Siapakah Thaifah Manshurah itu?

Disadur dari tulisan : Salman Ibnu Fahd al Audah

Karena Thaifah Manshurah adalah manhaj, sistem, dan tanda-tanda khusus. Siapa yang memenuhi syarat tersebut baik pribadi maupun jama’ah, maka dia termasuk Thaifah Manshuroh, dan setiap pengakuan sebagai golongan ini bisa kita cocokkan dengan ciri-ciri khas tersebut untuk mengetahui batas kebenarannya.

Banyak pendapat ulama dalam batasan Thaifah Manshurah dan penjelasan siapa mereka sesungguhnya?. Pendapat-pendapat tersebut akan saya paparkan untuk kemudian saya analisa.

  1. Abdullah Ibnul Mubarok berpendapat: “Mereka menurutku adalah ahli hadits.”
  2. Yazid bin Harun berpendapat: “Jika mereka bukan ahli hadits aku tak tahu lagi siapa mereka.”
  3. Imam Ahmad berpendapat sama dengan Yazid. Beliau pernah melewati sekelompok orang dari ahli hadits yang sedang membeberkan kitab mereka, maka beliau berkata, “Saya tidak menduga mereka kecuali dari orang yang disebut oleh Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Selalu ada satu golongan dari umatku yang ada di atas kebenaran sampai hari kiamat.”
  4. Ali Ibnul Madini berpendapat: “Mereka adalah ahli hadits, mereka ashabul Hadits”, katanya lagi, “Mereka ashabul hadits yang memelihara mazhabnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mencari ilmu. Seandainya bukan mereka, kita tidak akan mendapatkan ciri-ciri Thaifah Manshuroh ini pada Mu’tazilah, Rofidhoh, Jahmiyah, dan ahli Ro’yi, karena tidak ada pada golongan sesat dari ahlul bid’ah semacam ini sesuatu dari sunnah para rasul.”
  5. Imam Bukhari berkata, “Senantiasa ada sekelompok dari umatku…”, maksudnya ahli hadits, ” …dan mereka adalah ahli ilmu.”
  6. Ahmad bin Sinan berkata, “Mereka adalah ahli ilmu dan ashabul atsar (orang yang ahli meriwayatkan hadits dan perkataan sahabat.”).
  7. Ibnu Hibban berkata, “Disebutkan kepastian kemenangan bagi ahli hadits sampai hari kiamat”.

Dengan demikian mereka adalah golongan yang berhadapan dengan ahli kalam dan ahli ro’yi yang mendahulukan akal pikiran, pendapat para syekh atas dalil shahih, dengan alasan bahwa dalil tersebut zhonniyu tsubut (ketetapannya masih dikira-kirakan) atau dengan mendustakan bahwa para syekh lebih tahu dengan dalil atau alasan lemah lainnya yang bersifat apologetik.

Karena itu Imam Bukhari mendustakan, “Mereka ahli ilmu”. Pengertian ilmu lebih luas dari hadits, sekalipun hadits dinamakan juga ilmu. Terkadang ada seorang dari ahlus sunnah dari Thaifah Manshuroh dan dari ahli ilmu yang berdiri di garis demarkasi Islam membela dan mempertahankannya, tetapi tidak dari ahlu hadits (dalam arti orang yang mempelajari riwayah dan diroyah), contoh semisal ini banyak, seperti: ahli tafsir, ahli ushul fiqh, bahasa, sastra, tarikh, dan lain-lain.

Tetapi kita dapatkan dalam ungkapan Ali Ibnul Madini semacam takhshish (pengkhususan), la menginterprestasikan ahli hadits dengan orang-orang yang memelihara sunnah Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabatnya, para pencari ilmu agama dan orang-orang yang menyampaikan sunnah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada umat manusia. Ini adalah penafsiran yang bersifat sebagian dari bagian-bagian yang lain.

Thaifah Manshuroh menurut ciri khasnya yang telah disebutkan di atas lebih umum dari itu. Tidak diragukan lagi kalau kelompok yang disebutkan oleh Ali Ibnul Madini adalah lebih utama untuk masuk dalam golongan Thaifah Manshuroh. Dan semua ahli Ilmu dengan berbagai bidangnya dari ahlus sunnah harus merujuk kelompok tersebut, tetapi tidak berarti kalau Thaifah Manshuroh hanya mereka saja. Karena itu ungkapan Imam Ahmad sangat detail ketika melihat satu kaum yang sibuk dalam mengajarkan hadits, maka beliau kategorikan mereka kedalam sabda Nabl Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Senantiasa ada segolongan dari umatku.,.” Jadi ahlul hadits yang sibuk dengan bermacam-macam ilmu yang bermanfaat dengan tujuan himayatud-dien (melindungi agama) dan Ilmu, baik ushul maupun furu’ serta sarana-sarananya, mereka tergolong dari Thaifah Manshuroh.

Ahli sunnah yang sibuk memerangi bid’ah beserta orang-orangnya dengan menjelaskan jalan yang terang dan benar, menghilangkan subhat, mereka tergolong Thaifah Manshuroh. Ahli  sunnah yang tergabung dalam tentara mujahidin di garis demarkasi yang sabar menghadapi musuh, yang senantiasa berpatroli untuk menjaga hak milik Islam dan memelihara kehormatan adalah termasuk Thaifah Manshuroh.

Ahli sunnah yang bangkit menghalau kemunkaran, menyeru kebaikan dan mengajak kepadanya, mereka adalah dari Thaifah Manshuroh. Tidak syak lagi bahwa yang sibuk dengan ilmu syariah, aqidah, fiqh, hadits, tafsir, belajar dan mengajar, da’wah dan menciptakan situasi konkret, mereka adalah golongan yang lebih utama dengan julukan Thaifah Manshuroh. Karena mereka paling vokal dengan da’wah, jihad, amar ma’ruf nahi munkar dan menolak ahli bid’ah. Semua itu hanya terintegrasikan dari ilmu yang benar yang dltimba dari wahyu samawi.

Setelah mengutarakan perkataan Imam Ahmad dan Imam Bukhari tentang Thaifah Manshuroh, Imam Nawawi berkata: “Berkata Qadhi lyadh: “Bahwasanya yang dimaksudkan Imam Ahmad dengan ahlus sunnah wal jama’ah dan orang yang beraqidahkan mazhab ahli hadits”, menurut saya (kata Imam Nawawi): “lni mengandung kemungkinan bahwa Thaifah ini terpencar-pencar di antara kaum mu’minin. Diantaranya ada yang mujahid pemberani, ada yang fuqoha, muhadditsun, zuhhad, memerintah yang ma’ruf dan melarang yang munkar, dan ada pula yang ahli dalam bidang lain dari kebaikan …” Al-Baidhawi berkata: “Thaifah ini adalah mujtahidun (para mujtahid) dalam hukum syara’ dan aqoid atau pasukan yang bertugas di garis dan para mujahidin yang berjuang meninggikan addien.”

Tidak diragukan lagi kalau Thaifah ini harus mempunyai wibawa, power, dan kekuatan kemiliteran sebagaimana yang pernah diutarakan oleh Imam Nawawi. Dan sesungguhnya keutamaan itu terletak pada sejauh mana pengetahuan seseorang tentang As-Sunnah dengan mengetahui mana yang shahih dan mana yang dhaif, sehingga dapat beramal dengannya. Maka para ulama yang punya dedikasi tentang sunnah dan menyaring mana yang shahih dan dhaif adalah sebagian dan Thaifah Manshuroh.

Sedangkan orang-orang yang mengamalkan sunnah dengan benar setelah disaring, baik jihad, da’wah ataupun melakukan yang fardhu kifayah di segala aspek kehidupan, mereka juga merupakan sebagaian dari Thaifah Manshuroh

 Tempat Dan Zaman Thaifah Manshuroh

 Kesulitan yang menyangkut zamannya (masa keberadaannya) dikarenakan teks hadits berbeda-beda dalam batasannya. Ada yang menyebutkan:

– “Senantiasa menampakkan diri sampai hari kiamat.”(hadits Jabir bin Abdillah).

– “…sampai qiamus sa’ah.” (hadits Jabir bin Samurah, Saad, Uqbah, Qurroh, dan Abu Hurairah).

– “..sampai datang putusan Allah.” (hadits Mughirah, Mu’awiyah, Tsauban, Abu Umamah, dan Abu Hurairah):

– “…sampai yang paling akhir memerangi Dajjal.” (hadits Imran, dan mursalnya Muhammad bin Kaab).

Kemungkinan memadukan semua riwayat ini tidak begitu sulit. Hari kiamat dan qiamus sa’ah artinya sama, karena setelah hari itu tidak ada taklif (kewajiban melaksanakan hukum) lagi.

Dalam Al-Qur’an, kiamat juga digunakan untuk qiyamus sa’ah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan menyangkut kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat …” (Ali Imran: 55).

“Dan di antara orang-orang yang mengatakan, sesungguhnya kami ini orang-orang nasrani, ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” (AI-Maaidah: 14).

Tentang orang Yahudi Allah Azza wa Jalla berfirman:

“…dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat…” (AI-Maaidah: 64).

“…dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan pada mereka azab yang seburuk~buruknya…” (AI-A’raf : 167).

Allah telah menjanjikan pada pengikut Isa as. dari ahli Islam, yang mengikuti fitrah, agama dan sunnahnya bahwa mereka senantiasa menang atas lawan-lawannya sampai hari kiamat, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Qotadah. Sepertinya ayat-ayat tersebut mendekati ciri-ciri Thaifah Manshuroh yang dijanjikan dengan kemenangan dan ketinggian sampai kiamat. Yang tetap muskil (sulit) dan justru menjadi permasalahan adalah penggabungan antara pernyataan qiyamus sa’ah dengan sampai datang urusan (putusan Allah).

Dari kalangan sahabat ada yang berpendapat bahwa Thaifah Manshuroh kekal sampai qiyamus sa’ah, dan mereka hidup sampai hari dunia yang terakhir, seperti pendapat Umar, Uqbah bin Amir, Abu Hurairah, Surahbil bin Samthi dan yang lainnya. Menurut pendapat para sahabat ini berarti putusan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah qiyamus sa’ah. Pendapat yang lain mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus pada akhir zaman — sebelum qiyamus sa’ah — hembusan angin segar dan sejuk yang mencabut ruh setiap mu’min dan mu’minah, maka tidak tersisa kecuali manusia-manusia jahat.

Dan atas merekalah terjadi kiamat. Inilah sesungguhnya pendapat yang benar, karena adanya hadits-hadits shahih yang menyatakan hal itu. Seperti hadits Abdullah bin Amr bin Ash. “Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali atas sejahat-jahat makhluk, mereka lebih jahat daripada orang-orang jahiliyah. Mereka tidak berdo’a pada Allah dengan sesuatupun, kecuali ditolak atas mereka.” ‘Allah mengutus angin yang (harumnya) seperti minyak misik, sentuhannya (lembut) seperti sentuhan sutera, maka ia tidak meninggalkan satu jiwa yang di hatinya ada seberat satu biji dari iman kecuali dicabutnya, kemudian tinggallah sejahat-jahat manusia, atas merekalah terjadi kiamat.” Dalam hadits Anas juga terdapat: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga di bumi ini tidak diucapkan lagi Allah, Allah.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Awanah, dan Ibnu Mandah).

Dan masih banyak lagi riwayat yang seirama. Jadi nyatalah sudah kalau Thaifah Manshuroh akan tetap ada sampai datangnya putusan Allah Azza wa Jalla, yaitu datangnya angin yang tidak meninggalkan satu jiwa yang di dalam hatinya ada keimanan, setelah itu hanya tinggal sejahat-jahat manusia di permukaan bumi, dan atas mereka itulah kiamat terjadi. Sepertinya ini merupakan rahmat bagi orang-orang mu’min dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala atas mereka, karena angin tersebut harum semerbak bagai kasturi dan halus sentuhannya sehalus sutera.

Imam Nawawi berkata, “Maka dalam hadits ini dimutlakkan eksistensi mereka sampai hari kiamat berdasarkan tanda-tandanya dan dekatnya jarak kedatangan hari kiamat dengan waktu yang sedekat-dekatnya.” Pendapat Imam Nawawi ini adalah pendapat mayoritas para imam dan para pensyarah kitab.

Ini lebih utama ketimbang penafsiran qiyamus sa’ah dengan “terjadinya saat kematian mereka”. Maksudnya, waktu kematian mereka karena hembusan angin. Adapun riwayat “sampai orang yang paling akhir memerangi Dajjal” atau “sampai turunnya Isa bin Maryam”, adalah sudah jelas. Di mana akhir dari Thaifah Manshuroh adalah bersamaan dengan Isa bin Maryam yang ada di Syam, sebagaimana hadits Jabir bin Abdillah yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la. Yang mana setelah menyebut Thaifah Manshuroh, Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Maka turunlah Isa bin Maryam as., lalu berkata amir mereka. ‘Kemarilah engkau wahai Nabiyullah, shalatlah dengan kami’, maka beliau menjawab, Tidak! Sesungguhnya sebahagian kalian adalah umaro (pemimpin) atas sebagian yang lain, sebagai penghormatan Allah atas umat ini.”

Orang-orang yang memerangi Dajjal akan bersama Isa bin Maryam as. setelah terbunuhnya Dajjal, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirim angin,sejuk, maka tidak tersisa setelah mereka kecuali sejahat-jahat manusia.

Adapun mengenai tempatnya, maka telah sampai pada kita mengkhususkan Syam dalam banyak hadits, di antaranya perkataan Malik bin Yukhomir dari Muadz. “Mereka di Syam.”

– Sabda Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Senantiasa ada segolongan umat di Damaskus yang menang ”

– Sabda Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Mereka bertempur di pintu-pintu Damaskus dan sekitarnya, dan pintu-pintu Baitul Maqdis dan sekitarnya.”

– Sabda Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Mereka ahli Syam.”

– Sabda Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Mereka di Baitul Maqdis, dan segala penjuru Baitul Maqdis.

– Sabda Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Jika rusak ahli Syam, maka tidak ada kebaikan dalam (diri) kalian.”

– Sabda Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Dan markas pertahanan (rumah mu’minin) adalah Syam”.

– Perkataan Imam Ahmad: “Ahli Maghribi adalah penduduk Syam.”

– Kata Ibnu Taimiyah: “Ya, seperti apa yang dikatakannya (Imam Ahmad).

Karena ini adalah bahasanya ahli Madinah pada waktu itu, mereka menamakan penduduk Nejed dan Irak “ahli masyrik” dan menamakan ahli Syam “ahli Maghribi”, karena penentuan arah barat dan timur adalah nisbi, setiap tempat pasti punya barat dan timur, dan Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika menamakan hal ini beliau berada di Madinah, maka apa yang ada di sebelah barat adalah baratnya, dan yang di sebelah timur adalah timurnya.”

Ibnu Taimiyah menambahkan segi lain untuk mendukung pendapat Imam Ahmad, yaitu sejumlah hadits yang menerangkan bahwa mereka adalah ahli Syam. Di lain pihak ada beberapa hadits yang menyebutkan bahwa, “Iman (Islam) itu akan kembali (berlindung) di antara dua masjid (Masjidil Haram dan Nabawi) dan akan kembali ke Madinah seperti seekor ular kembali (berlindung) ke kubangnya.„ dan sampai fadhilah-fadhilah lain untuk Madinah.”

Begitu juga terdapat riwayat yang meyakinkan bahwa Jazirah Arabiyah mempunyai keutamaan, diantaranya: “Sesungguhnya syaitan frustasi untuk mengharapkan orang-orang shalat, menyembahnya di Jazirah Arab.” (HR. Muslim). Dan yang lainnya “Perintah mengusir musyirikin daripadanya (Jazirah Arab).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Juga banyak hadits tentang keutamaan ahli Yaman, di antaranya sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau menghadapkan punggungnya pada Yaman dan berkata, “Sesungguhnya aku mendapatkan nafas rahmat di sini.” (riwayat Salamah),

Jawaban bahwa Thaifah Manshuroh berada di Syam, teringkas dalam dua point berikut ini:

Pertama: Hadits-hadits yang menunjukkan atas keberlangsungan munculnya ahli Syam, khususnya hadits Sa’ad: “Ahli Maghrib akan selalu menang”, yaitu dengan memisalkan bahwa Maghrib adalah Syam. Maka dapat diterapkan di Syam apa yang dikatakan akan munculnya Thaifah Manshuroh, bahwa ini adalah kondisi yang umum dalam tarikh dan tidak bertentangan kalau muncul atas mereka bukan Thaifah Manshuroh dalam suatu perlode. Tidak diragukan lagi kalau cobaan atas ahli Syam dalam melindungi hak milik Islam dan mendirikan pemerintahan serta memerangi musuh-musuh Allah, adalah suatu yang nyata sejak berdirinya khilafah Bani Umayah, di mana bala-tentara Tartar dan pasukan saIib dipatahkan dan dihancurkan. InsyaAllah, ahli Syam punya peran dan kekuatan dalam menumbangkan musuh-musuh Islam yang berada di atas punggungnya, seperti Nushairiyah, Druz, Yahudi, dan Nashara. Sebagalmana dikatakan juga bahwa zhuhur adalah perkara nisbi, zhuhur dalam arti menang tidak harus di segala bidang, akan tetapi Thaifah Manshuroh lebih banyak muncul dan lebih tegas terhadap orang-orang yang kontra, dan bertekad memenangkan dien di daratan dunia Islam. Ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Jika rusak ahli Syam maka tidak ada kebaikan pada kalian.” Semua yang disebutkan di atas bukanlah kondisi khusus yang dialami oleh ahli Syam baik masa lalu, sekarang atau yang akan datang. Tetapi hendaknya dilihat kondisi umum dan kebanyakan, sambil menganalisa perputaran sejarah yang diterapkan oleh nash (dalil), di mana Thaifah Manshuroh berada di Syam bersama Imam Mahdi dan Isa as. yang akan memerangi Dajjal.

Karena itu Imam Ibnu Hajar berkata, “Yang dimaksud dengan mereka yang berada di Baitul Maqdis adalah orang yang dikepung oleh dajjal lalu turun Nabi Isa as. pada mereka untuk membunuh Dajjal, maka agama Islam akan menang dan jaya di zaman Nabi Isa as.

Kedua: Kebanyakan hadits tidak membatasi Thaifah Manshuroh di Syam. Ini menguatkan bahwa Thaifah Manshuroh tidak harus di satu negeri, akan tetapi makna yang lebih mendekati kebenaran bahwa Thaifah ini ada di negeri yang terpencar-pencar, terutama di negeri yang sudah disyaratkan, seperti: Jazirah Arab, Yaman, dan lainnya. Bahkan mungkin di semua daratan negeri Islam, seperti yang dikatakan Imam Nawawi: “Ini tidak berarti mereka harus berkumpul, tetapi bisa jadi terpencar-pencar di seluruh belahan bumi.”

Hadits-hadits yang membatasi keberadaan Thaifah Manshuroh di Syam hanya dimaksudkan pada periode sejarah tertentu, yaitu sebelum datangnya kiamat. Karena kebanyakan nash hadits yang berkaitan dengan Mahdi dan Nabi Isa as. serta tanda-tanda kiamat hanya berada di Syam.

Juga ada kemungkinan yang dimaksud dengan “mereka memerangi orang Romawi (?) – yang disebutkan dalam hadits — kemudian memerangi Dajjal sampai datang keputusan Allah dan mereka berada di Syam”, maka maksud perkataan mereka di Syam yaitu ketika datangnya keputusan Allah.

 Keterasingan Thaifah Manshuroh

Ulama mendefinisikan Thaifah dengan jama’ah yang mengelilingi sesuatu. Ibnu Faris berkata, “Orang Arab hampir membatasinya dengan bilangan tertentu, hanya saja’ fuqoha’ dan mufassirin berkata kadang empat orang ke atas, kadang satu orang dinamakan juga Thaifah, ada yang mengatakan tiga”, pendapat dikalangan mereka banyak sekali sebagaimana yang saya katakan tadi, dan bahwa setiap jama’ah yang mengelilingi sesuatu dinamakan Thaifah, ini hampir tidak ada kecuali dalam jumlah sedikit sekalipun.

Thaifah Manshuroh adalah jama’ah yang bersepakat atas kalimat haq dan terpenuhinya ciri-ciri khas yang telah kita uraikan di atas, baik dari perkara da’wah, jihad di jalan Allah dan memerangi – musuh Allah, sekalipun masing-masing mereka terpencar di berbagai negeri dan tidak saling kenal.

Thaifah ini hidup terpencar dan terasing dengan ajaran Islam yang dibawanya. Mereka hidup terasing seperti muslim kebanyakan di antara pemeluk agama dan aliran-aliran yang menyesatkan, karena mereka bagian dari kaum muslimin, maka terasingnya kaum muslimin juga berarti terasingnya mereka, sedikitnya kaum mukmin juga sedikitnya mereka, kelemahan kaum muslimin juga kelemahan mereka. Mereka terasing seperti halnya Firqah Najiyah, karena keduanya mempunyai kemiripan, yang satu adalah bagian dari yang lain, maka mereka hidup sebagai satu Firqah di antara tujuh puluh dua Firqah yang lain. Mereka hidup dalam keadaan seperti ini, itulah keterasingan khusus baginya, karena mereka giat mengusahakan jihad yang besar dan mewaqafkan hidupnya untuk meninggikan bendera Islam di segala medan ini adalah keterasingan yang hebat, karena sulit bagi seseorang untuk tetap pada jalur lurus dan sabar di atas kebenaran pada situasi dan kondisi yang dikuasai penuh oleh penyelewengan.

Apalagi kalau harus ditambah dengan tugas da’wah dan memberantas penyimpangan yang ada? Keterasingan mereka sebagai mujahidin yang ditolong oleh Allah Azza wa Jalla berbeda-beda dari zaman ke zaman, dan dari tempat yang satu dengan tempat yang lain. Hal ini karena adanya beberapa faktor:

  1. Batas kekuatan, kemampuan dan keberanian untuk menampakkan diri berbeda di setiap masa dan tempat.

Adakalanya mereka menjadi kuat dan besar hingga tampuk pemerintahan kembali tergenggam di tangan mereka, dan para ahli bid’ah berganti menjadi ghuroba’. Namun adakalanya mereka menjadi lemah dan tertindas hingga masing-masing anggotanya hidup sengsara. Faktor terpenting dari kekuatan yang dimilikinya, adalah adanya pemimpin dan komandan dari ulama, mufakkirin, mujahidin, atau dari orang-orang yang bisa menyelamatkan umat dengan ilmu, amal, dan kelincahan, sehingga berhasil memasyarakatkan sunnah di tangan manusia sampai sunnah menjadi terkenal dan tidak terasing.

  1. Batas kekuatan musuh dan lawan dari ahli bid’ah, aliran-aliran sesat dan isme-isme yang lain.

Ketika mereka yang duduk di atas tahta pemerintahan menindas Thaifah ini dengan segala bentuk peyiksaan bahkan sampai berusaha memaksa Thaifah ini murtad dari agama Allah Azza wa Jalla, baik dengan jalan membunuh, mengusir, dan menindas.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu atau memaksamu kembali kepada agama mereka. Dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (AI-Kahfi: 20).

Ketika kekuatan seimbang, maka pertentangan pun satu lawan satu, terkadang menang terkadang kalah, sekali menang sekali kalah, begitu seterusnya.

  1. Batas jauhnya manusia dari huda (petunjuk) dan sunnah serta kebodohan dan penyelewengan mereka.

Semakin bid’ah menjadi-jadi, semakin lebar pula koyakannya dan berlipat ganda derita keterasingan yang dirasakan oleh Thaifah Manshuroh. Tidak diragukan lagi kalau antara unsur-unsur ini ada keterkaitan yang besar. Kuatnya usaha Thaifah ini menjadi tonggak stabilitas umat dan kekuatan dalam menghancurkan pertahanan musuh, serta mendekatkan manusia kepada sunnah hingga hilanglah suasana keterasingan di antara mereka.

Secara umum, semakin jauh dari masa kenabian semakin hebat pula keterasingan, sebagaimana yang diriwayatkan Anas bahwasanya Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak datang atas kalian suatu zaman kecuali apa yang sesudahnya lebih buruk daripadanya, sampai kalian bertemu Tuhan kalian.” (HR. Bukhari, At-Turmudzi, Ad-Darimi, dan Ahmad).

Dan hari-hari keterasingan terhebat adalah pada akhir zaman, di kala Islam mulai pudar seperti pudarnya warna baju, sampai tak dikenal lagi apa itu puasa, shalat, dan apa pula itu haji. Seperti yang ada dalam hadits Hudzaifah ra.:

“Akan memudar Islam seperti memudarkannya warna baju, sampai tidak dikenal lagi apa puasa, apa shalat, apa haji, dan apa itu shadaqoh, serta akan dihapus kitab Allah dalam satu malam, maka tidak tersisa satu ayat pun daripadanya di muka bumi ini dan tetap ada beberapa golongan dari manusia, orang-orang tua dan lanjut usia berkata, “Kami mendapatkan bapak-bapak kami atas kalimat ini ‘Laailaahaillallah’, maka kami mengucapkannya. “Maka Shilah berkata kepadanya: ‘Apa gunanya bagi mereka dengan kalimat ‘Laailaahaillallah’, sedang mereka tidak tahu apa itu shalat, puasa, haji, dan sedekah (zakat)?” Maka Hudzaifah berpaling daripadanya, kemudian menghadap padanya pada kali yang ketiga dan berkata, “Ya Shilah! Kalimat itu menyelamatkan mereka dari neraka ” (HR. Ibnu Majah, Hakim, AI-Lalikai, Ibnu Mandah, Abu Amr Ad-Dani, Ibnu Ady, dan Ad-Darimi).

Kalau benar adanya Thaifah Manshuroh pada zaman itu, maka dia berada pada periode yang paling hebat keterasirngannya. Hal ini mengandung kemungkinan bahwa hadits Hudzaifah berlaku sesudah berhembusnya angin segar dan pencabutan arwah mu’minin. Berdasarkan hal ini apa yang terdapat dalam hati kaum yang mengucapkan “Laailaahaillallah” pada saat itu, nilai keimananya lebih ringan dari biji sawi. Sehingga angin tidak mencabut arwah mereka, karena ia (angin) hanya mencabut ruhnya orang yang di hatinya masih tersimpan nilai keimanan seberat biji sawi.

Sebagaimana diceritakan dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ash. Kaum yang tertinggal itu — secara mujmal — masuk dalam hadits syafaat, di antaranya sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam riwayat Anas bin Malik. “Maka aku minta izin pada Rabbku, lalu Dia memberiku izin, dan mengilhami aku mahamid (puji-pujian) yang aku memuji-Nya dengannya suatu pujian yang belum pernah diajarkan kepadaku sekarang ini, maka aku memuji-Nya dengan pujian-pujian itu serta tunduk sujud kepada-Nya, lalu dikatakan: “Ya Muhammad, angkat kepalamu dan katakan! Maka didengar untukmu, mintalah! Kau akan diberi, mintalah syafaat! kau akan disyafaati”. Maka aku katakan, “Ya Rab, umatku”. Maka dikatakan, “Berangkatlah, keluarkan dari padanya (neraka) orang yang dihatinya ada seberat biji gandum dari iman”. Maka aku berangkat dan aku kerjakan. Kemudian aku kembali, aku memuji-Nya dengan mahamid itu, kemudian tunduk sujud kepada-Nya, maka dikatakan “Ya Muhammad, angkat kepalamu dan katakanlah! Didengar untukmu, mintalah! Kau akan diberi, dan mintalah syafaat! Kau akan di beri syafaat”. Maka aku berkata, “Ya Rab, umatku… umatku” Lalu dikatakan “Berangkatlah dan keluarkan dari neraka orang yang di hatinya terdapat seberat biji sawi dari iman”. Maka aku berangkat dan aku laksanakan. Kemudian aku kembali, aku memujinya dengan mahamid tersebut, kemudian aku tunduk sujud kepada-Nya, maka dikatakan “Ya Muhammad, angkat kepalamu dan katakan! Akan didengar untukmu, mintalah! Kau akan diberi, dan mintalah syafaat! Kau akan diberi syafaat”. Maka aku katakan, “Ya Rab, umatku… umatku”. Maka Dia berfirman: “Berangkatlah dan keluarkan daripadanya (neraka) orang yang di hatinya terdapat lebih ringan dari seberat sebuah biji sawi dari iman”. Maka aku keluarkan dari neraka, aku berangkat lalu aku kerjakan.

Kemudian aku kembali untuk ke empat kalinya, maka aku memujinya dengan mahamid itu lalu tunduk sujud kepada-Nya, maka dikatakan: “Ya Muhammad, angkat kepalamu dan katakan! Akan didengar untukmu, mintalah! Kau akan diberi. Mintalah syafaat! Kau akan disyafaati”. Maka aku katakan, “Ya Rab, berilah aku izin menolong orang yang mengucapkan ‘Laailaahaillallah’. Maka Dia berfirman: “Demi keperkasaan-Ku, demi Keagungan-Ku, demi Kebesaran-Ku, dari demi Kesombongan-Ku, pasti akan Aku keluarkan darinya orang yang mengucapkan ‘LaailaahailiaIlahu’…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kalau kita gabungkan ke empat hadits di atas, yakni hadits Hudzaifah, hadits Thaifah Manshuroh, hadits Anas (dan lainnya) tentang syafaat, dengan hadits Abdullah bin Amr bin Ash tentang pencabutan arwah mu’minin, maka akan memberi kejelasan bahwa setelah hembusan angin masih ada kaum yang di hatinya terdapat iman yang beratnya lebih ringan dari biji sawi; mereka mengucapkan “Laailaahaillallahu”, tetapi tidak tahu puasa, tidak tahu apa itu shalat, tidak tahu apa itu shadaqoh dan tidak tahu apa itu haji. Akan tetapi biar pun demikian kalimat “LaailaahaIllallah” akan menyelamatkan mereka, seperti yang dikatakan Hudzaifah ra,

Maka mereka akan keluar dari neraka dengan rahmat-Nya Arhamar Rahimin, yaitu melalui syafaatnya Sayidil Mursalin Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sekalipun mereka telah tinggal di neraka atas dosa yang dikerjakannya. Dengan ini mereka berbeda dari orang-orang yang dikatakan oleh Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada akhir hadits syafaah yang diriwayatkan Anas ra.: “Kemudian aku kembali untuk ke empat kalinya, maka aku katakan: ‘Tidak tersisa di neraka kecuali orang yang telah di nash oleh Al-Qur’an dan wajib kekal baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim),

Maka inilah penggabungan yang bisa menghilangkan pertentangan diantara hadits-hadits di atas. Wallahu a’lam.

Jadi jelas sudah bahwa Thaifah ini dari golongan orang yang tidak puas dengan kesalehan dirinya saja, bahkan mereka berusaha keras untuk memperbaiki manusia agar mengikuti sunnah. Maka ketika mereka memperjuangkan tugas mulia ini mereka menjadi ghuroba’.

Dalam hal ini AI-Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Dan mereka yang ghuroba’ itu terbagi dua: Pertama: Orang yang memperbaiki diri di waktu rusaknya manusia. Kedua: Orang yang memperbaiki apa yang dirusak manusia. Yang ini adalah paling tinggi dan paling afdhol dari yang pertama.

Ghurbah mereka bukan seperti ghurbahnya orang-orang sufi yang lari rnenuju khalwatnya (penyendirian) dan uzlahnya (pengasingan diri dari manusia) serta meninggalkan kehidupan untuk para thaghut yang merusak dan orang-orang kafir serta orang munafik.

Akan tetapi ghurbah mereka adalah ghurbahnya mujahidin yang mengetahui bahwa ghurbah atau keterasingan adalah kemuliaan bagi mereka dan keluhuran pangkat serta ketinggian derajat, maka mereka tidak merasa kesepian karena sedikitnya yang pro (pendukung) dan tidak peduli karena banyaknya penentang, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan dan orang yang menentang sampai “yaumiddien“. Jika Allah bersama mereka, apa pula yang tidak mereka dapatkan, dan apa pula yang mereka takutkan?.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s