilikinya.

Jika kita amati kumpulan hadits diatas, maka akan didapatkan beberapa keistimewaan dan ciri khas yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada Thaifah Manshuroh atas seluruh kaum muslimin. Secara garis besar ciri-ciri Thaifah Manshuroh adalah sebagal berikut:

I. Selalu berada dalam Kebenaran Mereka adalah kelompok umat Islam yang konsisten dalam beragama, merealisasikan semua ciri khas Firqah Najiyah dengan amal hati dan jasmani, yang didasari ilmu yang benar yang dibangun di atas dalil syar’i. Memang logis jika Thaifah Manshuroh termasuk golongan Firqah Najiyah, karena mustahil kebenaran dan kemenangan berada di luar Firqah Najiyah.

Thaifah Manshuroh adalah Thaifah yang membawa kebenaran yang dibawa oleh Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan disiplin serta berpegang teguh hingga tak bergeming sedikitpun. Sebagaimana halnya yang termaktub dalam hadits-hadits Thaifah Manshuroh yang telah kita sebutkan di atas.

Diantaranya ada yang menyebutkan bahwa … – mereka berada di atas yang haq – mereka berada di atas perintah Allah – mereka berada di atas urusan (agama) ini – mereka berada di atas agama ini Semua lafazh-lafazh hadits ini menunjukkan betapa istiqomahnya Thaifah ini di atas agama yang benar, yang karenanya Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus, yaitu menjalankan segala perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diwajibkan atas segenap hambanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah, Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-A’raf: 54).

Yang dimaksud hak cipta dalam ayat ini adalah qodar (taqdir Allah), dan yang dimaksud memerintah adalah syariat. Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan.” (Al-A’raaf: 77).

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan), dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu, dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah:18).

Sehingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.” (At-Taubah: 48).

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa urusan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah syariat yang diperintahkan dan agama yang diturunkan yang wajib diikuti oleh semua manusia. Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberi ungkapan tentang keteguhan Thaifah Manshuroh dengan kebenaran, agama dan perintah.

Kata ‘ala (di atas) yang termaktub dalam hadlts-hadits Thoitah Manshuroh menunjukkan atas kekokohan dan kemantapan dalam berpegang. Thaifah Manshuroh selalu berpegang teguh dengan kebenaran dan mengikutinya, sehingga mereka mendapatkan kemenangan karena keteguhannya memegang kebenaran secara sempurna di saat semua orang berpaling daripadanya.

Segi yang menonjol dalam kebenaran yang dipegangi oleh Thaifah ini sehingga bergelar manshuroh adalah sebagai berikut:

  1. Istiqomah dalam aqidah, fanatlk dengan sunnah Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan menghindari bid’ah beserta orang-orangnya. Mereka adalah ahli sunnah yang tidak punya nama lagi yang pantas diberikan kepada mereka kecuali sunnah, bukan Jahmiyah, Mu’tazlllah, Qodariyah, Murji’ah atau Khawarij, dan bukan pula yang lainnya dari nama-nama yang menunjukkan ahli bid’ah dan hawa nafsu.
  2. Istiqomah dalam petunjuk dan etika yang jelas di atas manhaj nabawi yang diwariskan dari sahabat ra., selamat dari sebab-sebab kefasikan, keraguan dan nafsu yang diharamkan.
  3. Istiqomah dalam jihad dengan jiwa dan harta, beramar ma’ruf nahi munkar serta mendirikan hujjah (bukti kebenaran agama ini) atas semua orang.
  4. Istiqomah dalam usaha menyiapkan faktor penyebab kemenangan, baik moral maupun materil, dan menghimpun pilar-pilar yang digunakan orang mu’min untuk mencetak kemenangan.

Tidak syak lagi jika mereka dimenangkan, sebab keteguhannya yang kokoh dan kontinyu. Dari segi lain karena semangat dan kemampuan yang dikerahkan untuk mendapatkan faktor-faktor kemenangan. Mengerahkan segala daya pada dasarnya termasuk bagian dari istiqomah atas syariat. Karena syariat memerintahkan untuk mencarl sebab-sebab dan mengerjakan apa yang bisa menghantarkan pada hasil dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tidak benar sama sekali jika seorang muslim enak-enakan duduk berpangku tangan, tidak mau mengusahakan dan mengerjakan sarana materil yang mungkin dikerjakan dari perindustrian, persenjataan, dan sebagainya. Karena program kerja itu adalah konsekuensi dari istiqomah dalam men-jalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

II. Melaksanakan Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah ciri khas yang paling menonjol dalam sifat yang diberikan oleh Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka adalah … umat yang mendirikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala (hadits Mu’awiyah) dan namanya adalah … Thaifah Manshuroh (hadits Qurroh bin lyas, Abu Umamah dan Umar).

Maksud dari melaksanakan perintah Allah adalah:

  1. Mereka berbeda dari sekalian manusia, dengan membawa panji da’wah menyeru kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, syariat-Nya dan sunnah NabiNya, serta melansir dan mempublikasikan sunnah di antara manusia dengan segala cara yang disyariatkan, membersihkan sunnah dari subhat, menggiring manusia kepadanya setiap kali ada kesempatan, serta menyangkal dan menangkal orang-orang yang menyalahinya dari orang-orang kafir, murtad, munafik dan juhala’ (orang-orang bodoh).
  2. Mereka melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar dengan hati, Iisan dan tangan, mengingkari seluruh penyelewengan yang terjadi dikalangan kaum muslimin apapun macamnya, baik politik, sosial, ekonomi, keilmuan ataupun aqidah. Mereka adalah ulul baqiyyah (orang-orang yang tersisa) yang memberantas kerusakan di muka bumi. Mereka adalah orang-orang yang selamat dikala semua orang zalim hancur binasa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirrnan: “Maka mengapa tidak ada dari umatumat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (Huud: 116).

Ayat ini menegaskan betapa pentingnya keistimewaan dengan segala pengaruhnya dalam memelihara eksistensi umat ini. Sebaliknya jika hilang kelompok orang-orang yang memerintah dan melarang di antara manusia mengerjakan kerusakan di muka bumi, maka hal ini merupakan faktor terbesar bagi kehancuran dan datangnya murka Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sedangkan wujudnya para pembaharu yang berani memerintah kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah faktor utama yang dapat meredam murka Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan azabnya atas pembangkangan umat manusia.

Karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala melanjutkan dengan ayat: “Dan tidaklah sekali-kali Tuhanmu membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Huud: 117).

Diantara makna yang dimaksudkan ayat ini adalah Thaifah Manshuroh, yang dengan adanya mereka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjamin kekalnya umat ini dan kelangsungannya sampal datang putusan Allah Azza wa Jalla.

Dijelaskan dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ash bahwa yang dimaksud dengan putusan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah angin yang sentuhanya seperti sutera dan harumnya seharum misik, yang berhembus sebelum hari kiamat. Maka ia mencabut nyawa setiap mu’min dan mu’minat, sehingga tidak tersisa kecuali seburuk-buruk manusia, dan atas merekalah terjadinya kiamat.

Keberlangsungan umat ini karena eksistensi Thaifah yang menegakkan agama Allah, karena mereka adalah sisa-sisa orang yang berani mencegah kerusakan di bumi ini, mereka adalah muslihun.

Karena itu Abu Hurairah dan Syurahbil bin Santhi AI-Kindi memberi landasan bagi periwayatan haditsnya tentang Thaifah Manshuroh, katanya, ”Akan selalu ada kaum muslimin di muka bumi ini sampai datang hari kiamat” Sepertinya ke dua sahabat ini menarik kesimpulan dari hadits tersebut bahwa Thaifah Manshuroh muncul dengan memikul beban da’wah dan perbaikan, sehingga keberadaan mereka menjadi jaminan dari kemusnahan dan kehancuran umat Islam secara menyeluruh.

Bagi yang memperhatikan hadits Tsauban yang panjang akan dapat mengerti dengan jelas, dimana Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan batas yang akan dicapal oleh kerajaan umat ini, dan meminta kepada Allah Azza wa Jalla agar umat ini tidak dibinasakan dengan musibah yang menyeluruh, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkannya, kemudian beliau menyebutkan pula bagaimana perjalanan umat ini hingga sampai kepada penyelewengan, perselislhan, pertikaian, kerusakan para penguasa, dan masuknya beberapa kabilah ke dalam golongan musyrikin, penyembahan berhala. oleh beberapa golongan umat ini, munculnya para pembohong besar, dan beliau akhiri dengan kabar Thaifah Manshuroh yang menang.

Saya sebutkan disini riwayat Abu Dawud itu karena tergolong riwayat terlengkap. Dari Tsaubah ra. ia berkata, “Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:”Sesungguhnya Allah memperlihatkan kepadaku peta bumi”, atau bersabda: “Sesungguhnya Tuhanku memperlihatkan kepadaku peta bumi, maka aku lihat bagian timur dan barat sungguh kerajaan umatku akan sampai pada apa yang sudah diperlihatkan padaku dari bumi tersebut. Aku diberi dua gudang: merah dan putih (yakni akan takluk pada Islam dua kerajaan besar waktu itu, yaitu Persia dan Romawi). Dan aku telah meminta Tuhanku agar umatku tidak dihancurkan dengan malapetaka yang menyeluruh, dan tidak dikuasakan atas mereka musuh-musuh dari selain jiwa mereka, sehingga menghalalkan telur — cikal bakal mereka — (yakni merusakkan keturunan kaum muslimin). Sesungguhnya Tuhanku berfirman padaku: “Ya Muhammad! Sesungguhnya Aku jika telah memutuskan dengan satu keputusan, maka tak bisa ditolak dan Aku tak membinasakan kalian dengan musibah umum, Aku tidak menguasakan atas mereka musuh dari selain diri mereka, maka menghalalkan janin, jika mengeroyok mereka orang-orang dari antara penjuru dunia”, atau Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “…dengan penjuru dunia – sampai sebagian membinasakan sebagian yang lain, dan sebagian mereka menawan yang lain.” Hanya saja aku khawatir atas umatku dari para imam yang menyesatkan. Jika pedang-pedang telah ditelakkan dalam umatku, tidak akan diangkat lagi dari umatku sampai hari kiamat (yakni jika terjadi saling berperang di antara umat Islam sendiri, maka perang saudara tidak akan berhenti). Dan tidak terjadi kiamat sampai beberapa kabilah dari umatku bergabung dengan orang musyrik, sampai beberapa kabilah dari umatku menyembah berhala. Dan akan ada dari umatku tiga puluh tukang dusta, semuanya mengaku sebagai nabi, dan akulah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku. Dan selalu ada sekelompok dari umatku berada di atas kebenaran. Berkata Ibnu Isa: Mereka akan menang kemudian keduanya sepakat: Tidak merugikan mereka orang yang menyalahi mereka sampai datang keputusan Allah,” (HR. Abu Dawud,, AI Barqoni, hadits shahih).

Adalah Ibnu Majah ketika selesai meriwayatkan hadits ini berkata, “Alangkah menyeramkan berita di hadits ini. “Dalam hadits tersebut diisyaratkan dengan jelas bahwa umat ini tidak akan hancur dengan malapetaka yang menyeluruh, karena akan selalu terdapat satu kelompok yang menegakkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Satu indikasi lain, bahwa umat ini bagaimanapun terjadinya perpecahan, peperangan, rusaknya hukum, hilangnya rambu-rambu agama di sebagian besar golongan, hingga sebagian besar menyusul dengan musyrikin dalam pemikiran dasar, keyakinan dan loyalitas, bahkan sampai ada sebagian yang menyembah berhala, baik yang konkret maupun yang abstrak. Bagaimanapun kesemuanya ini terjadi, maka yang menyebabkan turunnya murka dan azab Allah Azza wa Jalla secara menyeluruh dan dahsyat menghancurkan umat adalah karena tidak adanya sisa-sisa orang yang mencegah kerusakan di muka bumi dengan jelas dan terang-terangan, dengan kekuatan dan keteguhan hati, dan ini berarti tidlak adanya Uli Baqiyah (sisa-sisa orang tersebut yang melakukan amar makruf nahi munkar).

Keadaan ini mungkin terjadi di sebagian belahan bumi pada masa tertentu, akan tetapi tidak akan terjadi pada umat secara keseluruhan, kecuali pada masa-masa menjelang kiamat. Ini menunjukkan pentingnya fungsi amar ma’ruf dan nahi munkar untuk merealisir kontinyuitas eksistensi umat demi kemaslahatannya di segala zaman dari kehancuran total.

Juga menjelaskan bahwa kelompok yang menyandang tugas ini dan yang memperjuangkannya secara terus menerus adalah Thaifah Manshuroh.

Ini adalah makna yang terkandung dalam hadits Tsaubah, dimana menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menghancurkan umat ini secara menyeluruh, diriwayatkan pula bagaimana perjalanan umat ini yang dimulai dari penyelewengan karena ulah para imam yang sesat lagi menyesatkan, juga karena peperangan, perselisihan, penipuan, juga peperangan, perselisihan, peniruan umat dengan musyrikin, munculnya tukang-tukang pendusta, dan Allah Azza wa Jalla mengakhiri pernyataannya bahwa Thaifah Manshuroh senantiasa kekal, berdiri tegak diatas kebenaran dan tetap tak tergoyahkan. Karena itu mustahil bumi ini kosong dari Thaifah Manshuroh yang senantiasa membendung kekufuran dan kejahiliyahan di atas dunia dalam bentuk negara, masyarakat maupun indivldu-individunya, atau golongan yang memang bodoh dalam hukum dan syariat.

Dengan demikian semakin kuatlah apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah: ”Adapun sesudah diutusnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam jahiliyah bisa saja terjadi dalam satu negeri, tidak di negeri lain seperti di Darul Kufr, kadang terdapat pada pribadi yang tidak ditemui pada pribadi lain, pribadi itu bukanlah dari seseorang yang belum masuk Islam, sesungguhnya ia dalam keadaan jahiliyah sekalipun berada di Darul Islam (negeri muslim)”

Adapun kebodohan terjadi pada satu zaman yang tak terbatas, maka tak ada kebodohan yang demikian setelah diutusnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena setelah diutusnya beliau akan senantiasa ada dari umat ini satu golongan yang memenangkan kebenaran sampai hari kiamat.

Sebagaimana disitir dalam kitab AI-Fatawa bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang benar dan dipercaya itu memberitahukan bahwa akan selalu ada Thaifah yang kuat dari umatnya senantiasa berpegang teguh di atas kebenaran, perkasa, mulia, tidak merugikan mereka orang yang menyalahi, dan tidak pula mereka merasa hina dari fitnahan si penghina, adapun Islam menjadi terasing dan hina secara keseluruhan sebelum hari kiamat, tidak akan terjadi.

Sebagaimana Thaifah ini menegakkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam melansir agama yang benar dan menyampaikannya, mengusir subhat (kekacauan pemahaman), memasyarakatkan sunnah di antara muslimin, memerangi bid’ah dan mewujudkan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar, maka Thaifah ini juga melaksanakan jihad dan berperang fi sabilillah.

Di antara yang menarik perhatian dalam sebagian besar hadits adalah pensyifatan mereka dengan “berperang di atas kebenaran”, seperti dalam hadits:

n “Maka mereka bertempur atas urusan (agama) Allah”. (hadits Uqbah bin Amir).

n “Bertempur di atas kebenaran.”(hadits Umron, Salamah bin Nufail, Jabir bin Abdullah).

n “Berperang di atas agama ini.” (hadits Jabir bin Samuroh).

n “Berperang di atas pintu-pintu Damaskus”. (hadits Imron).

Juga diterangkan dalam, sebagian riwayat bahwa orang terakhir yang mereka perangi adalah Masih Dajjal dalam hadits mungkar Salamah dan An-Nawas. Sedangkan hadits lain yang mengisahkan tentang mereka adalah penghinaan kuda oleh manusia, peletakan senjata, dan pernyataan tidak ada lagi perang, sehingga karenanya Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Mereka dusta! Sekarang tiba saatnya perang,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Riwayat-riwayat ini menjelaskan dengan tuntas bahwa Thaifah Manshuroh muncul dan memperoleh kemenangan tidaklah sebatas orang yang berjihad dengan kata-kata, melainkan juga melaksanakan tugas jihad syar’i (berperang secara syariat) di jalan Allah Subhanau wa Ta’ala dengan memerangi musuh Allah Azza wa Jalla yang kafir, munafik dan sebagainya. Ini berarti adanya kontinuitas jihad dalam bentuk kekuatan militer memerangi musuh-musuh agama Allah Azza wa Jalla sampai hari kiamat.

Sebagaimana dinyatakan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang keberlangsungan jihad dalam sabdanya: “Kuda diikat kebaikan di ubun-ubunnya sampai hari kiamat, yaitu pahala dari ghanimah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Ahmad telah mengambil hadits ini sebagai dalil atas keberlangsungan jihad sampai hari kiamat. Bukhari mengikuti langkahnya Imam Ahmad dengan menyajikan bab khusus dalam Shahihnya, yaitu bab: “Jihad berlangsung kapanpun bersama imam yang baik apalagi yang fajir (jahat)”, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Kuda diikat didahinya kebaikan sampai hari kiamat” (Shahih Bukhari).

Begitulah yang dilakukan oleh sejumlah imam dengan memasukkan hadits ini dalam bab jihad, bahkan membuat bab khusus akan ketentuan jihad dan keberlangsungannya sampai hari kiamat, seperti yang dilakukan Abu Awanah dalam kitabnya Ash-Shahihul Musnad, Said bin Manshur dalam kitabnya As-Sunan, An-Nasa’i dalam kitabnya AI-Kubro, dan yang lainnya.

Ibnu Hajar telah menghubungkan hadits ini dengan hadits Thaifah Manshuroh, dan berkata: “Karena Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut kekalnya kebaikan di dahi-dahi kuda sampai hari kiamat, dan menafsirkannya dengan pahala dan ghanimah, dan ghanimah yang dlsebut beriringan dengan pahala hanya akan didapatkan dengan kuda dan jihad. Berita gembira tentang keberadaan Islam dan umatnya sampai hari kiamat, karena konsekuensi dari adanya jihad, mereka adalah mujahidin, sebagaimana bunyi hadits terakhir, “…senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang atas kebenaran.” (AI-Fath: 2/65).

Maksudnya jihad itu tidak akan terputus sampai kapanpun, tetapi akan selalu ada dalam umat ini Thaifah Manshuroh yang berjihad di jalan Allah Azza wa Jalla memerangi musuh-musuh Allah. Tetapi terdapat pula dibeberapa tempat orang yang meninggalkan jihad sebagaimana yang diberitakan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewariskan atas umat ini kehinaan.

Dari Ibnu Umar ra., saya mendengar Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika kalian berjual beli secara ‘inah[1] , dan kau ambil ekor-ekor sapi, kau rela dengan tanaman, kau tinggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan atas kalian kehinaan. la tidak mencabutnya sampai kamu kembali ke agamamu.” (HR. Abu Dawud dan AI-Baihaqi, hadits hasan lighoirihi). Kadangkala kebanyakan umat meninggalkan jihad di jalan Allah, dan merasa tenteram dengan kehidupan dunia, sehingga meninggalkan jihad dari memerangi musuh Allah, maka Allah akan menguasakan atasnya kehinaan dan kerendahan.

Jika keadaannya sudah seperti ini, maka fungsi dari Thaifah Manshuroh terbagi menjadi dua dimensi.

Pertama: Aspek da’wah kepada Allah dan Rasul-Nya, memasyarakatkan sunnah, memerangi bid’ah.

Kedua: Amar makruf nahi munkar, serta berusaha menghilangkan segala kendala dan rintangan yang menghadang jalannya da’wah.

Disamping mempersiapkan peperangan dan penyerbuan ke kubu musuh Allah dengan berbagai senjata. Tanpa ini semua kewajiban jihad tidak bisa dijalankan. Dan bila dua dimensi jihad itu telah sampai pada puncaknya, maka Thaifah ini akan maju dan menembus jantung pertahanan musuh sampai Allah memenangkannya dan mengembalikan kejayaan, kemuliaan dan kemegahan. Jadi sebenarnya terbengkalainya jihad bersifat sementara waktu, karena dalam tubuh umat ini pada akhirnya kita dapati Thaifah Manshuroh yang akan memerangi dajjal.

Jihad yang dimotori oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada masa beliau masih hidup dan sampai sesaat sebelum hari kiamat tidak akan berakhir. Dan Thaifah yang dimuliakan Allah dengan memikul panji jihad generasi demi generasi adalah Thaifah Manshuroh yang melaksanakan segala perintah Allah tanpa terlalu banyak memperselisihkan firman-firman-Nya.

3.Thaifah Manshuroh Adalah Reformer Dari Umat

Keberadaan Thaifah Manshuroh adalah memimpin peran tajdid (pembaharuan) bagi agama ini yang merupakan bagian dari makna melaksanakan perintah Allah. Ini dikuatkan oleh kehausan mereka untuk melaksanakan tugas terbesar, yaitu jihad fi sabilillah.

Sengaja saya pisahkan pembahasan hadits ini, karena betapa besarnya pengaruh yang ditimbulkan oleh tajdid dalam agama ini. Dimana mereka berusaha menghilangkan keterasingan agama di tengah-tengah umat, yaitu dengan menghidupkan apa-apa yang mati dari syariat dan ditinggalkan oleh pemeluknya. Dengan demikian tugas Thaifah Manshuroh adalah menghidupkan agama dan memperbaharuinya, serta menghilangkan keterasingan Islam dari umatnya.

Dan tugas ini semakin berlipat ganda dan semakin berat, ketika kejahatan dan kerusakan semakin merajalela dan bertambah-tambah. Jadi, tajdid (pembaharuan) adalah setelah adanya kerusakan umat, dan saat itulah yang dimaksudkan keterasingan Islam. Ini adalah salah satu makna yang dipahami dari hadits Tsauban yang lalu, dimana digambarkan kerusakan umat secara umum dan khusus, baik di tingkat nasional, jama’ah, maupun pribadi pribadi, kemudian dalam hadits ini disebutkan pula bahwa Thaifah Manshuroh bangkit karena kerusakan itu.

Yang membuat tanggungjawab mereka semakin besar ketika kejahatan semakin menggila. Karena itu, ketika disebutkan bentuk penyelewengan paling besar adalah murtad, menyembah berhala, dan mengikuti musyrikin, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa kelompok yang selamat dari penyelewengan tersebut adalah Thaifah Manshuroh.

Dan ini sangat sinkron dengan flrman Allah yang berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah.” (AI-Maaidah: 54). Mereka itulah Thaifah Manshuroh, yang senantiasa melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla sampai hari kiamat.

Berkaitan dengan Thaifah ini, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kabar gembira dengan diutusnya orang yang senantiasa memperbaharui agama ini demi umatnya.

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda: “Sesungguhnya Allah mengutus bagi umat ini di atas kepala setiap seratus tahun orang yang memperbaharui baginya agamanya.” (HR Abu Dawud, Hakim, dan Baihaqi).

Lafazd man di dalam hadits yang artinya siapa, digunakan untuk orang tunggal atau jama’, jlka pembaharu itu seseorang, maka harus dari Thaifah Manshuroh, ini tidak perlu diragukan lagi. Dan jika peran tajdid diwakilkan oleh satu golongan, maka itupun dari golongan Thaifah Maanshuroh. Tajdid ini bisa dilakukan oleh seseorang, dan bisa pula oleh kelompok.

Biasanya dalam satu kelompok lebih sering terjadi, sebagaimana yang digunakan oleh pendapat Ibnu Hajar. “Tidak harus di ujung setiap seratus tahun ada seorang saja, karena terhimpunnya sifat-sifat yang diperlukan untuk tajdid tidak hanya terbatas pada satu kebaikan dan bermacam-macam kebaikan, dan tidak ada semua unsur kebaikan terkumpul pada satu orang, kecuali hal itu diduga pada diri Umar bin Abdul Azlz, karena beliau melaksanakan urusan tersebut bertepatan pada kepala seratus tahun pertama, dan terhimpun padanya semua sifat kebaikan, dari sanalah Imam Ahmad mengatakan bahwa ahli hadits*)[2] menerarapkan hadits tajdid pada Umar bin Abdul Azlz.

Adapun mujaddid sesudahnya adalah Imam Syafi’i yang terhimpun padanya semua sifat kebaikan yang indah. Berdasarkan hal ini, maka setiap orang yang mempunyai suatu sifat seperti itu disetiap penghujung abad, dialah orang yang dimaksudkan, baik jumlahnya terbilang maupun tidak. Ada banyak pendapat dari sejumlah imam dalam masalah ini, seperti pendapat Imam Zahabi yang dinukil Munawi dalam Faidhul Qidir, pendapat Ibnu Atslr AI-Jazri, pendapat Ibnu Katsir, dan pendapat Syekh Muhammad Yahya yang disitir oleh Saharnafuri. Secara badihiyat (yakni secara akal), mujaddid bagi agama ini tidak akan muncul dengan sendirinya tanpa adanya sebab, dan begitu pula pembaharuan di segala bidang pengamalan dalam agama ini, hanya dimungkinkan dengan berjama’ah. Sudan jelas kalau pekerjaan yang bernilai sejarah yang besar seperti ini, tidak mungkin muncul dari seseorang yang terkumpul padanya segala keutamaan. Tetapi memerlukan kelompok yang memimpin disemua aspek kehidupan secara Islam,maka di antara mereka ada yang pemberani dan pahlawan tempur, ada yang fuqoha’, muhadditsun (ahll hadits), zuhhad, orang-orang yang beramar ma’ruf nahi munkar, serta banyak lagi dari bidang kebaikan dan mereka tidak harus berkumpul di satu tempat, akan tetapi berpencar di seluruh penjuru bumi.

Dapat kita bayangkan betapa Thaifah Manshuroh yang melaksanakan tugas suci dalam membela agama, melindungi milik Islam dan memelihara sunnah, telah menjadi satu simbol dari beberapa golongan yang berbeda-beda, yang tidak ada hubungan antara masing-masing, tidak pernah berkumpul, bahkan mungkin perselisihan dan saling cela telah merasuk jiwa mereka. Tetapi masing-masing mereka telah memperjuangkan jalannya da’wah, amar ma’ruf nahi munkar, perang atau yang lainnya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan, seorang pemimpin atau lebih yang menyatukan tekadnya, merapikan barisannya, mengkoordinasikan usahanya, serta meluruskan apa-apa yang bengkok dan menyimpang.

Jika kita Iihat deretan nama yang dinilai oleh sebagian ulama sebagal mujaddid, seperti Imam Syafi’i, Ahmad, Ibnu Taimiyah, dan yang lainnya, tentu kita dapatkan kondisi mereka memang begitu. Pendapat mana saja yang kita ambil, apakah mujaddid itu seseorang atau jama’ah, maka tidak mungkin kita bayangkan Thaifah Manshuroh yang menang dan melaksanakan perintah Allah, akan cuci tangan dari proyek raksasa ini.

  1. Thaifah Maanshuroh tampak terang-terangan di permukaan sampai kiamat. Sebagaimana Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberl sinyalemen bahwa Thaifah ini:

– “Senantiasa menampakkan diri sampai datangnya putusan Allah dan mereka menang.” (hadits Mughiroh).

– “Mereka menampakkan diri diatas kebenaran.” (hadits Tsauban, Saad, Umar, dan mursalnya Muhammah bin Ka’ab).

– “Di atas kebenaran mereka menampakkan diri.” (hadits Zaid bin Arqom dan Imran),

– “Mereka menampakkan diri sampai hari kiamat.”(hadits Jabir bin Abdullah).

– “Di atas agama mereka menampakkan diri,” (hadits Abu Umamah).

– “Mereka menampakkan diri (menang) atas orang-orang yang melawannya” (hadits Murroh bin Ka’ab).

Di sini akan saya bahas rnakna zhahir (menampakkan diri) sebagaimana yang termaktub dalam hadits-hadits di atas, yang kemudian diikuti dengan bahasan aspek zaman dan tempat dalam bagian tersendiri. Kata zhuhur – zhahir, mempunyai banyak makna, diantaranya:

  1. Jelas, terang, tidak tersembunyi. Jadi mereka (Thaifah Manshuroh) dikenal, menonjol, dan termashur. Secara global, ini adalah pensyifatan yang besar, karena mereka menggemakan da’wah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad, dan mengokohkan hujjah sebagai bukti kebenaran Islam, yang berati dengan pekerjaan ini mereka muncul terang-terangan, dikenal manhajnya, jelas arahnya dan punya komando yang tegas.
  2. Pelaksanaan tugas tabligh, da’wah, memerangi kemunkaran, dan melawan musuh, mengharuskan keterus terangan, muncul di permukaan, semangat untuk menyampaikan yang haq pada setiap muslim dan manusla. Sekalipun demikian amalan diatas tidak menghalangi bersembunyinya sebagian personelnya dengan Islam atau dengan da’wahnya, karena mengingat dan menimbang faktor tertentu dalam tempat dan waktu tertentu pula. Tetapi yang dimaksud penilaian disini adalah keadaan kelompok ini secara umum, tidak bagian bagiannya atau personelnya. Ini berarti kondisi umum dengan kontinyuitas yang stabil bukan kondisi sementara yang datang dan pergi. Pengertian dalil ini diambil dari garis besar sifat yang tersurat dalam hadits yang sudah saya utarakan.
  3. Stabilitas mereka berada di atas kebenaran agama, istiqomah, menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan berjihad. Dalam melakukan semua ini mereka tidak bergeming sedikitpun, padahal mereka dihadang dengan kesulitan, rintangan, maupun tantangan.

Sebagaimana tersebut dalarn firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (AI-Maaidah: 54).

Konsistennya Thaifah ini atas agama, teguhnya pendirian para personelnya, bagaimanapun keterasingan mereka, banyaknya orang yang tidak sejalan, sedikitnya anggota, kuatnya aqidah dan kemenangan atas hawa nafsu dan pengaruh keduniaan, bercampur aduknya urusan yang haq dengan kebathilan yang harus dipisahkan, dan datangnya badai tuduhan darl segala penjuru arah, adalah bentuk penampakan diri yang paling besar.

Karena itu Allah Azza wa Jalla berflrman: “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (AI-Mu’min: 51).

Sekalipun Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin kemenangan para wali-Nya, yang mu’min dan para pengikutnya, tetapi kita dapatkan di antara mereka ada yang terbunuh, ada yang dikalahkan oleh orang-orang ahlil batil dari segi materi untuk sementara waktu, sebagaimana yang terjadl pada Ashabul Ukhdud[3]   dan yang lainnya. Jadi kemenangan itu tidak hanya dalam satu bentuk yang tercipta lewat medan pertempuran, akan tetapi dalam bentuk yang bermacam-macam. Diantaranya pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala pada wali-wali-Nya akan kesabaran yang tinggi atas agama dan aqidah sekalipun dengan tercabutnya nyawa, tersiksanya jasad, teraniayanya keluarga, dan terusirnya putera-puteri.

Hal ini merupakan keyakinan seorang mu’min bahwa balasan atas kebaikan hanyalah bagi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang muttaqin di dunia dan akhlrat, sekalipun musibah datang silih berganti. Maksud dalam makna zhahir ini ialah kemenangan mereka dengan hujjah, bayan (dalil dan keterangan) dan akal yang dapat mengalahkan atas hati dan akal lawannya, karena berdasarkan pada kebenaran yang nyata yang dihimpun dari kitab dan sunnah.

Keistimewaan ini merupakan daya tarik untuk mengikuti dan menyetujui langkah mereka, maka kebenaran akan muncul sebagai pemenang dan kebathilan akan hancur binasa. Karena itu kita dapati sebagian musuh-musuh dan lawan Thaifah ini tunduk dengan kebenaran yang dibawa Thaifah ini. Sehingga mereka meninggalkan bid’ahnya yang sesat dan bergabung dengan Thaifah ini. Dan ini kemenangan yang besar yang dilandasi dengan hujjah. Dalam hal ini penulis kitab ’Aunul Ma’bud berkata, “Mereka dhahirin, artinya mereka menang atas ahli bathil, sekallpun dengan hujjah.” Semakin luas wawasan keilmuan Thaifah ini, baik dalam pemahaman terhadap wahyu dan tsaqofah (pengetahuan) kontemporer, maka semakin mampu pula mereka menyampaikan manhajnya, sehingga menanglah hujjahnya dan semakin jelas pula kebenaran jalan yang ditempuhnya.

  1. Zhuhur artinya kemenangan. Ibnu Hajar lebih cenderung mengutamakan makna ‘kemenangan’ ketimbang makna yang pertama. Dalil-dalil dengan jelas mendukung makna ini. Hadits-hadits telah memberikan sifat zhahirin, dan tidak diragukan lagi bahwa kata zhuhur kebanyakkan berarti kemenangan, kemantapan, ketinggian, dan mengalahkan.

Sebagaimana termaktub dalam firman-Nya:

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (AI-Our’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (At-Taubah: 33).

“Maka Kami bantu mereka yang beriman buat (mengalahkan) musuh-musuh mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang,” (As-Shaff: 14).

“Sehingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.” (At-Taubah: 48).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang senada telah menguatkan makna ini. Bahkan ada riwayat yang hampir menyatakan dengan makna yang jelas, seperti sabda Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam: – “Mengalahkan musuh-musuh mereka.” (hadits Uqbah bin Amir).

– “Menang atas orang-orang yang melawannya.” (hadits Imran bin Hushain dan Murroh Bin Ka’ab).

– “Mereka ditolong (dimenangkan).” (hadits Qurroh bin lyas)

– “Terhadap musuhnya mereka menang.” (hadits Abu Umamah)

Yakinlah bahwa janji Rabbani lewat sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak diragukan oleh Muslim dalam ketetapannya, kenyataannya, dan faktanya, apalagi asal haditsnya mutawatir. Dengan demikian ini merupakan kemenangan dengan hujjah, materi, serta kemenangan dalam perang.

Boleh jadi semua makna zhuhur tersebut di atas telah diriwayatkan dan shahih riwayatnya, bahwa Thaifah Manshuroh zhahirah, terang-terangan, dan tidak tersembunyi.

Mereka tampil berpegang di atas agama dengan tetap konsisten, tegar tak tergoyahkan, dan zhahirah, sehingga mereka memperoleh kemenangan atas musuhnya dengan hujjah, bayan, dan kekuatan persenjataan. Makna seperti ini memberi cakrawala lebih luas bagi hadits tersebut daripada jika dibatasi pada sebagian arti saja.

Sebahagian orang mu’min heran dengan janji berbagai macam kemenangan bagi Thaifah ini. Karena jika melihat kenyataan dan fakta yang ada selama ini, umat Islam telah menghadapi berbagai serangan dari musuh-musuhnya, kemudian dikalahkan dan dikuasai. Seperti halnya pada perang salib, detik-detlk terakhir runtuhnya kesultanan Utsmaniyah, bahkan seperti yang terjadi sekarang ini, muslim diberbagai belahan bumi dikuasai musuh, dibunuh, dihinakan, diusir, dan dijebloskan ke dalam penjara.

Untuk mengetahui batas kesesuaian antara hadits dan fakta sejarah, harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama: Sesungguhnya hadits ini memberi kabar tentang dasar umum yang tetap, tidak habis kecuali dengan pencabutan arwah mu’minin sesaat sebelum kiamat, dan dasar ini tidak bertentangan dengan kelemahan. muslimin pada waktu dan tempat tertentu, sehingga ada di antara mereka dikuasai musuh.

Kenyataan ini sesuai dengan dasar lain yang berhadapan dengan dasar pertama, yaitu jika kaum muslimin meninggalkan jihad, amar ma’ruf dan nahi munkar, maka Allah akan menguasakan atas mereka kehinaan, Akan tetapi kelalaian kaum muslimln dalam jihad dan kesibukan mereka dengan dunia, yang berakibat datangnya murka Allah Azza wa Jalla hingga kehinaan ditimpakan atas mereka.

Namun keadaan seperti ini tidak berlangsung terus-menerus tanpa henti, ini adalah konsekuensi janji Allah dan Rasul-Nya. Dan merupakan suatu kesalahan, jika menetapkan suatu masa tertentu kemudian mencocokkannya dengan hadits ini. Tetapi bila ingin mencocokkan hadits ini dengan kenyataan, hendaklah melihat sejarah masa lalu dan masa yang akan datang. Maka dengan melihat sejarah masa lalu, akan memberikan pengertian bahwa supremasi orang kafir atas kaum muslimin hanya bersifat sementara, dan dengan cepat dihalau oleh Thaifah Manshuroh sehingga hilanglah kehinaan yang menimpa kaum muslimin dengan kemenangan yang gemilang.

Tugas Thaifah Manshuroh ini ialah terus-menerus menegakkan jihad walaupun mayoritas umat Islam telah meninggalkan kewajiban ini. Dan apabila terdapat berbagai kendala yang menghalanginya untuk melakukan tugas ini, maka tugas utama diprioritaskan terlebih dahulu untuk menyiapkan segala sarana yang dibutuhkan bagi terciptanya gerakan jihad guna menyingkirkan berbagai kendala tersebut dan menaklukkannya.

Adapun jika kita melihat pada masa yang akan datang, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah menjanjikan bahwa agarna ini akan mendapatkan giliran atas kemenangan yang diidam-idamkan. Kondisi lemah dan hina yang menimpa muslimin hari ini tidaklah berlaku untuk selamanya. Karena sunnatullah selalu berputar di antara manusia, memberi cobaan pada sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Lagi pula, siapakah kiranya yang mengetahui kejadian di masa yang akan datang?

Sebagai bukti kita telah melihat berkumpulnya Yahudi di Palestina dengan segala kesombongannya, mereka membuat kerusakan dan perluasan kekuasaan dengan didukung oleh kekuatan internasional. Dan ini tidak lain adalah awal dari janji Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang pasti, bahwa kaum muslimin akan memerangi Yahudi dan membunuh mereka semuanya. (?) Dari Abdullah bin Umar ra, saya mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda “Kalian akan memerangi Yahudi, dan kalian akan menguasai mereka, sampai batu-batu bicara: Ya Muslim! inilah Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Abu Amr Ad-Dani).

Kedua: Menangnya Thaifah ini atas musuh adalah suatu perkara yang nisbi. Karena kemenangan tidak harus bermakna menang mutlak, tetapi terkadang banyak keinginan yang menemui kegagalan. Namun apapun yang ditaqdirkan Allah atas hambanya yang beriman segalanya adalah kebaikan. Dan itu merupakan kemenangan yang mutlak.

Dengan prinsip inilah karenanya dalam tubuh umat Islam tidak akan kosong dari Thaifah Manshuroh yang senantiasa membela agama ini di medan pemikiran dan keilmuan, bidang perbaikan sosial, hukum dan tasuri’, bahkan sering kali di medan pertempuran. Buktinya, sebagaimana sudah dimaklumi bahwa para nabi dan pengikutnya sepanjang sejarah mengalami susah, sedih dan derita, menghadapi kekalahan, bahkan terkadang dikuasai oleh musuh beberapa waktu lamanya.

Seperti dalam hadits Umar bin Khathab ra. bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sungguh orang sebelum kamu disayat dengan sisir-sisir besi yang memisahkan tulangnya dari daging dan urat syaraf. Hal itu tidak menjadikan ia berpaling dari agamanya, dan diletakkan gergaji atas tengah-tengah kepala, maka dibelah menjadi dua, hal itupun tidak membuat ia berpaling dari agamanya.”

Thaifah ini yang dijanjikan dengan kemenangan juga didustakan oleh kaumnya sendiri, diteror, dihinakan, sehingga berkumpullah dalam diri mereka segala penderitaan dan kesengsaraan. Mereka bagaikan hidangan di antara para penyantap, mereka seperti yang lainnya, mengalami kemenangan dan kekalahan, kelemahan dan kekuatan, persatuan dan perpecahan, dan dalam jihad mereka pun mengalami apa yang pernah dihadapi oleh yang lainnya, tetapi kesudahan yang baik selalu Allah Subhanahu wa Ta’ala bingkiskan untuk mereka.

Ketiga: Seyogyanya pemahaman kata “musuh” harus digambarkan dalam bentuk yang lebih luas. Karena yang tergolong musuh Thaifah ini adalah banyak jenisnya, seperti: Yahudi, Nashara, musyrikin, dan munafikun. Sekalipun pada hakihatnya mereka musuh semua muslim, tetapi permusuhan mereka kepada Thaifah ini sangat tajam, karena Thaifah ini mempunyai ciri khas yang mencerminkan tsabat (tetap teguh) dan yaqzhoh (hidup dan mawas diri) dalam umat.

Sehingga dengan ciri ini, Thaifah tersebut menjadi penghalang bagi para musuh kaum muslimin dalam menjalankan program permusuhannya. Sedangkan musuh yang lainnya datang dari golongan-golongan sesat yang menghubungkan diri pada Islam, mereka banyak tak terbilang, sehingga Thaifah ini bagai hidangan dikelilingi penyantap.

Meskipun dimusuhi dari berbagai penjuru, nampak jelas bahwa Thaifah ini menang atas sebagian musuhnya, dan mendapatkan ghanimah (rampasan perang) dari mereka bahkan menguasainya. Thaifah ini menang atas kebanyakan ahli bid’ah dan dholal (sesat), menang atas mayoritas ahli riddah (murtad) dan kafirin.

Baginya mencapai kemenangan dapat diperoleh dari banyak medan dan dalam banyak makna kemenangan, walaupun tidak harus menang dalam semua makna dan di setiap medan. Kemenangan ini berlangsung terus sampai batas tertentu yaitu hari kiamat, datangnya putusan Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu turunnya Nabi Isa as., keluarnya Dajjal, dan usaha Thaifah ini memeranginya. (Apa anda yakin Nabi Isa as akan turun…??,Sedangkan  Dajjal sudah meraja lela dimana-mana)

  1. Sabar dan Tabah. Jika Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjuluki hari-hari setelah generasi para sahabat dengan “Hari-hari sabar”, maka orang-orangnya adalah shobirun (penyabar). Tapi, siapakah yang berhak menerima julukan ini? Dari Abi Tsa’labah AI-Khusyani ra., sesungguhnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya masa setelah kalian ada hari-hari kesabaran, sabar pada masa itu beratnya seperti memegang bara api, bagi yang beramal dengan sunnah di kalangan mereka, pahalanya lima puluh kali lipat orang yang berbuat seperti amalnya”. Dan menambah padaku riwayat lainnya: Dia berkata, “Ya Rasulullah!. Pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. Abu Dawud, At-Turrnudzi, Ibnu Majah, dan At-Thabrani).

Dari Utbah bin Ghozwan ra., sesungguhnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda: “Sesungguhnya masa setelah kalian adalah hari-hari kesabaran, bagi yang berpegang teguh di dalamnya pada hari itu dengan apa yang ada pada kalian, maka akan mendapat pahala lima puluh orang dari kalian”. Mereka bertanya, “Ya Nabiyullah! Lima puluh orang dari mereka?” Beliau menjawab, “Bahkan dari kalian.” (HR. Ibnu Nasr AImarwazi dengan sanad mursal, tetapi saling menguatkan dengan hadits sebelumnya).

Sabar disini adalah berpegang teguh dengan apa yang ada pada sahabat. Sebagaimana riwayat lain, dimana Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam mensyifati hari-hari kesabaran dengan sabdanya: “Bagi orang yang berpegang teguh di dalamnya wakru itu dengan apa yang ada pada kalian, maka akan mendapat pahala lima puluh orang dari kalian.”

Ini cocok sekali dengan sifat-sifat Firqah Najiyah, yaitu orang yang berada di atas apa yang diperbuat dan dikerjakan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya. Sabar atas agama berarti tsabat (tetap teguh) berada di atasnya, tidak pernah berpisah dan tidak pernah pula menggugurkan sesuatu daripadanya, menjauhi ketaatan kepada rnengikuti langkah orang-orang kafir dan munafik yang senantiasa berusaha memalingkan muslim dari agamanya atau sebagian ajarannya.

Ini adalah kesabaran yang dianjurkan oleh Allah Azza wa Jalla pada Rasul-Nya ketika beliau diperintahkan untuk memberitahukan kepada orang-orang kafir tentang baro’ah (keterlepasan) Islam dari agama mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Katakanlah; ”Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan umtukku agamaku.” — (Al-Kafirun:1-6).

Ini adalah surat baro’ah (bersih diri) dari amal yang dikerjakan oleh orang musyrik, karena penyembah pasti punya sesembahan dan ibadah. Rasullullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pengikutnya menyembah Allah Azza wa Jalla dengan syari’at-Nya, sedangkan musyrikin menyembah selain Allah dengan ibadah yang tidak diizinkan dan tidak diperintahkan oleh Allah.

Allah Subhanau wa Ta’ala mewanti-wanti Nabi-Nya dari mentaati orang-orang kafir dalam ayat yang banyak sekali, di antaranya

“Hai Nabi! Bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik.” (AI-Ahzab: 1).

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan AI-Qur’an dengan jihad yang benar” (AI-Furqon: 52).

“Maka janganlah kamu ikut orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (AI-Qalam: 8-9).

Setelah memberikan peringatan, Allah Azza wa Jalla juga menjelaskan akibat mereka yang mentaati orang-orang kafir. Allah Subhanau wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman! Jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 149).

Sehubungan dengan Rasul-Nya, Allah Subhanau wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami.” (AI-Isra’: 73-75).

Disamping itu diperlukan juga kesabaran dalam menghadapi berbagai macam penyiksaan yang akan dlterima oleh seorang mujahid. Karena hanya dengan demikianlah berbagai macam siksaan yang datang dari orang-orang kafir, munaflk, fasik, dan orang-orang yang tidak sejalan dengannya, tidak menjadikannya keluar dari ciri khas dan jalannya yang mustaqim, apalagi sampai meninggalkan manhajnya hanya untuk melampiaskan balas dendam dan mencapai kemenangan yang membabi buta, yang bisa mengakibatkannya keluar dari da’wahnya dan jauh dari manhaj-manhaj Thaifah Manshuroh yang sudah jelas, terang, dan tenang.

Karena itu Allah Azza wa Jalla menggaris bawahi betapa pentingnya makna kesabaran bagi seorang mu’min. “Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkanmu.” (Ar-Ruum: 60).

Sesungguhnya tantangan yang dihadapi kaum muslimin dari musuh-musuhnya terkadang dapat mengakibatkan lemahnya iman dan semangat memperjuangkan agama agama ini, bahkan kadangkala ada yang sampai melakukan tindakan yang tidak terpuji. Karenanya hanya dengan kesabaran akan terselamatkan semuanya. Allah Subhanau wa Ta’ala telah mengkhususkan Thaifah Manshuroh dengan sifat kesabaran yang tiada dimiliki oleh yang lainnya, karena ia dipilih untuk imamah (kepemimpinan) dan hidayah (pemandu kebenaran).

Kondisi mereka ini sebagaimana Bani Israil yang ditegaskan Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka menyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24).

Karena itu Sufyan bin Uyainah berkata, “Mereka mengambil pokok-pokok urusan, maka Allah Subhanau wa Ta’ala menjadkan mereka para pemimpin.” Dan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyifati mareka dengan:

– “Tidak merugikan oleh orang yang mendustakan dan tidak pula orang yang menyalahi mereka.” (hadits Muawiyah, Uqbah dan Abu Hurairah).

– “Dan tidak membahayakan mereka orang-orang yang menghinakan”. (hadits Tsauban dan Murroh),

– “Tidak membahayakan mereka orang yang menyalahi mereka, kecuali kesempitan hidup.” (hadits Abu Umamah).

– “Dan mereka tidak peduli dengan orang yang menyalahi.” (mursal Muhammad bin Ka’ab).

Semua lafazh ini menunjukkan bahwa mereka kaum yang tahu jalannya, mereka tidak peduli dengan orang yang menyalahi, dan tidak merugikan mereka penghinaan orang-orang yang menghina, dan tidak pula pendustaan orang-orang yang mendustakan, sekalipun mereka menghadapi itu semua, maka tidak menimpa mereka kecuali kesempitan hidup.

Sebagai akhir pembahasan dari ciri-ciri khas Thaifah Manshuroh ini, maka harus diyakini bahwa ciri-ciri khas yang terdapat pada Firqah Najiyah  juga terdapat pada Thaifah Manshuroh, karena Thaifah ini esensi dari Firqah Najiyah, bahkan ia lebih berhak berpredikat “selamat”. Kita perhatikan bahwa sebagian besar ciri-ciri khusus Thaifah ini berhubungan dengan tugas dan peran yang dilakukan demi umat sebagai civil servant, yaitu menyerahkan segala daya upaya demi melindungi agama, mempertahankan, dan meninggikannya.  Wallahu a’lam bissawab.

 

 

Catatan kaki :

[1] ‘Inah: Jual beli dengan cara si A membeli barang dari si B dengan harga tertentu yang ditangguhkan, tidak dibayar langsung, kemudian dijual lagi oleh A kepada B dengan harga lebih rendah dari pertama dalam rangka pinjam uang dengan cara riba.

[2] Umar bin Abdul Aziz adalah seorang Khalifah dari bani Umayah, cucu Marwan bin Hakam dari pihak ayah dan cucu Umar bin Khattab ra. dari pihak Ibu.

[3] Artinya orang-orang pembuat parit pembakaran, Dahulu kalau kaum muslimin dimasukkan ke dalam parit-parit dari api yang bernyala-nyala, sementara orang-orang kafir (para pembuat parit) duduk di tepi parit-parit Itu dengan bertepuk tangan, gembira menyaksikan kaum muslimin yang dibakar. Ini diterangkan dalam AI-Qur’an surat Al-Buruj

Satu respons untuk “Thaifah Manshurah dan Keterasingannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s